BERANTAS KORUPSI !!!! LAWAN KORUPSI !!!! BUMIHANGUSKAN KORUPSI !!!!
Desember 8, 2009Aksi 9 Desember adalah Aksi Koruptor, Kecewa, dan Sakit
Desember 8, 2009Tiga Kelompok Bermain dalam Aksi 9 Desember
TEMPO Interaktif, Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok menyatakan, aksi antikorupsi 9 Desember adalah gerakan idealis yang tercemar oleh kepentingan-kepentingan politik. Dia menyebut aksi itu adalah gabungan dari tiga kelompok dalam masyarakat.
“Mereka adalah para koruptor, kelompok kecewa, serta idealis,” kata Mubarok saat dihubungi Tempo, Senin (7/12) malam. Gerakan moral seperti yang didengung-dengungkan kelompok idealis, lanjut dia, bakal kalah oleh kepentingan kotor dua kelompok lainnya.
Mubarok juga menilai dukungan kelompok-kelompok besar keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah juga tidak bakal mampu mengawal aksi hanya sekadar gerakan moral. Pasalnya, kata dia, orang-orang idealis di tubuh kelompok keagamaan juga sangat sedikit. “Sejarah selalu mengatakan kelompok idealis jumlahnya sedikit dan selalu gagal,” kata Mubarok.
Karena itu dia berpendapat, kelompok yang bakal diuntungkan dalam aksi 9 Desember adalah para koruptor dan kelompok kecewa. “Mereka adalah tokoh-tokoh sakit yang merasa penting,” ujar Mubarok.
Mubarok menjelaskan, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait motif politik aksi 9 Desember itu didasarkan atas laporan intelijen yang akurat. Mubarok yakin, aksi tidak sampai menggoyang atau mendongkel pemerintahan Yudhoyono.
Menurut Mubarok, yang diharapkan dari lontaran Yudhoyono itu adalah supaya volume massa aksi berkurang.
“Tidak bakal menggoyang pemerintahan, cuma diharapkan bisa mengurangi volume,” kata dia. Kurangnya volume itu bisa terjadi karena tokoh-tokoh sakit itu pada akhirnya mengetahui bahwa tindakan mereka diketahui pemerintah.
Mubarok enggan memastikan apakah pertemuan Dharmawangsa yang dijadikan sumber intelijen Yudhoyono. “Saya tidak punya akses ke situ,” tukas dia.
Bantahan sejumlah tokoh yang disebut-sebut hadir dalam pertemuan Dharmawangsa hanya ditanggapi dingin. “Mana ada pertemuan dilakukan terus-terang, semua sembunyi-sembunyi,” ketusnya.
Terkait kemungkinan yang dimaksud Yudhoyono adalah Amien Rais, Mubarok mengatakan keyakinannya bukan dia. “Saya kira bukan. Amien Rais begitu-begitu saja. Dia tidak punya agenda, cuma kalau ngomong memang spontan,” kata Mubarok.
Begitu pula ketika ditanyakan apakah ada keterlibatan Hatta Rajasa dalam aksi 9 Desember, Mubarok tegas membantahnya. “Tidak ada argumen buat dia,” ujarnya. Kata Mubarok, kemungkinan itu sangat kecil mengingat Hatta adalah justru orang yang menyokong pemerintahan Yudhoyono.
Di luar itu, Mubarok benar-benar tutup mulut tentang tokoh-tokoh yang dimaksud Yudhoyono. “Nanti saya dilaporkan atas tuduhan mencemarkan nama baik,” kata dia.
AMIRULLAH
sumber: TEMPOINTERAKTIF
Maju Terus Bu Prita, Keadilan Menanti Anda (Sumpah HiPOKRATES)
Desember 8, 2009Sebenarnya sudah beberapa hari kemarin mau nulis ini, tapi pemberitaan 9 desember lumayan buat jadi perhatian, sekedar sebentuk kepedulian dari salah satu rakyat Indonesia melihat bangsa dan negara.
Mulai nulis ya…..
Teman yang bekerja di bidang kesehatan bercerita; terkadang ada pasien dan keluarga pasien tidak paham dengan kondisi orang yang bekerja di kesehatan, terutama perawat dan dokter di rumah sakit yang seolah terkesan seenaknya dalam menangani pasien. Apalagi kalau pasien operasi berat dan gawat, eh… antar perawat dan atau dokternya malah berkelakar dan bercanda sebelum ritual pembedahan, padahal si pasien sangat ketakutan, juga keluarga pasien sangat berkhawatir dan cemas. Keterlaluan kan, mbok ya ikutan empati ikutan bersedih gitu, kok malah ketawa-ketawa.
Penjelasan temen saya, bahwa sebenarnya mereka juga dag dig dug der. Nyawa dan kesehatan pasien tetap yang utama.

Kenapa kadang berkelakar dan bercanda? Itu untuk tujuan agar lupa kondisi batin tim pelaku ritual operasi, terutama kalau ada karyawan yang baru. Bukan karena tidak empati, tapi kalau ikut larut dalam kesedihan, lebih-lebih kalau masih juga deg-degan dan cemas berlebihan, wah wah wah… malah bisa tambah parah.
Kenapa dalam menangani pasien yang segawat apapun kelihatan biasa dan tidak gugup? Apakah tidak merasakan penderitaan pasien dan kesedihan keluarganya?
Jawab temen saya, kalau ikut-ikutan gugup bisa kacau. Biarpun keadaan gawat, ketenangan harus tetap dijaga. Lagian juga mereka menangani hal-hal seperti itu sudah setiap hari, bertahun-tahun pula. Jadi wajar kalau sudah biasa. Karena itu jangan marah-marah terutama sama perawat, udah gajinya kecil 500ribu sebulan untuk menghidupi istri dan 4 anaknya (tidak berlaku untuk yang gajinya gede), masih bonus diomel-omelin pasien lagi, he he he.
Lain cerita temen saya, lain juga dengan permasalahan Bu Prita. Dalam hal ini temen saya membela Bu Prita (karena dia tidak kerja di RS OMNI ya…)
Melihat kronologis permasalahan yang menimpa Bu Prita dari awal hingga sampai pengadilan, sebagai orang awam hukum saya hanya bisa ikut berbelasungkawa atas ketimpangan keadilan yang terjadi. Sama seperti melihat kasus semangka berbuah jeruji, mbok minah terpidana, atau juga kapuk senilai Rp 8000 yang sempat diproses pidana. Hukum berjalan formal kalau pelakunya rakyat kecil, tapi kalau sudah rakyat besar, hukum menjadi mursal.
Walaupun perlu juga kebijaksanaan melihat suatu kejadian, cicak belum tentu benar, buaya belum tentu salah. Bisa saja buaya yang duduk tenang dikilik-kilik kupingnya sama si cicak, ya wajar kalau marah (jangan dikaitkan dengan cicak vs buaya yang kemarin lho).
Tapi kalau dianalogikan dengan kecelakaan bus versus sepeda motor, walaupun bus-nya benar dan sepeda motornya salah, secara hukum si bus tetep juga salah. (Denger-denger begitu kalau kebanyakan orang pada cerita).
Apalagi dalam kasus Bu Prita, maaf ya kalau Bu Prita ini dianggap sepeda motor dan RS OMNI dianggap bus, kaitan dengan kecelakaan bus vs sepeda motor, ya secara hukum tetap bus-nya yang salah, walaupun seumpamanya bus-nya dalam posisi bener. Apalagi kalau bus-nya yang memang salah.(kok analoginya ngawur ya, tidak niru analoginya Pak Hendarman Supanji lho).
Karena itu membaca berita Ibu Prita mengajukan upaya kasasi (ke MA ya?), saya hanya bisa ikut mendukung moral lewat tulisan yang sederhana ini.
Kemudian Bu Prita mengajukan gugatan balik dengan nilai immateriil gugatan sebesar 1 Triliun , sungguh nilai yang kecil untuk kehormatan penegakan hukum dan keadilan. Apalagi dibanding bagaimana RS OMNI pernah menuntut Ibu Prita sebesar 300 Milyar, sungguh perbandingan tuntutan ganti rugi yang belum imbang.

Dulu duluuuuuu sekali, sampai-sampai pernah mendengar ungkapan-ungkapan menyingkat KUHP dengan Kasih Uang Habis Perkara, mungkin saking keselnya hati memperjuangkan hak atau dilanggar hak-nya dalam proses hukum terus memberi singkatan sadis seperti itu. Tapi sekarang di era keterbukaan ini, dimana pers juga sangat berjasa sehingga masyarakat yang buta hukum dan buta keadilan dapat mengerti segala hal tentang hukum. Harusnya hukum juga sudah saatnya kembali pada singkatan HUKUM yaitu Harus Utamakan Keadilan Untuk Masyarakat.
Demikian juga dengan Bu Prita, maju terus pantang mundur.. Apabila pun jika nanti di MA tetap kalah, kalau nggak salah masih ada upaya lagi ya, PK apa ya namanya? Pasti akan bertemu dengan keadilan. Jikapun tetap belum bertemu juga, keadilan akhirat yang akan berbicara. Sebagai orang yang beribadah, harus yakin dengan itu.
Iya ini bagus : Prita Tolak Berdamai dengan Rumah Sakit Omni. Minta maaf berarti pengakuan bersalah. Walaupun menurut RS Omni: Prita Minta Maaf Kasus Selesai, Bukan Soal Uang.
Sebenarnya sekarang Ibu Prita sudah mendapatkan keadilan, yang berupa “keadilan rakyat”, walaupun sekedar berbentuk koin, itu sudah merupakan hal yang sangat luar biasa. Tenang saja bu, masih banyak yang mendukung baik itu berupa dukungan jalanan dari para demonstran yang marah dengan ketidak-adilan, bahkan juga dukungan adanya pemberitaan internasional di New York Times.
. Karena itu tidak usah lagi bersedih atau kecewa seperti waktu dulu menghadapi tuntutan.
Ibu Prita tidak sendiri, selain dukungan-dukungan dari segenap pihak, ibu juga didukung bahwa bukan ibu sendiri yang pernah digugat RS OMNI. Rumah Sakit Omni Medical Center, Pulomas, Jakarta Timur, juga menggugat perdata keluarga almarhum Abdullah Anggawie, pasien rumah sakit tersebut, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Waduh, udah dulu ya…., nggak berani nulis banyak-banyak…. Takut digugat.
Btw, sekarang sedang jamannya bertebaran sumpah, tapi boleh juga mengingatkan isi sumpah hippokrates:
Sumpah Hippocrates.
Sumpah Hippokrates adalah sumpah yang secara tradisional dilakukan oleh para dokter tentang etika yang harus mereka lakukan dalam melakukan praktek profesinya
(Lafal Asli, diterjemahkan dari bahasa Yunani.)
I swear by Apollo Physician and Asclepius and Hygieia and Panaceia and all the gods and goddesses, making them my witnesses, that I fulfil according to my ability and judgement this oath and this covenant.
Saya bersumpah demi (Tuhan) … bahwa saya akan memenuhi sesuai dengan kemampuan saya dan penilaian saya guna memenuhi sumpah dan perjanjian ini.
To hold him who has taught me this art as equal to my parents and to live my life in partnership with him, and if he is in need of money to give him a share of mine, and to regard his offspring as equal to my brothers in male lineage and to teach them this art-if they desire to learn it-without fee and covenant; to give a share of precepts and oral instruction and all the other learning of my sons and to the sons of him who instructed me and to pupils who have signed the covenant and have taken an oath according to medical law, but to no one else.
Memperlakukan guru yang mengajarkan ilmu (kedokteran) ini kepada saya seperti orangtua saya sendiri dan menjalankan hidup ini bermitra dengannya, dan apabila ia membutuhkan uang, saya akan memberikan, dan menganggap keturunannya seperti saudara saya sendiri dan akan mengajarkan kepada mereka ilmu ini bila mereka berkehendak, tanpa biaya atau perjanjian, memberikan persepsi dan instruksi saya dalam pembelajaran kepada anak saya dan anak guru saya, dan murid-murid yang sudah membuat perjanjian dan mengucapkan sumpah ini sesuai dengan hukum kedokteran, dan tidak kepada orang lain.
I will use treatment to help the sick according to my ability and judgment, but never with a view to injury and wrongdoing. neither will I administer a poison to anybody when asked to do so, not will I suggest such a course.
Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak akan pernah untuk mencelakai atau berbuat salah dengan sengaja. Tidak akan saya memberikan racun kepada siapa pun bila diminta dan juga tak akan saya sarankan hal seperti itu.
Similarly I will not give to a woman a pessary to cause an abortion. But I will keep pure and holy both my life and my art. I will not use the knife, not even, verily, on sufferers from stone, but I will give place to such as are craftsmen therein.
Juga saya tidak akan memberikan wanita alat untuk menggugurkan kandungannya, dan saya akan memegang teguh kemurnian dan kesucian hidup saya maupun ilmu saya. Saya tak akan menggunakan pisau, bahkan alat yang berasal dr batu pada penderita(untuk percobaan), akan tetapi saya akan menyerahkan kepada ahlinya.
Into whatsoever houses I enter, I will enter to help the sick, and I will abstain from all intentional wrongdoing and harm, especially from abusing the bodies of man or woman, slave or free.
Ke dalam rumah siapa pun yang saya masuki, saya akan masuk untuk menolong yang sakit dan saya tidak akan berbuat suatu kesalahan dengan sengaja dan merugikannya, terutama menyalahgunakan tubuh laki-laki atau perempuan, budak atau bukan budak.
And whatsoever I shall see or hear in the course of my profession, as well as outside my profession in my intercourse with men, if it be what should not be published abroad, I will never divulge, holding such things to be holy secrets.
Dan apa pun yang saya lihat dan dengar dalam proses profesi saya, ataupun di luar profesi saya dalam hubungan saya dengan masyarakat, apabila tidak diperkenankan untuk dipublikasikan, maka saya tak akan membuka rahasia, dan akan menjaganya seperti rahasia yang suci.
Now if I carry out this oath, and break it not, may I gain for ever reputation among all men for my life and for my art; but if I transgress it and forswear myself, may the opposite befall me.
Apabila saya menjalankan sumpah ini, dan tidak melanggarnya, semoga saya bertambah reputasi dimasyarakat untuk hidup dan ilmu saya, akan tetapi bila saya melanggarnya, semoga yang berlawanan yang terjadi.
(WIKIPEDIA)
Hendropriyono meyakini kebenaran informasi yang diterima Presiden
Desember 7, 2009Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn) Hendropriyono meyakini kebenaran informasi yang diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal akan adanya aksi gerakan sosial pada 9 Desember 2009.
”Kalau intelijen menyampaikan itu, maka berarti itu informasi yang benar. Saya melihat bahwa teorinya demikian. Kecuali kalau informasi itu belum berupa intelijen, tentu belum benar,” ujarnya seusai peluncuran buku Indonesia Bertawaf: Teroris Malaysia Dalam Kupasan di Essence Residence, Jakarta, Sabtu (5/12).
Meski demikian, Hendro mengaku tidak dapat memastikan kebenaran informasi tersebut. Pasalnya, dia tidak lagi memperoleh informasi seputar dunia intelijen setelah melepas jabatannya sebagai Kepala BIN.
Hendro juga mengatakan pernyataan Presiden soal aksi ini adalah wajar. Sebab, menurutnya, BIN hanya menyerahkan informasi yang diperoleh kepada klien, yaitu Presiden. Kemudian untuk penggunaannya, hal itu diserahkan sepenuhnya kepada Presiden.
”Saya kira penggunaannya terserah user, dan infomasi yang benar dari intelijen hanya untuk user sendiri. Sebetulnya itu untuk beliau sendiri. Apa yang disampaikan oleh Presiden, tentu itu apresiasinya dia,” katanya.
Sementara itu, di acara yang sama, Marsekal Muda TNI (Purn) Prayitno Ramelan mengatakan bahwa langkah Presiden menyatakan ada gerakan sosial saat peringatan Hari Antikorupsi Internasional pada 9 Desember 2009 sebagai tindakan untuk mencegah agar aksi tidak ditunggangi gerakan dengan motif tertentu.
Dengan demikian, pernyataan Presiden tersebut merupakan ”peringatan” kepada pihak-pihak yang ingin menunggangi gerakan antikorupsi tersebut. ”Menurut saya, itu tindakan counter,” kata Prayitno.
Seperti diberitakan, pada Jumat (4/12), Presiden SBY mengatakan bahwa ia telah menerima informasi mengenai sejumlah gerakan sosial antikorupsi. Namun, dia khawatir gerakan ini dimanfaatkan dengan motif tertentu.
”Motifnya lain, tidak dalam rangka pemberantasan korupsi. Ada muncul satu tokoh yang lima tahun terakhir ini tiba-tiba muncul, ya selamat datang,” kata Presiden.
Sementara itu, aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak), Fadjroel Rachman, mengatakan bahwa Presiden SBY sebaiknya tidak terlalu paranoid dan mengeluarkan ancaman terbuka kepada publik terkait Gerakan Anti Korupsi 9 Desember 2009.
”Kompak bersama tokoh-tokoh agama dan nasional hanya mengampanyekan agar Indonesia bebas dari korupsi. Jadi, siapa pun yang antikorupsi silakan bergabung di Monas dan HI pukul 12.00-15.00,” ujar Fadjroel.
Menurut Fajdroel, slogan Kompak selalu terang benderang, “Kalau Bersih, Kenapa Risih?”. (Kompas.com/yog)
sumber: WARTA KOTA
baca juga:
Kumpulan Pernyataan Tokoh dan Pakar Sekitar Aksi GIB 9 Desember Memperingati Hari Korupsi Sedunia-1
Kumpulan Pernyataan Tokoh dan Pakar Sekitar Aksi GIB 9 Desember Memperingati Hari Korupsi Sedunia
Desember 7, 2009Dr. Yudi Latief, MA:
“Reaksi Presiden itu menjadi iklan gratis bagi kami, karena tidak benar bila kami ditunggangi, sebab kami hanya gerakan moral yang fokus kepada pemberantasan korupsi”
“Yang jelas, kami akan mengawal kasus itu, karena itu kami siap turun ke jalan pada peringatan Hari Antikorupsi Dunia pada 9 Desember 2009 dengan 10.000-an orang dari aktivis 1998, NU, Muhammadiyah, kelompok Cipayung, dan elemen lainnya,” (KOMPAS)
Syamsuddin Haris :
“Mestinya aksi 9 Desember tersebut direspons dengan positif oleh Presiden. Itu kan dukungan langsung kepada SBY yang katanya komitmen terhadap pemberantasan korupsi,” (DETIK)
Menkopolhukam Djoko Suyanto :
“Bukan kekhawatiran. Membangkitkan awareness sama-sama, kewaspadaan sama-sama,”
“Kalau pengerahan massa hindari kekerasan satu sama lain. Polisi juga mengamankan supaya menghindari jatuhnya pertengkaran satu sama lain,” (DETIK)
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Boy Rafli Amar :
“Polda Metro akan memperketat arus yang kemungkinan akan dilalui massa,”
“Baru diketahui dari pemberitahuan kelompok massa yang akan melakukan unjuk rasa. Diharapkan masuk hari Senin atau Selasa,” (DETIK)
Din Syamsuddin :
“Maka pada Hari Anti-Korupsi Sedunia 9 Desember adalah momentum baik bagi rakyat untuk menunjukkan komitmen memberantas bahaya laten korupsi,”
“Bagi yang antikorupsi mari datang, bagi yang pro korupsi jangan menghalang-halangi,” (ANTARA)
“Setiap dan semua warga negara yang antikorupsi tentu akan mendukung aksi itu,”
“Jadi, kalau ada yang curiga justru patut dicurigai tidak sungguh-sungguh bersikap anti korupsi,” (VIVANEWS)
“Skandal ini membawa risiko tinggi yang bersifat sistemik dan organik dalam kehidupan bangsa, jika tidak dituntaskan akan membawa bangsa kepada kehancuran,” (MEDIAINDONESIA)
“Sebagai bentuk komitmen kita untuk pembersihan kehidupan berbangsa dari korupsi, marilah beramai-ramai kerahkan massa untuk mengikuti aksi damai Gerakan Indonesia Bersih (GIB) dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi se-Dunia,”
mengharapkan agar peserta aksi berpakian putih dengan membawa spanduk dan bendera masing-masing. Aksi akan dipusatkan di Silang Monas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, sekitar pukul 12.30 WIB. (RAKYATMERDEKA)
Syafii Ma’arif :
Menurut Syafii, aksi peringatan hari antikorupsi sedunia pada 9 Desember itu tidak memiliki motif lain, apalagi pemakzulan alias pelengseran Presiden.
“Ndak lah Kita belum ke arah sana (pemakzulan). Saya rasa belum ada keinginan untuk menjatuhkan siapa-siapa,”
..masyarakat harus mengikuti jalur konstitusi. (VIVANEWS)
“Jangan mencurigai dulu, itu bukan menjurus untuk menjatuhkan pemerintah, tapi justru mendukung pemerintah agar lebih giat dalam mendukung pemberantasan korupsi,”
“Nggak usahlah panik, kalau menjurus ke yang buruk kan kita punya aparat,” (vibisdaily)
“Saya rasa itu akan damai, tugas kita justru untuk menjaga agar jangan sampai terjadi kekerasan,” (vibisdaily)
Fadjroel Rachman
“SBY kok paranoid sekali. Ini ancaman halus kepada publik untuk tidak ikut aksi pada 9 Desember nanti,”
“Tokoh agama, nasional, dan antikorupsi akan hadir. Siapa pun yang antikorupsi harus hadir. Termasuk SBY kalau mau hadir silakan,” (SIB)
“Dokumen pertemuan Dharmawangsa yang dijadikan dasar tuduhan SBY bahwa gerakan 9 Desember atau Hari Anti Korupsi se-Dunia untuk menggulingkan Pemerintahan SBY adalah dokumen fiktif, dokumen rekayasa yang sangat jahat dan irasional. Saya dan kawan-kawan Kompak tidak pernah melakukan pertemuan itu,” (RAKYATMERDEKA)
“SBY harus meminta maaf secara terbuka kepada publik antikorupsi, karena menuduh gerakan 9 Desember ditunggangi dan berniat makar terhadap pemerintah SBY,”
“Jadi tuduhan SBY tentang penunggangan dan makar itu inkonstitusional, paranoid, dan penuh nada ancaman,” (vibisdaily)
Kepala BIN Sutanto :
“Hari antikorupsi kok rusuh. Tidak akan lah. Harus kita jaga agar tidak seperti itu,”
“Peringatan Hari Antikorupsi kan komitmen kita bersama,” (SIB)
Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri :
“Insya Allah, insya Allah,” (SIB)
Hariman Siregar :
“Itu justru membakar situasi. Pernyataan yang dilontarkan itu bisa ditangkap sebagai intimidasi, atau ketakutan. Pernyataan itu tidak taktis,”
“Cukup dibicarakan di komunitas intelijen. Tapi tidak tahu juga beliau ada strategi apa melontarkan ke masyarakat,”
“Pastinya itu bukan saya. Dan soal aksi, itu pasti ada tapi nggak akan besar,” (SIB)
Prof Dr Sofyan Effendi :
“Kalau Presiden ngomong gitu, itu membuat rakyat takut. Seharusnya Presiden kalau data tidak ada fakta jangan menakut-nakuti rakyat,”
“Sudah banyak SMS beredar seperti itu. Katanya ada pembunuhan politik dan sebagainya. Selayaknya SBY tidak membicarakan itu karena dengan berbicara itu berarti membenarkan isi SMS itu,”
“Ya kalau pun isu itu ditengarai benar, jangan Presiden yang berbicara. Tapi ini kan baru rumor, ngapain Presiden yang ngomong,”
“Saya pernah tanya kepada orang yang tahu proses seperti itu dan informasinya tidak akan sampai pada kerusuhan besar-besaran. Bangsa ini sudah cukup menderita. Lebih baik selesaikan saja perkara yang sudah jelas seperti kasus Anggodo Widjojo dan Century,” (SIB)
Boni Hargens :
“Ada makna ganda dalam pidato Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono), pertama mengesankan ingin mempertahan kan kekuasaan dengan bersikap awas terhadap aksi massa, dan itu sah-sah saja. Tapi kedua yang harus diwaspadai adalah nilai privokatif Presiden yang seakan-akan menjebak masyarakat untuk berpikir gerakan ini berbahaya untuk diikuti,”
“Jangan sampai gerakan sipil ini berada dalam titik off side artinya laju gerakan ini cepat, tetapi tanpa strategi yang akhirnya dikalahkan oleh antitesis gerakan dengan stigma prvokatif poltik kekuasaan,”
“Presiden harusnya tidak perlu sereaktif dan sedefensif itu. sikap-skap Presiden tersebut hanya akan menguatkan rumor bahwa Presiden memang terlibat,” (MEDIAINDONESIA)
Ton Abdillah :
“Ada isu-isu yang beredar di kampung-kampung kalau akan datang mahasiswa ke kampung kampung yang akan memprovokasi masyarakat, dan yang terlihat jelas ya munculnya gerakan-gerakan tandingan,” (MEDIAINDONESIA)
Anas Urbaningrum :
“Berpikir Preventif jauh lebih baik. Bukan pada tempatnya saat ini melakukan upaya menjatuhkan pemerintah yang secara implisit pemerintahan ini legitimate. Bagi yang ingin menjadi presiden tunggu pemilu berikutnya,” (RAKYATMERDEKA)
Arbi Sanit :
“Masyarakat ‘diancam’ akan ada keributan, ada infiltrasi dalam aksi,” (Jakartapress)
Indra J Piliang :
“Pernyataan SBY itu sangat tidak wajar. Tidak berdasar data dan fakta. Mungkin SBY tidak memakai tim khusus sehingga dalam pernyataannya merugikan diri sendiri. Kalau dia bilang ada gerakan politik, justru pernyataannya yang sangat politis. Seorang presiden itu harus hemat kata namun kaya dengan data,” (RAKYATMERDEKA)
Jurubicara HTI, Ismail Yusanto :
“Kalau Pak SBY yakin tidak salah dan memberi talangan pada Bank Century itu wajar serta tidak melanggar hukum, kenapa harus takut. Jika Pak SBY merasa benar, maka tidak ada satu gerakan apapun yang perlu dikhawatirkan. Ini kan, dia khawatir. Kalau khawatir berarti ada yang salah dari Century,”
“Siapa suruh jadi presiden. Kalau dia mau jadi presiden yang harus memenuhi harapan rakyat. Seorang pemimpin itu harus menyelesaikan masalah dengan jernih. Bukan kemudian menumpahkan masalah pada rakyat. Justru rakyat itu butuh pengayoman secara prkatis dan psikolgis. Bukan dijadikan tempat mengeluh,” (RAKYATMERDEKA)
deklarator ICC Mashinton Pasaribu :
Bila sesuatu yang tidak baik terjadi dalam aksi massa yang digelar besar-besaran pada 9 Desember, maka Presiden SBY yang paling layak diminta tanggungjawabnya.
“SBY lah yang layak diminta pertanggungjawaban karena sejak awal sudah melakukan ancaman. Sebetulnya, tidak perlu dikuatirkan berlebihan,”
“Ini SBY kehilangan akal sehat dan dia tidak mampu menganalisa perkembangan di masyarakat ini. Makin tidak responsif. Harusnya pemerintah juga menekankan jajarannya untuk tidak terlibat korupsi. Sudah makin kehilangan akal sehat. Dia melihat kucing seperti melihat harimau.. (RAKYATMERDEKA)
Budiman Sudjatmiko :
“Ini terulang saat presiden mengungkap rencana aksi 9 Desember. Harusnya laporan intelijen semacam ini tak perlu dipublikasikan,”
“Kalau tidak, ini akan terulang terus. Efeknya, rakyat malah takut,”
“Biar dibilang orang yang aksi pada tanggal itu pengacau,”
aksi 9 Desember jelas tak bermaksud apa-apa, hanya ingin agar pemerintah kian intensif memberantas korupsi. Hal itu sejalan dengan program pemerintah. (DETIK)
“SBY harus menarik pernyataannya dan tidak akan mengulangi lagi,”
“Ini seperti ada ayam berkokok di pekarangan rumah kok dianggap makar,”
“SBY ingin menyatakan bahwa orang yang berkumpul pada 9 Desember adalah subversi,” (TEMPOINTERAKTIF)
Marsekal Muda TNI (Purn) Prayitno Ramelan :
“Menurut saya, itu tindakan counter,”
“Tolong jangan underestimate Presiden. Beliau ada Demokrat, militer dan teknokrat. Ini yang kelihatannya jadi lambat. Demokrasi ini memang pelan,” (KOMPAS)
Fajdroel Rachman :
“Presiden SBY kami undang. Kalau mau gabung, gabung saja, tidak usah menuding aksi ini ditunggangi,”
Fadjroel mengatakan sedikitnya 40 lembaga dan organisasi masyarakat akan turun ke jalan hari itu, antara lain Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Kompak, dan Himpunan Mahasiswa Islam. “Kompak saja ada 26 lembaga di dalamnya,”
“Ini bukan gerakan orang-orang yang kalah pilpres,” (TEMPOINTERAKTIF)
Ikrar Nusa Bhakti :
Gerakan antikorupsi, kata dia, pastilah bermuatan politik. Namun gerakan itu tidak berarti dapat menurunkan presiden dari jabatannya. “Karena dalam sistem demokrasi tidak ada kekuatan inkonstitusional yang dapat menjatuhkan presiden yang telah dipilih rakyat,”
“Gaya yang dilakukan SBY ini seperti gaya Pak Harto (mantan presiden Soeharto), nakutin orang,” (TEMPOINTERAKTIF)
Tjahjo Kumolo :
meminta agar SBY dan jajaran pemerintahannya ikut turun jalan pada 9 Desember nanti untuk memperingati hari Antikorupsi se-Dunia. “Agar tidak selalu curiga dan curiga,” katanya. Seharusnya, kata Tjahjo, Presiden tidak perlu khawatir dengan aksi tersebut. (TEMPOINTERAKTIF)
Fauzi Bowo / Foke :
aksi demonstrasi memperingati hari antikorupsi sedunia pada 9 Desember merupakan hak warga. Namun Fauzi meminta agar demonstran bisa menahan diri dan tidak merusak fasilitas umum.
“Saya minta agar masing-masing bisa mengendalikan diri. Jangan sampai merusak milik publik,”
“Itu polisi yang memberikan izin dan mengurus keamanan,” (VIVANEWS)
Kepala Badan Intelijen Negara, Sutanto :
sejauh ini belum menemukan potensi kerusuhan dalam peringatan hari antikorupsi mendatang. Ia menepis kecurigaan presiden. “Nggak ada lah gitu-gitu,” (VIVANEWS)
Slogan KOMPAK :
“Kalau Bersih, Kenapa Risih?” (WARTAKOTA)
Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani :
”Cukup dekati elemen-elemen masyarakat. Tetap tenang, hal-hal begini mudah mudah diatasi kok,” (SOLOPOS)
Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin :
“Kita tidak mungkin menghalangi mereka untuk turun aksi. Tetapi jangan sampai merugikan kita semua. Kondisi kota yang sudah kondusif maupun mengganggu aktivitas investasi. Menjaga etika dan sopan santun yang sudah menjadi komitmen semua adik-adik mahasiswa,” (Tribun Timur)
___________________________________________________
Baca juga:
Hendropriyono Meyakini Kebenaran Informasi yang Diterima Presiden
PKS Bertemu Gerindra di Hotel Dharmawangsa

Ditulis oleh M. Arief B.
Ditulis oleh M. Arief B.
Ditulis oleh M. Arief B. 