ARIEFMAS's WEBLOG

Cukup peraturan-Nya saja yang mengikatku

Tragedi Laskar Jihad Kyai Selowatu

Tergopoh-gopoh seorang laki-laki setengah baya agak berlari menuju sebuah pondok pesantren di ujung desa. Cepat-cepat dia ingin segera bertemu dengan Kyai Selowatu, pimpinan dan pengasuh pondok pesantren. Saat memasuki pondok, terlihat Kyai Selowatu dalam ketuaannya masih tekun memberi pelajaran santri-santrinya. Laki-laki setengah baya itu termangu-mangu sejenak, namun kabar penting, gawat, dan mendesak harus segera disampaikan.
Segera dia uluk salam : “assalamu’alaikum…..!”
Kyai Selowatu dan santri-santrinya membalas salam : “waalaikum salam…”

Laki-laki setengah baya itu terdiam, di pelupuk matanya mengambang air mata. Sambil berdiri, tangannya berpegangan pinggiran pintu ruang belajar mengaji. Perlahan-lahan Kyai Selowatu menghampiri dan setengah berbisik bertanya :
“Ada apa Paman?”
“Katiwasan Kyai, bagaimana kalau di dalam saja aku beri tahu?”
Laki-laki setengah baya itu berkata dengan terbata-bata di sela tangisnya yang tertahan.
“Baiklah….. Hari ! kau teruskan alfiahnya..”. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah setelah Kyai Selowatu menyuruh salah satu santri seniornya untuk meneruskan mengajar.

”Innalillahi wa inna ilaihi roji’un….!!!Hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Kyai Selowatu. Walaupun Kyai Selowatu telah banyak mengalami pahit getir kehidupan yang melatihnya menguasai perasaan, namun kabar kematian orang yang disegani dan dianggap sebagai kakak cukup menggoncangkannya juga. Kabar kematian Kyai Ranu Sentiko, dan bisa dibayangkan bagaimana peristiwa sekitar kematian itu.

Pandangan Kyai Selowatu menerawang jauh ke depan. Masih terbayang bagaimana ketika bersama-sama berjuang mengusir penjajah. Juga masih terngiang kata-kata Kyai Ranu Sentiko belum lama berselang.

“Adi Selowatu, aku ini orang yang cinta tanah air, cinta tanah air lah yang mendorong gerakan ini. Gerakan suci menegakkan amanat Ilahi. Aku sangat tidak rela kalau tanah air tercinta ini tidak berlandaskan wahyu. Kalaupun di tanah air ini terjadi banyak bencana, itu hanya bencana-bencana kecil. Bencana yang paling besar dan paling dahsyat terjadi di tanah air ini ialah bencana tidak dipakainya wahyu sebagai dasar negara, mengingat negara adalah pemberian Ilahi lewat perjuangan para syuhada. Karena itu tekadku bulat, berjihad menanggulangi bencana paling dahsyat yang melanda negeri ini…
Aku yakin seyakin-yakinnya melebihi yakinnya pada diriku sendiri, bahwa keadaan itu selalu berubah. Silih berganti. Karena itu kodrat irodat Ilahi. Siapapun tak akan mampu membendungnya. Itulah yang jadi dasar perjuanganku untuk mengantarku masuk ke sorga”

“Huh !!! Omongan kebanyakan kyai-kyai pengecut itu demi kemaslahatan dan ketentraman umat, jihad dengan perhitungan dan jangan konyol, selama penguasa tidak menghalang-halangi kita beribadah berarti belum saatnya kita berjihad.. Huh, aku sama sekali tidak setuju itu semua..”Kyai Ranu Sentiko meneruskan bicaranya.

“Waktu masih sama-sama jadi santri, dia dulu berjanji kalau berhasil membentuk negara ini, dia akan jadikan negara ini negara berdasar wahyu Ilahi. Tapi mana kenyataannya. Dia sudah ingkar janji. Dia sudah jadi penyebab bencana paling dahsyat yang melanda negeri tanah air tercinta ini. Dia hanya menjadikan wahyu Ilahi tak lebih dari wahyu dzimmi. Apakah hanya karena takut wilayah timur tidak mau bergabung kalau bendera wahyu Ilahi tegak di bumi ini !!? Huh !! Kalau tidak mau gabung ya biar saja. Kalau aku lebih memilih sempit wilayahnya tapi bendera wahyu Ilahi berkibar mulia sebagai gambaran berkibarnya sunnah Rasul, daripada luas wilayahnya tapi bencana.…!!!”

Kyai Selowatu tersadar ketika orang paruh baya yang dipanggilnya paman itu bertanya: “Lalu kita akan bagaimana, kyai ?”

Sambil berdiri dari duduknya, Kyai Selowatu berkata: “Kita sholat ghoib. Kemudian kita teruskan amaliyah bersama-sama para santri.”
Kemudian para santri dikumpulkan dan diberi keterangan perihal apa saja yang telah terjadi. Namun Hari si santri senior yang juga termasuk salah satu komandan gerakan sempat protes menyuarakan suara hatinya dengan penuh gelora: “Kyai, kita teruskan lagi perjuangan. Hidup mulia atau mati syahid !!!”


“Sabar dan tawakal. Tidak ada gunanya lagi untuk melawan…”
Kyai Selowatu berkata menjawab protes Hari “Keadaan gerakan kita benar-benar sudah terjepit. Kyai Ranu Sentiko sudah lebih dulu meninggalkan kita. Gerakan kita juga sudah terlalu banyak difitnah gerombolan merah. Mereka mengaku-ngaku menjadi kita terus mereka membikin kerusuhan di masyarakat, merampok, mencuri, memperkosa, juga termasuk memboikot kereta api dengan merusak relnya. Mereka mengatasnamakan kita. Sehingga nama gerakan kita jadi tercoreng moreng di mata masyarakat, bahkan mungkin akan tercoreng dalam catatan sejarah..
Hari dan untuk kalian santri-santri yang lain-lain juga, mungkin kita akan berdamai. Dan sekarang kita sholat ghoib kemudian nanti kita teruskan amalan pasrah pada Allah Ta’ala akan apa yang terjadi selanjutnya…”!


Para santri di pondok pesantren itu semua dikumpulkan. Setelah mereka sholat ghoib bersama Kyai Selowatu, kemudian mereka teruskan dengan amalan mujahadahan. Allahumma bisathwati jabaruti qohrik.. Wabisur ati ighosati nasrik.. wabighoirotika lintihaqi khurumatik.. wabikhima yatika limanikhtama bi ayatik.. Nas aluka Ya Allahu Ya Sami’u Ya Qoribu Ya Mujibu Ya Syari’u…….


Waktu berlalu seperti biasanya. Dan di suatu saat, datanglah utusan dari pos militer wilayah dimana pondok pesantren Kyai Selowatu itu berada. Utusan itu mengabarkan bahwa akan datang rombongan diplomasi termasuk dari militer untuk berembug dengan Kyai Selowatu.

Dan waktu itupun tiba. Serombongan utusan penguasa dan militer datang ke pondok pesantren Kyai Selowatu untuk berdiplomasi. Tentu dengan pengawalan pasukan yang lengkap, dipimpin seorang jendral.
Kehidupan pesantren juga berjalan seperti biasa. Namun memang kegiatan belajar mengajar dihentikan. Hanya beberapa santri senior yang diijinkan mengikuti pertemuan. Santri-santri yang lain ada yang duduk-duduk, ada juga yang di patehan mempersiapkan minuman untuk menjamu para tamu. Santri-santri wanita juga tetap tinggal di blok santri wanita. Anak-anak, bayi-bayi dan ibu-ibunya juga bersenda gurau di dalam lingkungan pondok, tidak membayangkan ada perundingan alot di ruang tamu. Sama sekali tidak ada yang mempersiapkan diri untuk sebuah pertempuran.

Tiba-tiba, masih di tengah-tengah perundingan untuk berdamai, belum ada kata sepakat, tidak tahu siapa yang memulai, bunyi tembakan beruntun memecah suasana dari dalam ruang perundingan.. Disusul tembakan-tembakan dari arah yang berlain-lainan. Ternyata komplek pondok pesantren itu sudah terkepung. Mungkin satu kompi, atau malahan mungkin satu batalyon.
Dari segala penjuru orang-orang berseragam dan bersenjata datang dan langsung menembaki siapa saja yang ditemui, wanita-wanita, anak-anak, bayi-bayi, pokoknya semua yang hidup bernyawa dan tinggal di pondok pesantren itu harus mati. Santri laki-laki ada beberapa yang sempat meraih apa saja yang bisa dijadikan senjata; kayu bakar, sabit, pisau dapur… tapi percuma, berondongan peluru lebih cepat dari ayunan pisau dapur.
Beberapa masih terdengar teriakan takbir. Namun sekejap lalu mati. Suara tangis bayi, jeritan anak-anak, dan ibu-ibu yang coba menyelamatkan diri tak terdengar lagi. Dibungkam dengan hajaran peluru dari laras panjang senjata api.

Dengan mendekap luka-lukanya dan segumpal murka, Kyai Selowatu terdengar lirih mengucapkan kata-kata:

“hai jendral anak gelap opsir penjajah, kau sudah mencabik-cabik pesantrenku. Ingat kau besok juga akan mati tercabik-cabik bahkan seperti seonggok sampah mayatmu akan dibuang ke dalam sumur mati…”
Dan cukup dengan sebuah tembakan lagi membuat Kyai Selowatu hanya sempat terdengar lirih mengucap kata “Allah…”

Habis. Licin tandas tak bersisa.
Tak akan terdengar lagi suara Kyai Selowatu mengajar ngaji. Tak ada lagi senda gurau para santri.

Namun, dalam jarak yang sudah cukup jauh, si Hari santri senior berlari menerobos hutan dan ilalang, berhasil lolos dari pembantaian. Menjadi saksi hidup sebuah tragedi. Dan akan disimpannya sampai mati.

WARNING : CERPEN INI MURNI HANYA FIKSI BELAKA, YANG DIANGKAT DARI ANGAN-ANGAN SEMATA. KALAU SAMPAI ADA SEDIKIT KEMIRIPAN DENGAN PERISTIWA MASA LAMPAU. ITU HANYA KEBETULAN YANG SAMA SEKALI TIDAK DISENGAJA.

September 24, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Aneka Umat Islam, Cerpen, Ngomong2 Bangsa & Negara | , , , , , , , , , , , , , , , , | & Komentar

Tradisi kampung Ndeso

Terbayang gambaran lingkungan kampung ndeso di salah satu belahan bumi jagat raya. Di dalam kampung yang bernuansa benar-benar ndeso itu tinggalah masyarakat yang juga ndeso, hidup ayem tentrem rukun dan bersahaja. Semua permasalahan diselesaikan dengan musyawarah mufakat rembug ndeso yang kacek saklerek karo sederek. Ora ono balung eri ne. pokoknya damai dan damai tanpa negosiasi-negosiasi yang saling membebani. Ketentraman kampung ndeso tercipta dari suasana yang penuh dengan saktekane dan toleransi. Tidak ada curiga mencurigai. Dianggap tidak ada kejahatan maupun hal-hal yang merugikan. Kalaupun ada, itu sekedar kelalaian. Jadi hidup di kampung yang penuh dengan gotong royong ini segala-galanya harus penuh dengan kemakluman. Maklum lah, kampung ini memang makmur dan kaya dengan kekayaan alamnya, jadi sebenarnya cukup dengan menggadaikan salah satu pulau terbesarnya, sudah lunas semua utang-utangnya, bahkan lebih.. Keadaan itu membentuk sifat kampung kaya yang penuh dengan sifat makluman.

Untuk menjaga keamanan dan ketentraman kampung, karena memang kenyataannya selama ini aman-aman saja, kampung ndeso cukup dijaga dengan seonggok peralatan besi-besi tua. Tank-tank tua, pesawat-pesawat tua, senjata-senjata tua, dan segala macam alat-alat penjagaan yang tua-tua. Itu menandakan masyarakat kampung ndeso yakin tidak ada orang jahat di luar sana, selain untuk alasan pengiritan juga karena percaya kalau kampung ini dijaga nenek-nenek moyang yang super sakti. Kalaupun kampung ini bisa membuat senjata-senjata yang canggih dan modern, itu produksi perdagangan untuk dipasarkan di kampung-kampung lain yang membutuhkan, yang merasa tidak aman atau sedang dalam kondisi tawuran antar kampung, baik itu dipasarkan dengan resmi atau dengan tidak resmi alias gelap alias ilegal alias black market menurut bahasa kampung sebelah..

Tapi ada salah satu tradisi yang berakar kuat di kampung ndeso ini. Tradisi ini tidak ada istilah yang baku tapi benar-benar berlaku. Sebenarnya berawal dari tradisi sederhana yaitu tradisi kebanyakan pos ronda. Pos ronda akan rame dan banyak yang jaga kalau sudah ada kejadian yang luar biasa, umpamanya ada maling. Kalau sudah ada pencurian barulah pos ronda jadi ramai. Tapi juga tidak lama. Setelah keadaan aman terkendali, pos ronda jadi sepi. Kemudian ramai lagi menjaga kampung kalau ada maling lagi. Begitu seterusnya. Dan seterusnya tradisi itu juga dipertahankan sampai lingkup yang lebih luas. Setelah ada pencurian seni budaya, setelah ada ancaman keamanan nasional, setelah ada rintisan upaya pencaplokan wilayah secara halus lewat pulau terluar sebagai nantinya bahan konflik dan kampung ndeso cenderung kalah rembug, barulah kampung ndeso ini grobyakan kebakaran jenggot, razia dimana-mana, menghujat yang mana-mana, sampai-sampai bakar benderanya kampung sebelah…
Sudah tradisi, jadi mau bagaimana lagi..

( ada yang aneh juga dari kampung ndeso ini,  kampung ndeso yang terkenal sebagai kampung maritim tapi yang dominan diperkuati malah keamanan hentak-hentak bumi. Weleh.. )

September 23, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Ngomong2 Bangsa & Negara | | Belum Ada Tanggapan

Berbagi Cerita Pengalaman Beternak Burung Puyuh

Usaha beternak burung puyuh yang akan saya ceritakan merupakan usaha skala kecil. Boleh dikatakan sebagai usaha sampingan, namun bisa juga sebagai usaha sekedar bertahan hidup atau mungkin hidup yang lebih dari sekedar, di atas bumi manusia Indonesia tercinta ini.

Saya mempunyai keinginan beternak burung puyuh sebenarnya sudah lama, sudah sejak sebelum gempa, sekitar lebih dari tiga tahun yang lalu. Namun, waktu itu kalau saya tanya ke peternak lama, selalu dijawab bahwa PT sudah tidak menerima peternak baru.
Kemudian baru saat-saat ini saya mendapat kesempatan ikut bergabung menjadi peternak burung puyuh.

Sebelum positip menjadi peternak, terlebih dulu saya muter-muter ke beberapa peternak lama. Dengan tujuan melihat-lihat dan tanya-tanya seputar hal beternak burung puyuh, tentang bagaimana proses pertama kali beternak, apa saja yang perlu disiapkan, bagaimana pemeliharaannya, dan tentu saja bagaimana hasil secara ekonomis apakah menguntungkan atau tidak.
Selain itu, saya juga tanya-tanya ke beberapa mantan peternak (yang berhenti beternak), mengapa sampai berhenti beternak burung puyuh.

Sedikit sebagai gambaran, bahwa rata-rata peternak burung puyuh adalah petani-petani yang boleh dikatakan sebagai petani kecil, tapi tentu saja tidak semua peternak berawal dari petani, ada yang pedagang, sopir, dll namun tetap dalam kategori kecil… Lain dengan ayam potong, selama yang saya tahu, kalau peternak ayam potong biasanya mereka memang sudah “juragan” dari awalnya.
Hal itu karena untuk beternak burung puyuh ini kita bisa memelihara dengan jumlah populasi minimal yaitu 1000 ekor, tentu dengan modal yang relatif terjangkau.
Kemudian bagaimana dengan saya? Saya bukan petani kecil, juga bukan juragan besar.. hehe… saya beternak burung puyuh berawal dari status saya sebagai pengangguran.

Beternak burung puyuh yang saya jalani ini berbentuk semi kemitraan / plasma dengan mengambil hasil produksi telurnya. Ada peternak dan ada perusahaan yang yang kedua pihak saling bekerjasama timbal balik. Kemitraan dalam beternak burung puyuh ini pihak peternak masih ada unsur “membeli”, baik itu bibit / DOQ, pakan pembesarannya (stater), maupun pakan teluran (layer) selama produksi telur burung puyuh belum bisa menutup pakan layer yang dibutuhkan.

Semi kemitraan beternak burung puyuh ini dikelola dari hulu sampai hilir oleh PT Peksi Gunaraharja. (Hehe, cukup sebut nama saja, sebab bisa jadi hanya menyebut nama saja ternyata tidak diijinkan oleh PT karena memang saya tidak ijin untuk sekedar ditulis di blog ini).

Setelah informasi saya anggap cukup, dengan mantap saya segera mewujudkan keinginan untuk beternak.

Waktu itu pertama kali saya pesan 2000 bibit. Kemudian saya pesan lagi 2000 bibit, jadi totalnya 4000 bibit yang saya pesan ke PT.
Namun karena beberapa hal yang tidak perlu saya ceritakan di sini, bahwa bibit yang saya pesan tidak datang sekaligus, pesanan saya ada yang datangnya per-1000 bibit, juga per-2000 bibit.
Waktu antara pemesanan dan hari H tiba datangnya bibit termasuk relatif lama, yaitu 3 bulan baru bibit yang kita pesan itu datang.

Sambil menunggu bibit, saya pergunakan waktu yang tiga bulan itu untuk mempersiapkan apa saja yang diperlukan.
Ada beberapa fasilitas yang perlu dipersiapkan untuk memelihara burung puyuh dalam skala kecil ini, yaitu fasilitas dari mulai datang sampai pemeliharaannya.
Saya bagi menjadi tiga jenis fasilitas, yaitu fasilitas pokok, fasilitas pendukung, dan fasilitas tambahan.

Fasilitas-fasilitas pokok yang dibutuhkan antara lain :
1. rumah induk
2. kandang pembesaran
3. kandang teluran

Fasilitas-fasilitas pendukungnya antara lain :
1. tempat minum pembesaran
2. nampan untuk pakan pembesaran
3. sambungan listrik untuk rumah induk dan kandang pembesaran
4. lampu-lampu
5. pralon-pralon untuk makan dan minum di kandang teluran
6. ember minum, ember pakan, ciduk, dll
7. tampungan air kalo perlu
(untuk fasilitas pendukung ini perlulebih diperinci lagi)

Fasilitas tambahannya, yaitu septik tank untuk pembuangan kotoran. Saya sebut tambahan, karena hanya dibuat kalo dirasa perlu saja. Kalo ada cara lain untuk pembuangan, tentu tidak perlu membuat septik tank. Apalagi kalo belakang kandang burung puyuh berupa hutan, wah enak sekali, kotorannya tinggal buang saja di belakang kandang tidak khawatir baunya mengganggu lingkungan.
Namun lebih enak lagi kalo PT Peksi Gunaraharja juga menampung kotoran burung puyuh ini, bisa saja membuat salah satu divisi lagi, yaitu divisi penampungan dan pengolahan limbah, mungkin untuk membuat pupuk organik…. siapa tau !

Selanjutnya perlu juga menjelaskan masing-masing fasilitas, terutama fasilitas pokok, yaitu rumah induk, kandang pembesaran, dan kandang teluran.
Namun intinya, fasilitas dan cara-cara yang saya pilih ini dalam rangka mempraktekkan prinsip se-irit2nya bahan / modal. Sebab kalo baru pertama kali ternak kok fasilitasnya sudah mewah dan makan modal besar, wah bisa memperpanjang BEP kan ?! demikian penjelasan dari peternak lama….

Saya tidak akan menganalisa fasilitas yang dibutuhkan dalam beternak burung puyuh termasuk alternatif2-nya. Saya hanya akan menceritakan bagaimana dan apa fasilitas yang saya pilih dan saya pakai dalam beternak ini.

RUMAH INDUK.
Rumah induk merupakan rumah pokok yang dipakai untuk apasaja keperluan memelihara burung puyuh.
Nah, untuk rumah induk, saya membeli kampung bekas seharga 2,5 juta. Kampung bekas ini berukuran 7×6 meter. Rata-rata bahannya dari kayu akasia. Komplet, sudah termasuk reng, usuk, dan gentingnya, bahkan gebyok samping juga ada, walaupun tidak komplet empat sisi.
Tapi namanya juga bekas, ada beberapa usuk dan reng yang sudah lapuk dan tidak layak pakai. Jadi ya tetap mengganti beberapa reng dan usuk, termasuk beberapa genting juga cari lagi, karena pecah waktu bongkar pasang.
Kampung berukuran 6×7 meter ini diperkirakan muat 4000 populasi dengan 8 kandang teluran.
Terasnya saya bangun lagi selebar 2,5 meter dengan panjang 7 meter untuk nantinya bisa dipergunakan sebagai tampungan pakan, keperluan air, menyimpan telur sebelum disetor ke PT, mungkin juga untuk menyimpan kandang pembesaran jika sudah tidak dipakai lagi.

KANDANG PEMBESARAN.
Kandang pembesaran ialah kandang yang dipakai untuk membesarkan DOQ, sejak datang sampai umur 20-25 hari atau diperkirakan sudah layak untuk naik ke kandang teluran.
Kandang pembesaran ini berukuran 75×200 cm. Untuk 1000 bibit membutuhkan total 4 kandang pembesaran.
Kandang pembesaran ini berbahan pokok reng dan strimin. Sisi yang tertutup nantinya memakai triplek, namun kalau mau lebih ngirit ya ditutup pakai kardus saja (sekali pakai).

KANDANG TELURAN.
Kandang teluran ini merupakan kandang pokok dimana nantinya si burung puyuh akan tinggal dan berproduksi sampai saatnya di-apkir.
Berbahan usuk, reng, dan strimin.
Kandang teluran ini saya memerlukan 8 kandang untuk 4000 populasi. Yang 3 kandang saya pakai bambu sebagai pengganti strimin (untuk ujicoba saja, dengan pertimbangan kalo bambu lebih awet dan lebih mudah diperbaiki kalo nantinya rusak…).
Kandang teluran ini tingginya 180cm terbagi menjadi 5 tingkat, dimana masing-masing tingkat memuat 100 populasi (teorinya).
Masing-masing tingkat di kandang teluran ini depannya dipasang pralon yang dilubang, pralon satu untuk wadah pakan, satunya lagi untuk tempat minum. Lebih jelasnya lihat gambar saja ya…….

Nah, setelah 3 bulan menunggu, akhirnya bibit datang juga. Untuk bibit pertama yang datang ternyata tidak 1000 ekor, tetapi 950 ekor, dari pihak PT tidak memberi alasan, namun jelas saya terima karena yang harus saya bayar juga sejumlah 950 ekor saja.
Harga bibit per-ekor-nya Rp 1.250,-
Sehingga saya bayar Rp 1.250,- x 950 : Rp Rp 1.187.500,-
Bibit ini kemudian langsung masuk ke kandang pembesaran yang fasilitasnya sudah dipersiapkan. Landasan kandangnya memakai kertas sak semen dengan lapisan 3 lembar. Sebelum ditaburi benih, terlebih dahulu ditaburi pakan pembesaran (BR) yang sudah diantar PT beberapa hari sebelum bibit datang.
Untuk pertama kali pakan belum ditaruh di nampan, tetapi disebar di atas landasan. Setelah sekitar 3-5 hari atau diperkirakan DOQ sudah mampu makan dari nampan, baru pakan ditaruh di nampan. Namun nampannya perlu diberi potongan strimin untuk menjaga puyuh biar tidak kepleset.
Wadah air minumnya juga diberi batu-batu, ini menjaga agar DOQ tidak mati tenggelam. Air minum untuk DOQ ini dicampur dengan vitamin DOQ yang kita beli dari PT.
Hari-hari pertama untuk 1000 DOQ membutuhkan 2 kandang pembesaran. Masing-masing kandang diisi 500 bibit.
Untuk penghangatan, saya menggunakan lampu listrik. Tiap kandang pembesaran membutuhkan 100 watt x 3 lampu, jadi total untuk 1000 DOQ membutuhkan 600 watt. Kebutuhan ini kira-kira sampai sekitar 5 hari atau seminggu atau bahkan 10 hari, tergantung bagaimana kondisi bibit dan cuaca.
Tahap ini istilahnya nge-box. Seperti biasanya kita nge-box, kalo DOQ sebagian besar berada mepet dinding, berarti suhunya terlalu panas, untuk ini perlu salah satu lampu dimatikan. Demikian juga sebaliknya kalau bibit2 ini berkumpul di sekitar lampu, berarti suhunya kurang panas sehingga perlu ditambah lampu. Namun untuk 300 watt x 3 ini sepertinya belum pernah menambah lampu.

Setelah 7 hari atau 10 hari diamati DOQ sudah mulai besar dan kandang sudah cukup sesak, DOQ yang menghuni 2 kandang ini dipecah menjadi 4 kandang.
Setelah menjadi 4 kandang, dimana tiap-tiap kandang berisi 250 populasi bibit, lampu juga sudah dikurangi dayanya. Jumlahnya tetap 3 lampu, namun yang dipasang ganti 45 watt, 60 watt, 45 watt.
Untuk pembersihan kotoran, penggantian kertas semen landasan, penggantian air minum, pemberian makan, pemberian vaksinasi, dll dll Kok susah mau memberi penjelasan terperinci ya …….!!! Pokoknya begitu lah……. Kalo ada kendala, hubungi saja dokternya PT Peksi Gunaraharja. Kalo kita bingung, Pak Dokter ini siap untuk memberi penjelasan apa saja sampai kita paham dan bisa. Mudah kan !!??
Yang penting perlu diperhatikan pada masa pembesaran ialah sekitar waktu antara 1-5 hari. Pada 5 hari pertama ini merupakan masa yang paling kritis, karena bisa jadi si bibit membawa penyakit bawaan. Nah….

Sekitar 1 atau 2 minggu saya nge-box 950 bibit pertama, datang lagi 1000 bibit yang kedua.
Angkatan kedua ini ternyata kurang begitu lancar. Bibit datang dalam kondisi lesu dan lemes (hehe, saya sudah mulai sok ahli mengamati bibit ya… padahal baru sekali udah sok tau…..).

Bibit yang kedua ini aneh, setelah ditabur di kandang pembesaran baru mulai kelihatan belangnya. Tingkah lakunya juga aneh-aneh. Ada yang seneng berjalan mundur sambil nunduk, ada yang sukanya megap-megap, ada juga yang hobinya geleng-geleng terus. Wah wah wah…. Agak runyam juga.
Waktu itu saya belum kepikiran untuk ngundang Pak Dokter PT Peksi Gunaraharja, maklum saja peternak baru belum hapal medan.
Atas jasa dokter lain, maksudnya peternak lama, bibit yang kedua ini diberi obat Trimisin.
Akhir kata, kedua angkatan itu lancar juga sampai naik ke kandang teluran.
Jumlah kematian selama pembesaran untuk 950 angkatan pertama sekitar 14 ekor. Jadi jumlahnya masih ada 936 ekor.
Untuk yang 1000 angkatan kedua, kematian cukup tinggi, lebih dari 80 ekor, jadi masih tersisa sekitar 900 ekor saja.
Setelah kedua angkatan itu masuk kandang teluran (20-25 hari), pakan masih menggunakan BR (pakan stater) sampai nanti umur 40 hari.
Penjelasan untuk pakan, bahwa selama masa pembesaran (6 minggu), tiap 1000 populasi membutuhkan 6 sak BR (pakan stater).
Per-sak beratnya 50kg.
Harga per-sak-nya waktu itu sekitar RP 214.000 (hehehe… agak lupa, males buka dokumen).
Jadi total kebutuhan pakan stater (BR) ialah 6 sak x Rp 250.000,- : Rp dijumlah sendiri ya…..!!!
Pakan BR ini untuk 1000 populasi diantar oleh PT tiap minggunya 1 sak selama 6 minggu, dibayarnya tiap kalo datang per-minggu-nya dan harus dibayar cash / kontan alias tidak boleh ngutang.
Setelah kedua angkatan bibit itu naik kandang, pas ke-30 hari, 2000 bibit angkatan ketiga datang juga. Untuk yang angkatan ini, nge-box-nya sekaligus 2000 DOQ.
Tapi perasaan kok rame banget ya mau nerusin cerita. Bisa-bisa halaman blog ini dipenuhi cerita beternak burung puyuh… jadi cerita yang pokok-pokok saja.Singkat cerita………….

Untuk kemitraan ini, PT Peksi Gunaraharja menyediakan 2 macam merk pakan, yang satu merk SINTA, satunya lagi pakan buatan PT yang merknya “UNTUK KALANGAN SENDIRI”.

Untuk 1000 populasi membutuhkan 3 sak pakan teluran (LAYER). Pakan boleh memilih semuanya merk “UNTUK KALANGAN SENDIRI”, namun boleh juga ditambah pakan yang merk SINTA, toh katanya setelah tes laborat, baik yang SP 22 SINTA maupun yang merk “UNTUK KALANGAN SENDIRI” kualitasnya sama, maksudnya kandungan bahan pakannya sama…

Setelah umur 40 hari, si burung puyuh ini sudah mulai bertelur, namun belum maksimal, artinya hasil telur belum mencukupi untuk membeli pakan. Karena kondisi seperti ini, berarti peternak masih harus membayar pakan yang datang selama hasil telurnya belum bisa menutup harga pakan.

Setelah umur 2 bulan, barulah si burung puyuh ini sudah bisa cari sendiri pakannya…… malah sudah ada sisa buat masuk dompet dan disisihkan untuk mengembalikan modal !!!

Tentang cerita sampai apkir, berhubung saya belum mengalami, jadi belum bisa cerita….. namun konon katanya yang sudah pengalaman, bahwa burung puyuh ini diapkir setelah berumur kurang lebih 1 tahun, atau kalo kira-kira produksi telurnya sudah tidak bisa untuk membeli pakan.
Untuk apkiran, PT Peksi Gunaraharja sebagai mitra juga siap membeli dengan harga saat ini Rp… ????

Oiya, sebelum saya akhiri cerita yang sama sekali tidak lengkap dari pengalaman saya beternak burung puyuh ini, untuk saat ini produksi kalo pas kondisinya baik bisa mencapai 23 ikat per-minggunya. Tapi kadang juga 21 ikat. (1 ikat berisi 900 butir).
Maklum, untuk yang angkatan pertama dan kedua kondisinya memprihatinkan, paling sekarang cuma tinggal 1500 ekor. Soalnya ada yang tadi belum saya ceritakan, bagaimana setelah naik kandang teluran, rumah induknya kurang rapat, jadi banyak burung puyuh yang menjadi santapan pesta malam kucing-kucing liar……
Meoooooooong………………!!!!!!!!!!!! (duh nasibnya jadi peternak baru… memberi sodakoh sama kucing…..)

Sekalian di sini saya lampirkan analisa usaha beternak burung puyuh, dimana analisa usaha ini saya bikin sebelum saya memulai beternak, jadi analisa usaha ini hanya merupakan gambaran setelah saya muter-muter dan nanya-nanya ke peternak-peternak lama….
Jadi maklum kalo analisa usaha yang saya bikin agak semrawut, karena saya sendiri memang bukan ahli di bidang ternak burung puyuh dan memang saya bikin sewaktu saya belum mengalaminya….

Analisa Usaha Beternak Burung Puyuh

(perhitungan dan perencanaan)

Beternak burung puyuh merupakan kerjasama bermitra dengan PT Peksi Gunaraharja. Usaha beternak burung puyuh adalah mengambil hasil produksi telurnya.

Teknis kerjasama

1. Pemesanan terlebih dahulu ke PT untuk menjadi peternak.

2. Setelah pemesanan, kemudian bibit dan obat-obatan diantar oleh PT dan dibayar cash oleh peternak sesuai jumlah pemesanan.

3. Untuk prosedur itu, peternak harus sudah menyiapkan kandang terlebih dahulu, terutama kandang untuk pembesaran bibit.

4. Prosedur teknis selanjutnya dalam masa awal; PT mengantar pakan awal dan pakan teluran. Pakan awal adalah pakan yang digunakan untuk pembesaran bibit (berkisar 40 hari). Sedangkan pakan teluran adalah pakan yang diberikan setelah selesai masa pembesaran untuk merangsang agar burung puyuh siap berproduksi sebagai petelur (berkisar 40 hari setelah habis pakan awal).

5. Setelah nanti berproduksi, pakan dikirim tiap minggu oleh PT, sekaligus mengambil/membeli telur. Masa ini adalah masa produktif, dimana peternak membayar/membeli pakan dari PT dan sekaligus menjual telur ke PT tiap seminggu sekali. Dalam masa produktif, lebih baiknya peternak tetap mengutamakan penjualannya ke PT dan berarti mengikuti standar harga PT.

6. Setelah nanti burung puyuh masuk masa apkir (tidak berproduksi lagi / atau produksinya sudah tidak dapat menutup pembayaran pakan), maka PT juga siap membeli burung puyuh apkiran.

7. Sebaiknya para peternak juga membentuk kelompok. Sebab PT akan memberi fee untuk kelompok. Untuk fee ini ada ketentuannya sendiri yang diberikan tiap tahun.

Permodalan dan Perhitungan Hasil 4000 populasi.

A. Modal Tetap. 1. kandang besar : Rp 7.000.000,- 2. kandang kecil (8 unit) : Rp 4.000.000,- 3. kandang pembesaran : Rp 1.600.000,- 4. alat-alat : Rp 2.000.000,- 5. bibit paket 4000 ekor : Rp 5.000.000,- ( @ Rp 1.250,- ) 6. obat : Rp 200.000,- B. Modal Berjalan Awal. 1. pakan awal : Rp 6.000.000,- (24xRp 250.000) 2. pakan teluran : Rp 7.740.000,- (36xRp 215.000) D. Tak Terduga : Rp 1.000.000,- xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxsensor

September 21, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Puyuh | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | & Komentar

Nikah Sirri : antara ada dan tiada

Suatu hari datang seorang laki-laki dan seorang perempuan menghadap kyai / ustad. Ternyata, mereka minta dinikahkan sirri, karena katanya Sang Ustad ini dikenal biasa menyelenggarakan nikah sirri. Tapi permintaan itu ditolak oleh Sang Ustadz, karena mereka tidak memenuhi syarat untuk menikah, yaitu tidak ada wali nikah.
Terlepas dari kompleksitas masalah tersebut, yang menjadi tema di sini hanya mengenai ada atau tidak ada-nya nikah sirri.

Syarat pernikahan baik yang (dianggap) sirri maupun yang resmi (versi KUA) ternyata sama (tolong diralat kalo salah), yaitu :
1. calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan
2. wali dari pengantin perempuan
3. dua orang saksi
4. akad nikah
5. mahar/mas kawin

wali dari pengantin perempuan ini adalah bapaknya, atau kakak laki-lakinya jika bapaknya sudah tidak ada, atau kakak laki-laki dari bapaknya kalo kakak dan bapak tidak ada, dan seterusnya sepanjang itu saudara garis laki-laki dari si calon pengantin perempuan (patrilineal islam).
Kemudian juga si wali nikah ini ber-hak penuh dan mutlak untuk menikahkan putrinya atau…. Menyerahkan hak menikahkan itu ke “siapa saja” yang dipercaya dan mampu untuk menikahkan putrinya.
Nah, di sinilah berawal adanya istilah nikah sirri. Nikah sirri itu terjadi kalo si wali nikah ini menyerahkan hak menikahkan ke orang selain dari KUA (ujung tombaknya Depag) dan tidak tercatat di KUA

Terus kenapa nikah sirri ini seolah seperti dipermasalahkan? Malah sempat denger-denger tercetus kalo pelaku dan penyelenggara nikah sirri akan di-pidana-kan.. walah, kalo mau mem-pidana-kan nikah sirri mbok ya terlebih dahulu mem-pidana-kan orang-orang yang hidup bersama layaknya suami istri yang tanpa nikah, walaupun itu cuma short time… ya to ?
Dan lagi, apakah nikah sirri memenuhi syarat sebagai tindak yang membahayakan publik seperti halnya pencurian, perampokan, pembunuhan, atau korupsi ?

Sebab yang pokok adanya istilah nikah sirri tentu karena adanya pencatatan oleh KUA sebagai bagian dari perangkat Depag yang selanjutnya dianggap sebagai nikah yang resmi. Jadi kalo tidak ada Departemen Agama, tidak ada KUA, tidak ada negara Indonesia (tidak usah dibayangkan !!! ), berarti tidak akan ada nikah yang tercatat di KUA dan tidak ada nikah sirri…..
Berarti nikah sirri ini ada karena ada negara Indonesia, karena ada Depag, karena ada KUA !!
Sebab sebenarnya yang ada hanya : pernikahan !

Pernikahan ! prosesi sederhana yang me-legal-kan hubungan seksual antara seorang laki-laki dan seorang perempuan bukan muhrim yang tadinya haram, menjadi halal. Hubungan seksual intim laki-laki dan perempuan yang tadinya merupakan dosa besar dengan ancaman neraka yang mengerikan, dalam hitungan detik atau menit setelah prosesi akad nikah, tiba-tiba bisa menjadi hal yang bahkan berpahala. Sangat luar biasa memang prosesi akad nikah ini.

Pernikahan ! bukan hanya acara seremonial tetapi lebih merupakan acara ritual. Sebuah acara yang mempertemukan dua ruh sebagai dua insan laki-laki dan perempuan yang menjadikannya satu ikatan perkawinan dari dunia sampai akhirat. Ikatan yang agung dan suci ini menjadi wadah dari ruh yang baru dari alam azali. Maka untuk wadah ruh yang baru diturunkan ke alam dunia perlu wadah yang diridloi Allah Ta’ala. Jadi pernikahan itu sendiri sudah merupakan wadah yang resmi. Bahkan tanpa tercatat di KUA pun asal sudah memenuhi syarat-syarat yang digariskan menurut ketentuan syar’i, sudah merupakan hal yang resmi dan diridloi Allah Ta’ala.

Pernikahan ! sebuah gerbang yang menimbulkan banyak hal akibat. Karena dari pernikahan ini kemudian masuk dalam perkawinan. Di dalam perkawinan ini kemudian akan ada hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban suami terhadap istri juga hak dan kewajiban istri terhadap suami.
Kemudian dari perkawinan ini akan ada satu jalur baru garis keturunan. Garis keturunan yang menjadi subyek dari hukum waris.
Itulah rentetan yang timbul setelah melewati satu proses pernikahan.

Indonesia adalah negara hukum. Demi untuk perlindungan hukum dan terjaminnya kepastian hukum, maka negara mengeluarkan peraturan hukum. Termasuk di dalamnya adalah hukum perkawinan yang ter-positif-kan dalam Undang-undang Perkawinan.
Sebagai lembaga resmi dari Negara Republik Indonesia, maka KUA adalah lembaga yang mencatat mulai dari Nikah Talak Cerai Rujuk bla bla bla . . . dan seterusnya….
Tanggung jawab suami terhadap keluarganya, istrinya, anak-anaknya merupakan kewajiban. Hal ini dilindungi negara. Kalau lalai dari kewajibannya maka bisa dituntut oleh yang merasa tak terpenuhi haknya, yaitu oleh istri dan atau anak-anaknya. Di sini perlu pembuktian, dan lewat KUA lah alat bukti itu ada, yaitu buku nikah.
Anak-anaknya pun juga dibuktikan dengan akta kelahiran yang diterbitkan oleh Catatan Sipil, dimana salah satu syarat pembuatan akta kelahiran adalah buku nikah resmi dari negara.

Selanjutnya terserah mau pilih yang mana ? Nikah tanpa tercatat di KUA atau yang tercatat di KUA ?

September 21, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Aneka Umat Islam, Ngomong2 Bangsa & Negara | | Belum Ada Tanggapan