Nagari Yogyakarta Hadiningrat ini dulu bahkan dihormati oleh penjajah Belanda dengan diberi keistimewaan… Itu pada masa kolonialisme, masa penjajahan lho ! Wong Londo wae ngregani, orang penjajah belanda saja menghargai je…!!!
Salah satu buktine wong Londo menghargai, lha kenapa kok Nagari Yogyakarta Hadiningrat tidak dimasukkan wilayah Karesidenan Kedu, atau digabungkan dengan Karesidenan Surakarta (?ada nggak ya?) ?? Kenapa kok diistimewakan sebagai satu wilayah yang istimewa, padahal luas wilayahnya kan cuma sak-uprit, sempit… Horotokonoh…!!!
Kalo masa jaman kerajaan-kerajaan, kayaknya daerah istimewa ini disebut dengan Tanah Perdikan. Suatu wilayah “penggabungan” yang bukan jajahan.. Suatu wilayah yang sebelumnya memang merdeka sebagai suatu pemerintahan sendiri, suatu kerajaan sendiri… Tanah Perdikan ini ya dihormati selayaknya sebagai wilayah atau wewengkon yang istimewa. Walaupun belum jamannya sok demokrasi, tetapi kerajaan yang mengku atau digabungi oleh Tanah Perdikan itu tidak cenderung untuk memaksakan kepala perdikannya…
Coba to dipikir dan dirasak-rasakke.. kalo menghargai sejarah, dan menghargai berdirinya Negara dan Bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan, harusnya juga menghargai sejarah yang istimewa-istimewa itu to !! Kenapa to kok istimewa..? Kenapa Pak Karno sebagai bapak bangsa, sebagai pendiri Bangsa dan Negara ini sampai-sampainya memberi juga “imbalan” keistimewaan untuk Negari Yogyakarta ini ? Imbalan karena mau bergabung dengan NKRI…! Apa kalau dulu nggak mau nggabung terus diperangi sama Tentara Indonesia.. walah blaik a ne…!, yo kalo gitu podho wae dijajah to ! Kalo dulu nggak nggabung apa ya pantes kalo disebut separatis.. Ya bukan separatis to ! Absah dan legal.. wong posisinya sama persis dengan negara bentukan PPKI ini kok… sama-sama punya hak untuk proklamasi.. Mbok ya dulu gimana kalo ndak usah diberi keistimewaan aja !? Kok ya tetep dikasih keistimewaan ?? Haniyooooh…!!! !! Kapokmu kapan…!!!
Sekarang memang sudah jamannya demokrasi, suara rakyat… lha tapi opo suara rakyat negari yogyakarta benar-benar suara rakyat asli ?? Rakyatnya aja juga multi etnis… Dari mana-mana.. Lha wong nyoblosnya juga tidak tahu sejarahnya kok ! Nyoblos mung waton nyoblos ! Lagipula yang namanya demokrasi itu yang penting tidak memaksakan kehendak.. Ya berarti jangan memaksakan kehendak sejarah. Sejarah menginginkan keistimewaan ini, dengan raja dan paku alam sebagai gubernur dan wakil gubernur.. Keistimewaannya ya cuma tinggal itu yang tersisa, lha wong pengaturan tanahnya sudah ngikuti UUPA…!
Kalau menyalahi kehendak sejarah, berarti ya menyalahi demokrasi, berarti ya menyalahi pembentukan negara kesatuan ini to… Berarti ya tidak menghargai pendiri-pendiri bangsa dan negara kesatuan… Piye to karepmu, dhong opo ora ? Opo ngejak rame ?? Nantang po piye ??
Demokrasi Amerika jangan diterapkan untuk men-demokrasi-kan Negari Demokrasi Yogyakarta ! Sejarahnya beda bangetz…… Masyarakat Negari Yogyakarta dulu bukan Suku Indian lho ! (keren-keren wong Indian ! hehehe…), Ngarso Dalem juga bukan Geronimo… yang terus demikian saja di-demokrasi-kan sama Amerika.. Ya jangan gitu, ojo ngono !! Lha kok terus mau disamakan.. Karepe Mbilung po !!
Jangan-jangan malah le mau men-demokrasi-kan Negari Yogyakarta karena ada kepentingan terselubung.. Hayo ! Ngaku wae !! Kepentingan apa ?! Rasah mbulet-mbulet !! Opo pancen ngejak suloyo !!
Sudah to ! Kembalikan pada kehendak sejarah. Rasah neko-neko.. Kalo macem-macem dan ribut terus malah nanti kelihatan belang-nya lho ! Tenan kuwi ! Bakal kuwalat ! Hehehehe…
Mbok yo uwis, letakkan pada porsinya, jangan memaksakan yang bukan porsinya.. Negari Yogyakarta Hadiningrat ini merupakan bagian istimewa dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.. Kembalikan keistimewaannya..
Dengan mengembalikan dan memperkokoh keistimewaan Negari Yogyakarta sebagai bagian Negara Demokrasi Indonesia, itu namanya menghargai juga ke-rendah-an hati seorang raja yang waktu itu berkuasa penuh menentukan ngalor ngidul e kerajaan..
Kerendahan hati seorang raja yang memikirkan rakyatnya untuk mau menjadi “bawahan” Negara Kesatuan Republik Indonesia.. Kerendahan hati yang didasari wawasan kebangsaan dan demi untuk kejayaan bersama.. Kejayaan negara, bangsa, dan masyarakat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Merdeka…..!!!!
Jaya-jayalah Indonesia…….!!!!
Orang penjajah memang banyak menempatkan para raja dan aristokrat dalam kedudukan2 istimewa karena utk menjaga kepentingan penjajah itu sendiri, yaitu a.l. utk menjaga jangan sampai terjadi kemarahan rakyat yg meluas (people power) di kalangan rakyat jelata. Salah satu bangsawan yg mampu meletuskan ‘people power’ adalah Kanjeng Pengeran Diponegoro, krn harga diri beliau memang diusik oleh Belanda.
Maaf. Sekedar menambah lagi.
Namun di samping itu dapat kita lihat pula banyak di Nusantara di masa yg lalu itu, raja2 dipreteli kekuasaan politis-nya oleh Belanda, namun utk ‘menenangkan’-nya (bhs Jawa-nya: utk ngerih-rih, nggo ilo2, cep2 menengo) raja2 itu diberi hak istimewa yg sesungguhnya semakin semnpit saja dari kekuasaan yg sebelumnya.
Paragraf I, II, III; dr tulisan mas Arief ini (mohon maaf) kurang berdasar riset konteks sejarah yg sebenarnya.
Yg kebanyakan sering disebut sbg Tanah Perdikan di masa lalu justru adalah wilayah tanah tertentu di suatu daerah yg masih dalam jangkauan pengaruh kekuasaan dari suatu kraton/kesultanan yg diberi hak oleh kraton/sultan utk tidak membayar pajak. Keistimewaan itu diberikan krn daerah/pemimpin daerah tsb telah dianggap berjasa thd kraton/kasultanan.
Oleh: Kang Nur on Agustus 29, 2008
at 7:30 pm
Wah, terima kasih maturnuwun banget masukannya yang sangat berharga, mudah2an artikel ini bisa jadi semacam pancingan yang menarik untuk sebuah tema diskusi..
Berarti Yogyakarta diberi keistimewaan oleh NKRI kan bukan dalam rangka “menenangkan” rakyat Jogja seperti kepentingan penjajah ya ? NKRI kan bukan penjajah. Bisa jadi mungkin juga karena jasa2 rakyat dan Raja Jogja untuk NKRI ? Wah, tapi kalau karena jasa, semua propinsi harusnya juga istimewa to? Mosok cuma Joga dan Aceh?
Mengenai tanah Perdikan, mungkin itu memang jadi salah satu sebabnya, yaitu karena jasa.. Mungkin lain kalau untuk Tanah Perdikan Dulangmas.
Oleh: ariefmas on Agustus 29, 2008
at 9:22 pm
Ya, bila kita mau bicara ttg sejarah perkembangan demokrasi di negara kita; tentu jangan sampai lepas dari alur kronologi gayung-bersambutnya sejarah perkembangan paham dan sistem politik-nya yg tidak dapat lepas juga dr perkembangan situasi-kondisi politik di Nusantara juga dunia yg mengiringinya. Kerangka2 berpikir dan istilah2 yg kita pakai perlu tepat sesuai dgn realita yg sudah pernah ada. Krn, tidak ada yg ceblok (=jatuh) dr langit atau muncul begitu saja dr batu.
Oleh: Kang Nur on Agustus 31, 2008
at 8:49 am
Sip…., Kang Nur….
Kita tunggu saja nanti bagaimana RUUK Keistimewaan Yogyakarta yang lagi digodog sama DPR.. Kalo saya sendiri asline cuma penonton pinggiran sing isane cuma “ndelok”, makane jadi yo kendel alok… Hehehe
Yang penting lagi, pesan tersiratnya, mbok yao pemerintah dan negara ini ngrumangsani, bahwa terbentuknya negara karena didukung bermacam-macam daerah dan suku bangsa.. Bukan pusat ansich..
Yogya hanya masalah kecil dibanding dengan bagaimana saudara2 sebangsa Indonesia kita yang di Papua, dll… Makanya kadang dipikir wajar kalau kemudian muncul OPM, dll yang berbau separatis.
Salam hangat selalu untuk Kang Nur
Oleh: ariefmas on September 3, 2008
at 8:03 am
RUUK sekarang buntu, pemerintah pusat ingkar,gak tepat waktu tuk memutuskan penetapa,nyesel kali yg milih kmarin hehehehe…..
Oleh: Tikno kariyo on Oktober 8, 2009
at 11:54 am
lam knal kang Nur……… matur nwun gih.
Oleh: Tikno kariyo on Oktober 8, 2009
at 11:55 am
metur nuwun sak derengipun…jogja tidak lepas dari kata istimewa karena dahulu bung karno juga takut kalau tau-tau jogja dimasukkan NKRI.krn sebelum indonesia lahir kerajaan mataram itu sudah ada.dan semoga tetap menjadi kota yang paling santun sopan dan aman…jogja surga pulau jawa (semua orang mengakui itu )
Oleh: arif jogja on Oktober 24, 2009
at 2:56 pm
I LOVE JOGJA…
Jogja buat saya adalah kota segalanya…dari sperma dan ovum orang jogja lah saya di lahirkan..maka dari itu kalau mati di tanah jogja saya merasa terhormat.semoga rakyat jogja mempunyai semangat seperti nenek moyang mereka yang setia kpd ngarsodalem hamengkubuwono
Ariefmas: setuju.. Lebih tepatnya pada keistimewaannya.
Oleh: arif jogja on Oktober 24, 2009
at 3:01 pm