ARIEFMAS's WEBLOG

Cukup peraturan-Nya saja yang mengikatku

Haramkah Menikahi Wanita Ahlulbait

Sebenarnya aku menulis dengan tema ini juga karena ada sebabnya. Yang pokok karena penasaran. Secara kenyataan yang pernah aku saksikan sendiri beberapa waktu lalu, seorang laki-laki bukan ahlulbait akan menikahi wanita ahlulbait dianggap halal darahnya dan bahkan sempat diancam pembunuhan. Wuduh, ngeri amat… hehehe, amat aja nggak se-ngeri gitu.
Alasannya tentu saja karena menikahi wanita ahlulbait hukumnya haram. Didukung juga hal itu akan menyakitkan hati Nabi SAW karena telah memutus nasab beliau. Diperkuat lagi dengan argumentasi bahwa sangat kurangajar dan su’ul adab berani memperistri syarifah (wanita ahlulbait). Dengan menjadikannya istri berarti telah merendahkan dan menghina Nabi SAW, karena tentu saja istri akan melayani suami, dan itu benar-benar keterlaluan bila si-istri ini ahlul bait harus melayani suami ahwal (ajam, nasab biasa, bukan ahlulbait).

Kucoba search di google mengenai haram tidaknya laki-laki yang bukan ahlulbait menikahi wanita ahlulbait. Ternyata sangat banyak artikel yang membahas hal itu. Ada yang mengharamkan dan ada yang cenderung menghalalkan. Kedua-duanya sama-sama memakai dalil-dalil Qur’an, hadist, dan dasar-dasar hukum yang lain.

Aku sendiri tidak akan ikut berpolemik mempermasalahkan itu. Tujuanku nulis ini pun hanya sekedar omong-omong dan barangkali bisa memancing pendapat tentang yang pernah aku lihat dan saksikan seperti yang aku ceritakan di atas, masalah halal darahnya, ancaman pembunuhan, menghina Nabi SAW, dan sebagainya.
Tapi kalau sekedar berkomentar, nggak papa kan ? Hehehe…

Secara logika apabila laki-laki bukan ahlulbait hukumnya haram menikahi wanita ahlul bait, apakah itu berarti dihukumi muhrim? Kalau muhrim apakah berarti juga tidak membatalkan wudlu? Kembali pada keterangan mengenai hukum perkawinan islam, bahwa yang haram hukumnya untuk dinikahi ialah apabila punya hubungan muhrim, baik itu ibu, saudara kandung, dll. Kalau laki-laki ahwal hukumnya haram menikahi wanita ahlulbait, berarti antara laki-laki ahwal dan wanita ahlulbait itu sudah tidak membatalkan wudlu bila bersentuhan.
Jika tetap membatalkan wudlu kalau bersentuhan, terus bagaimana maksud hukum haram menikah untuk keduanya? Haram nikah tapi tetap membatalkan wudlu?
Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa haram hukumnya apabila menikahi janda-janda Nabi SAW, tidak ada keterangan mengenai keturunan beliau.

Kemudian apabila hukumnya halal antara laki-laki ajam menikah dengan wanita ahlulbait, mengingat ada hadist yang menyebutkan bahwa Nabi SAW akan marah apabila ada yang menyakiti anak turunnya, maka secara kenyataan dalam kehidupan rumah tangga terkadang suami menyakiti hati si-istri. Kalau si-istri ini ahlulbait, apakah bukan berarti akan menyakiti hati Nabi SAW? Menyakiti hati Rasulullah SAW berarti terputus tidak akan mendapat syafa’at beliau, tanpa syafa’at beliau maka jangan harap bisa dekat dengan Allah Ta’ala.
Selain itu, nasab yang paling tinggi adalah nasab Rasulullah SAW. Secara garis patrilineal Islam, anak perempuan merupakan nasab terakhir, apabila menikahi wanita ahlulbait berarti memutus nasab yang artinya si wanita meneruskan nasab bukan ahlulbait. Menurut beberapa keterangan yang kubaca setelah searching, hal itu juga akan menyakitkan hati Nabi SAW.

Hehe, belum mendapat pencerahan juga.. Jadi aku pikir hal itu bersifat kasus per kasus, katakanlah kasuistis. Bisa jadi memang haram, tapi artinya haram adalah dilarang, seperti halnya dulu ulama pernah meng-haram-kan memakai celana panjang, ternyata saking bencinya para ulama terhadap penjajah Belanda, sehingga apa-apa yang menyerupai Belanda dianggap haram. Itu haram bukan hukum, tapi bersifat pelarangan pribadi.
Apakah demikian juga sifat haram dalam perkawinan antara laki-laki ahwal dengan wanita ahlulbait?
Tapi bisa jadi memang halal, apabila ditemui ada wanita ahlulbait tinggal di lingkungan yang bukan ahlulbait dan dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan jodoh, sedangkan laki-laki ahlulbait sama sekali tidak ada yang menggubris. Apakah kemudian akan lajang seumur hidupnya?

Oktober 31, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Aneka Umat Islam | | Belum Ada Tanggapan

Apa Enaknya Jadi Pegawai Negeri

Saat ini lowongan-lowongan CPNS bertebaran. Orang-orang berbondong-bondong memasukkan lamaran. Rela berterik-terik demi mendapatkan kesempatan menjadi pegawai negeri. Kantor depnaker penuh sesak dengan antrian mencari kartu kuning. Polsek yang biasanya sepi juga relatif terlihat ramai orang-orang mencari SKCK. Segenap bidang yang berkaitan dengan persyaratan penerimaan CPNS mendadak sontak sibuk tidak seperti biasanya.
Sementara bagi yang sudah wiyatabakti bisa cukup berlega diri. Kans yang diberikan untuk menjadi pegawai negeri menjadi mayoritas penerimaan. Sertifikasi dan tetek bengek persyaratan pengangkatan CPNS sudah dilengkapi jauh-jauh hari. Apalagi bagi yang sudah lama namanya masuk di database kabupaten. Tinggal menunggu antri.
Kira-kira demikian penulis menyoroti gaduhnya sekitar perjalanan menuju gerbang dunia pegawai negeri.

Namun kenapa menjadi pegawai negeri seperti medan magnet yang menyedot demikian banyak minat anak negeri? Bahkan kalau ada kesempatan “jalan gelap” yang membutuhkan uang bahkan sampai puluhan juta demi untuk penempatan, tetep ada juga yang rela berkorban.
Ternyata memang banyak hal yang membikin demikian, makanya tidak mengherankan kalau termasuk jalan mencari nafkah yang satu ini seolah seperti satu-satunya jalan emas ukuran kesuksesan.

Coba kita ulas satu persatu apa sih enaknya jadi pegawai negeri….

1. Menjadi pegawai negeri merupakan status yang membanggakan. Kebanggaan itu bahkan mungkin tidak dimiliki oleh yang bersangkutan sendiri, tetapi kadang dimiliki orang tuanya dan juga lingkungannya. Dalam pergaulan orang-orang tua bangga menceritakan si anak yang menjadi pegawai negeri, sudah diangkat CPNS, atau mengisahkan jerih payahnya berprihatin sehingga si anak sukses. Dalam menuliskan nama pekerjaanpun akan lebih mempunyai nilai jika diisi pekerjaannya pegawai negeri daripada hanya ditulis wiraswasta. Ada lagi, relatif rata-rata orang tua yang memilihkan jodoh untuk anaknya lebih menyetujui mendapat calon menantu yang pegawai negeri.

2. Tidak khawatir terkena PHK. Hal ini sudah menjadi komitmen pemerintah atau mungkin sudah tertuang dalam peraturan perundangan bahwa ada jaminan tidak akan ada PHK di kalangan pegawai yang bekerja di pemerintahan. Lain halnya kalau bekerja di perusahaan swasta, sering kita dengar banyaknya PHK karena memang kondisi perusahaan yang memaksa.

3. Tidak mungkin mengalami bangkrut atau terlanda kepailitan. Menjadi pegawai negeri tidak memerlukan modal yang kemudian harus memperhitungkan untung rugi dan perhitungan BEP untuk pengembalian modal. Aman dan tertib, tinggal menunggu tanggal saatnya menerima gaji.

4. Gaji tetap yang tinggi menjadi salah satu fasilitas enaknya menjadi pegawai negeri. Terbilang tinggi karena apabila diukur dengan aktivitas kerja dan hasil yang didapat sudah termasuk sesuai. Apalagi untuk pegawai negeri dalam lingkup pendidikan, alokasi 20% APBN nantinya bisa dibayangkan berapa gaji yang akan diterima guru. Namun hal ini kemudian menjadi relatif kalau sudah dihadapkan pada kebutuhan hidup dan rasa cukup. Kalau kebutuhan melebihi penghasilan dan tidak ada rasa cukup, siapa saja tentu merasa kurang dengan penghasilan yang berapapun.

5. Masa depan merupakan hal yang misteri dalam kehidupan. Nah, menjadi pegawai negeri hal itu tidak lagi menjadi masalah, karena gaji pensiun di saat purna tugas menjadi hal yang termasuk paling menarik meninggikan minat menjadi pegawai negeri. Ditinggal berleha-leha pun setelah memasuki hari tua dengan tenaga yang sudah terbatas tidak perlu lagi repot-repot mencari penghasilan. Bahkan uang pensiun ini akan terus diterima oleh janda dari pegawai negeri yang sudah meninggal dunia.

6. Banyak waktu luang yang dimiliki pegawai negeri bisa digunakan untuk mencari tambahan penghasilan. Kalau tidak beraktivitas lain ya bisa digunakan untuk istirahat. Bagi instansi yang 5 hari kerja, untuk sabtu dan minggu merupakan hari libur yang panjang. Sedangkan untuk yang 6 hari kerja setelah jam 2 siang masih tersisa banyak waktu luang untuk berapa saja. Tentunya waktu luang ini tidak berlaku untuk pegawai negeri yang menjadi dosen.

7. Bagi yang membutuhkan modal usaha atau sekedar untuk membeli mobil dan keperluan-keperluan tersier lainnya padahal gaji belum mencukupi, maka SK Pegawai Negeri atau jaminan gaji bisa digunakan untuk mendapatkan hutang. Katakanlah lebih mudah mencari kredit dana segar. Dibayar dengan potong gaji atau potong uang pensiun bagi yang sudah pensiun termasuk fasilitas yang juga menggiurkan bagi yang hobi. Koperasi di masing-masing instansi atau beberapa bank memberi kemudahan untuk urusan yang satu ini. Tapi hati-hati, ternyata cukup banyak juga pegawai negeri yang tiap tanggal gaji tidak menerima uang, bahkan membayar kekurangan.

8. Banyak mendapatkan tunjangan selain gaji pokok, ada tunjangan suami/isteri, tunjangan anak, tunjangan fungsional.

9. Ada fasilitas khusus bagi yang berprestasi dalam ketrkaitannya dengan promosi kenaikan pangkat dan gaji.

10. Gaji ke-13.

11. Apalagi ya????

Mungkin masih banyak dan banyak lagi enak dan untungnya menjadi pegawai negeri. Tapi penulis sangat terbatas sekali pemahaman mengenai pegawai negeri, jadi sementara hanya itu yang penulis mengerti. Harap dimaklum apabila ada salah dan siap dikoreksi, karena penulis tidak termasuk anggota masyarakat yang punya NIP alias bukan pegawai negeri.

Oktober 31, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Ngomong2 Bangsa & Negara | , , , | & Komentar

Perkenalkan Namaku Daroji, Agamaku Tanpa Agama

gm nt jd k rm tno g? kl jd pk mblk w..”
Baca sms dari Qodri memang perlu dipikir-pikir dulu maksudnya apa, soalnya super full singkatan. Kubalas smsnya : “jadi aja, tapi Pramono gimana? Katanya ada tamu?”
Qodri sms lagi: “pr m ngjk tmnya. Sp2 tk ampr”.
Akhirnya kami berempat berangkat ke rumah Tono, temen main waktu kecil. Dia baru punya momongan, anak yang ketiga.

Dalam perjalanan, temennya Pramono memperkenalkan diri. Ternyata temen kerjanya Pramono.
“Perkenalkan, nama saya Daroji…”Sambil kenalan aku sempet senyum dalam hati. Untungnya Daroji bukan orang sunda, soalnya kalau nggak salah inget, dalam bahasa sunda di wilayah tertentu, ‘daroji’ itu artinya makan lima ngaku satu… Hehehehe….

Dalam perjalanan kami ngobrol ngalor ngidul. Ngobrol apa saja bahkan tanpa kapasitas dan kompetensi apapun. Ternyata Daroji termasuk seneng ngobrol dan nyambung juga dengan tema-tema kami.

Daripada kita ikut sholat asar di rumah Tono, kita sholat dulu aja..” Pramono ngasih usul. “di depan ada pom bensin, sambil ngisi bensin bisa sekalian ikut sholat. Nanti kan tinggal nyante”.
Setelah rampung sholat aku sempat membatin, kenapa Daroji nggak ikut sholat ya…!? Mungkin aja non muslim, tadi kan nggak nanya-nanya agama.
Aku yang bertanya-tanya dalam hati, eh…. sesampainya di dalam kendaraan, malah Qodri yang komentar ke arah Daroji : “Lagi M ya mas….?”
Daroji cuma senyum.
“Ke gereja ya?” sambung Qodri.
“Enggak juga….” Kata Daroji.
Islam tapi nggak sholat, atau mungkin budha, hindu, konghucu, atau penganut kepercayaan…” Aku ngomong sambil ketawa. Obrolan keakraban selama perjalanan tadi bikin enak aku ngomong itu.
dia nggak punya agama..” akhirnya Pramono yang angkat bicara.

Í”Lho……??” aku dan Qodri sama-sama heran.

Akhirnya diceritakan semuanya hingga kenapa dia menentukan pilihan hidup untuk tidak beragama.

“……….waktu kecil saya terbilang nakal. Saya pernah mencuri mangga di kebun Pak Haji. Pohon mangganya memang banyak. Buahnya juga lebat.
Waktu saya sedang memanjat pohon mangga, tiba-tiba ketahuan oleh Pak Haji. Saat itu Pak Haji sedang bawa tongkat. Diacung-acungkan ke arahku sambil teriak-teriak menyuruhku turun. Wah, saya takut benar. Pikirku mau dipukuli. Sesudah aku turun ternyata tidak dipukuli, tapi aku disuruh pergi. Buah mangga yang sudah saya petik tidak boleh dibawa. Sambil setengah berlari saya pergi dengan masih ketakutan, juga masih mendengar Pak Haji ngomel-ngomel tidak karuan…..”
Daroji berdiam sejenak, kemudian dia melanjutkan ceritanya :

Di lain waktu, saya juga pernah mencuri mangga di kebun milik seorang Pastor.. Rumah pastor berada di sekitar gereja. Tapi kelihatannya sepi. Gerejanya juga sepi. Jadi kupikir Pak Pastor sedang pergi.
Waktu saya sedang memanjat pohon, eh… tiba-tiba Pak Pastor muncul dari dalam gereja. Memandang ke arahku. Wah, saya ketakutan juga, mungkin masih trauma ingat peristiwa ketahuan mencuri di kebun Pak Haji. Tapi yang takutkan ternyata lain. Pastor itu memandangku yang masih di atas pohon sambil tersenyum, malah Pastor itu minta tolong agar aku sekalian memetikkan buah mangga. Katanya dia pengen sejak kemarin tapi tidak berani memanjat. Pak Pastor menunggu di bawah pohon sambil menerima buah mangga yang saya lemparkan dari atas. Semua yang sudah matang disuruh untuk dipetik. Setelah semuanya rampungan, saya disuruh pulang dan disuruh membawa banyak buah mangga”

Kami semua masih diam menunggu Daroji berkisah. Terus apa hubungannya peristiwa-peristiwa itu dengan pilihan hidupnya untuk tidak beragama…

Peristiwa-peristiwa masa kecil itu demikian membekas dalam hati sanubari saya. Sedemikian membingungkan saya. Pertentangan batin yang sangat dalam. Di lain pihak waktu itu saya mempercayai kebenaran Islam, di lain pihak saya juga terbentur dengan kenyataan yang buruk.. Akhirnya saya tidak bisa menganalisa lagi. Saya percaya adanya Tuhan, tapi saya tidak percaya dengan agama. Lebih-lebih setelah beranjak dewasa, kenyataan-kenyataan hidup memberi pelajaran bagi saya bahwa agama hanya menjadi alat perpecahan antar umat manusia. Tidak ada kedamaian yang berangkat dari perbedaan keyakinan agama. Bahkan di dalam agama itu sendiri saya lihat tidak ada kedamaian antar pengikut aliran atau sekte. Tidak di Islam, tidak di Kristen. Sama saja. Saya ingin perdamaian.

Itulah, mas… yang menjadikan pilihan hidup saya untuk tidak beragama, tapi saya percaya bahwa Tuhan itu ada…”

WARNING : cerpen ini murni hanya fiksi dan angan-angan belaka, kalau ada kesamaan tokoh di dunia nyata, itu hanya kebetulan yang tak sengaja.

Oktober 28, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Cerpen | | Belum Ada Tanggapan

Runtuhnya Tradisi Pondok Pesantren: Menuju Alam Demokrasi

Mengenal pondok pesantren, yang terbayang dalam benak kita ialah lingkungan yang ketat memegang tradisi. Tradisi apa saja, tentunya tradisi yang tradisional, baik itu tradisi keilmuan, tradisi kepemimpinan, sampai tradisi sistem pendidikan. Demikian penilaian secara umum orang memandang pondok pesantren.
Namun pada saat ini, arus globalisme dan tantangan dinamika jaman modern telah relatif merubah total tradisi-tradisi itu, termasuk tradisi kepemimpinannya.

Secara umum pondok pesantren layaknya saham. Kepemilikan saham selanjutnya dimiliki secara given oleh keturunannya, baik dalam pengelolaan maupun kharismatiknya. Hanya saja alam demokrasi rupa-rupanya sudah mulai merubah tradisi itu. Kepemimpinan pondok pesantren sekarang sudah tidak harus dipegang oleh keturunannya. Secara kenyataan banyak yang terjadi sekarang, pondok pesantren dipegang pihak menantu, katakanlah tidak lagi istana sentris patrilineal.

Pandangan ke-santri-an tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan secara fisically berkembang sangat pesat dan maju, baik fasilitas bangunannya, sistem pendidikannya, maupun jumlah santri yang mondok.

Banyak sebab yang menjadikan tradisi kepemimpinan pondok pesantren tidak lagi berdasar keturunan. Salah satunya karena anak laki-laki keturunan kyai sebelumnya masih kecil / di bawah umur. Sebab lainnya karena memang tidak ada kecakapan dari anak keturunannya untuk memimpin pondok, baik kesalehan maupun keilmuannya. Sebab lain ketiga karena kyai tidak mempunyai anak keturunan laki-laki.

Perkembangan selanjutnya setelah dipegang pihak menantu, pondok pesantren bukan lagi lembaga kharismatik turunan di bawah kekuasaan satu tangan. Tetapi lembaga pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan milik bersama dengan pengelolaan pondok di bawah kepanitiaan. Inilah awal langkah pondok pesantren menuju alam demokrasi, artinya menuju pada sistem saham kepemimpinan yang terbagi-bagi di bawah demos dan kratos, atau di bawah suara rakyat santri. Sebuah kemajuan yang membanggakan dimana pondok pesantren mengikuti arus modernisasi suksesi.

Perubahan ini tidak berlaku untuk pondok pesantren yang sejak awal berdirinya memang sudah di bawah yayasan / kepemilikan bersama.

Oktober 27, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Aneka Umat Islam | | Belum Ada Tanggapan

Puisi Anak Muslim

Wahai kawan di naungan Islam
Waspada akan tantangan jaman

Tekun bekerja bersama doa
Pertolongan-Nya kita dambakan

Berilmu amaliyah
Beramal ilmiyah
Bertakwa Ilahiyah

Siap bela agama,
Nusa bangsa negara
Republik Indonesia.

*puisi ini menjadi penggalan lagu mars…

Oktober 23, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Aneka Umat Islam, Puisi | | Belum Ada Tanggapan

Membahayakan Tauhid, Lagu Ebiet G Ade “Berita Kepada Kawan”

aebiet
Setiap kali terjadi bencana di tanah air, lagu Ebiet G Ade yang berjudul “Berita Kepada Kawan” sering diputar di stasiun-stasiun televisi menjadi background music. Aku pun suka lagu itu. Kalau gitaran, lagu “Berita Kepada Kawan” biasa aku mainkan.
Tapi, lama kelamaan menyanyikan lagu itu, rasa-rasanya kok ada yang gak enak di perasaan. Hmmmpf….. Kenapa ya? Musiknya bagus, liriknya juga menyentuh perasaan. Apa ada yang nggak tepat… Coba kita simak dulu syairnya :

“Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan

Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
Gembala kecil menangis sedih

Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika kutanya mengapa
Bapak ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.”

Ternyata memang ada sebaris kalimat yang mengganggu, menyinggung lingkup ketauhidan.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa”.

Siapa Ebiet dan apa yang dimaksud dengan Tuhan (T huruf besar) dalam lagu itu? Apa agama yang dianut Kang Ebiet?
Baiklah kita kerucutkan bahwa Kang Ebiet beragama Islam dan yang dimaksud dengan kata Tuhan itu adalah Allah Ta’ala. Kalau ternyata Ebiet G Ade tidak beragama Islam, tidak perlu dibahas lebih lanjut dan dianjurkan untuk tidak lagi ikut menyanyikan lagu itu dengan perasaan yang tertuju pada “Tuhan”. Alias tidak ikut-ikut.

Kenapa menyinggung lingkup ketauhidan? Sayangnya aku bukan ahli hadist, bukan ahli tafsir, bukan ahli fiqh. Kalau aku ahli-ahli itu semua dan perasaan ketauhidanku terganggu dengan kalimat itu tentu aku bisa mencari dalil-dalil yang berkaitan, atau kaidah-kaidah fiqiyyah yang bersinggungan dengan pelanggaran ketauhidan..

Sifat Allah Ta’ala yang mukhal diantaranya adalah bosan. Tidak mungkin Allah punya sifat bosan. Dalam lagu itu ada kata “mungkin”, yang jelas diartikan mengandung dua jawaban, yaitu mungkin iya dan mungkin tidak. Dikaitkan dengan kalimat-kalimat syair sebelumnya, berarti Allah Ta’ala menciptakan bencana karena mungkin bosan melihat tingkah laku makhluk-Nya yang bangga dengan dosa-dosa. Disinilah letak ketersinggungan tauhid. Tuhan (Allah Ta’ala) tidak mungkin dan sekali lagi tidak mungkin bosan, sampai-sampai karena kebosanan-Nya itu kemudian membuat bencana untuk makhluknya yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Lagu itu memungkinkan Tuhan (Allah Ta’ala) bosan !!!

Kadang kita memang berlebihan mempersonifikasikan Tuhan sama dengan manusia. Ungkapan kecintaan lewat syair, tapi tidak ada kehati-hatian bahwa syair kita telah menyinggung sifat dan kesempurnaan Tuhan.

Dulu pernah ada lagu yang dilarang, karena ada kalimat “Takdir memang kejam”. Dengan bermacam dasar ketauhidan pula lagu itu dilarang kalau kalimatnya tidak diganti. Tapi kenapa lagu Ebiet G Ade dengan judul “Berita kepada kawan” ini tidak dilarang, padahal juga menyinggung ketauhidan?? Ataukah aku yang salah mengapresiasi???

Oktober 21, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Aneka Umat Islam, Apresiasi Lagu | , , , , , , , , , , , | & Komentar

Permasalahan Kemitraan Beternak Burung Puyuh Petelur

burung puyuh petelurtelur puyuh dalam kemasan/tray

Secara umum, para petani dan peternak di Indonesia cukup mumpuni dalam berproduksi. Yang menjadi kendala kemudian ialah kurang atau tidak adanya pemasaran. Menengok negara tetangga, Thailand. Menurut yang pernah penulis baca di majalah Trubus, entah terbitan kapan aku lupa, kalau tidak salah ingat, di sana ada kementrian pemasaran hasil-hasil pertanian, sehingga petani sebagai prosuden tidak lagi khawatir kalau sampai tidak bisa memasarkan hasil pertaniannya dengan keuntungan yang sesuai.
Indonesia sebagai negara agraris yang lebih luas daripada Thailand barangkali dalam Departemen Pertaniannya ada juga bagian yang mengurusi masalah pemasaran hasil-hasil pertanian. Hanya saja penulis belum mencari referensi sampai semaksimal bagaimana departemen pertanian berusaha agar para petani dan peternak di Indonesia tidak sampai merugi.

Dalam usaha burung puyuh petelur, tidak usah khawatir dengan pemasarannya, PT Peksi Gunaraharja menjalin kemitraan dengan petani peternak, termasuk dalam pemasaran produksinya. Tentu bukan hanya PT Peksi Gunaraharja saja yang mengelola usaha burung puyuh dari hulu sampai hilir, dari produksi sampai pemasarannya, ada banyak kemitraan-kemitraan yang lain. Namun penulis sebagai plasma yang bermitra dengan PT Peksi Gunaraharja cukup merasakan tidak repotnya memasarkan hasil telur burung puyuh. Sebagai produsen, bisa terkonsentrasi bagaimana memaksimalkan produksinya, tanpa terganggu dengan kekhawatiran apakah nanti laku atau tidak.

Setelah beberapa lama menjadi plasma dalam semi kemitraan dengan PT Peksi Gunaraharja, penulis menemukan beberapa permasalahan di dalamnya. Permasalahan ini tentunya lebih fokus dilihat dari sudut pandang peternak / plasma.
Ada 5 hal permasalahan dalam semi kemitraan tersebut. Kelima hal ini yang kemudian menjadi ukuran loyalitas peternak kepada PT, antara lain :

1. Pembelian bibit / DOQ.
2. Pembelian pakan.
3. Penjualan telur.
4. Penjualan apkiran.
5. Hutang.

1. Pembelian Bibit / DOQ.
Harga sekarang, Rp 1.250,- per-ekor bibit puyuh petelur merupakan harga yang relatif murah. Pihak PT sendiri terutama divisi hatchery tentu sudah memilihkan bibit yang sebaik-baiknya. Seperti yang pernah diceritakan, per-bibit-an ini juga impor dari luar negeri untuk mendapatkan bibit burung puyuh petelur yang unggul. Tentu tidak dianggap plasma / mitra PT Peksi apabila bibit mengambil dari luar PT.

2. Pembelian Pakan.
Menurut keterangan dari pihak PT, bahwa “pakan=telur”, maksudnya jumlah telur yang dihasilkan seukur dengan jumlah pakan yang dihabiskan burung puyuh. Untuk ini pihak PT sudah memberi patokan berupa range, dimana untuk 1 sak pakan dipatok menghasilkan telur sejumlah sekitar 1.350 butir. Jadi, apabila mengambil 2 sak pakan sedangkan telur yang disetor sejumlah 4.050 atau lebih, disimpulkan telah menambah 1 sak lagi yang bukan pakan dari PT. untuk kelebihan telur yang diluar range diberi harga yang berbeda (lebih murah dengan selisih sekitar Rp 6,- perbutir).
Tentang penambahan / pencampuran pakan ini nantinya akan dibahas dalam artikel tersendiri.

3. Penjualan Telur.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang kemitraan puyuh petelur, PT Peksi mengelola kemitraan tersebut dari hulu sampai hilir, dari produksi sampai pemasarannya. Kontinuitas produksi dan kelancaran pemasaran menjadi pokok usaha tersebut. Demikian juga sebagai perusahaan yang tentunya berorientasi profit, PT Peksi berusaha mendapatkan keuntungannya sejak pembibitan, pakan, sampai pemasaran produksi telurnya. Untuk ini, akan dianggap plasma yang kurang loyal kepada PT apabila plasma menjual telurnya ke luar PT. Hal ini juga bisa diukur dari patokan “pakan=telur”. Hanya saja patokan itu tidak mutlak berlaku dalam mengukur produksi/setoran telur ke PT, sebab bisa saja kurangnya produksi disebabkan kondisi burung puyuh yang kurang sehat atau penanganan yang kurang baik selama masa produksi.

4. Penjualan Apkiran.
Menjadi hal yang cukup merepotkan bagi peternak apabila puyuh peliharaannya sudah tua dan tidak lagi baik berproduksi. Untuk puyuh yang demikian tentu dijual menjadi puyuh pedaging, yang kemudian disebut dengan burung puyuh apkiran. Kalau jumlah apkirannya di bawah 1000 ekor mungkin belum begitu sulit menjualnya, namun kalau apkirannya di atas 5000 atau mencapai puluhan ribu tentu relatif sulit menjualnya. Untuk itu PT Peksi Gunaraharja sudah memberi solusi dengan kemampuannya membeli burung puyuh apkiran dari peternak / plasma. Pembelian burung puyuh apkiran oleh PT Peksi juga dihargai relatif tinggi, yaitu RP 2.500,- per ekor (saat ini), berapapun jumlahnya.
Secara kenyataan tetap ada juga kemungkinan menjual apkiran ke luar PT dengan pertimbangan harga pembelian yang lebih tinggi. Bagi plasma yang menjual ke luar PT ini dikategorikan termasuk tidak loyal.

5. Hutang.
Ke-4 permasalahan sebelumnya menjadi ukuran loyal tidaknya peternak/plasma terhadap PT. Secara kenyataannya ketidakloyalan itu tidak menjadi alasan PT menghentikan hubungan kemitraan, kecuali kalau ada yang keterlaluan. Namun sepertinya belum ada pemutusan hubungan kemitraan karena ke-4 permasalahan di atas, artinya belum ada peternak yang keterlaluan baik dalam bibit, pakan, penjualan telur, maupun apkiran.
Namun untuk permasalahan yang ke-5 ini pihak PT mau tidak mau harus menghentikan hubungan kemitraan. Cara penghentiannya bisa dengan tidak memberikan pakan, atau tidak memberi pesanan bibit.
Sekedar informasi saja, selama ini jumlah bedeb (hutang yang jelas tidak bisa ditagih lagi) dari peternak mencapai lebih dari Rp 1.000.000.000,-. Jumlah yang relatif besar.
Kenapa bisa ada hutang ?
Pada saat pembesaran burung puyuh sampai nilai produksi telurnya melebihi nilai pakan, pada saat itu juga peternak harus membayar pakannya terlebih dahulu secara tunai. Untuk pakan yang berupa BR, pihak PT memang tegas dalam pembayaran pakan. Tetapi pada masa pemberian pakan teluran, PT memberi kelonggaran dengan membolehkan peternak tidak membayar dulu pakan teluran selama nilai produksi telurnya belum melebihi nilai pakan yang dihabiskan puyuh. Masa ini memakan waktu sekitar 4x mengantar pakan (4 minggu). Kalau dalam seminggunya membutuhkan pakan 3 sak, berarti PT sudah memberi piutang sejumlah minimal (Rp200.000×3)x4 : Rp Rp 2.400.000,- yang memang menjadi rata2 hutang peternak terhadap PT. Selanjutnya hutang tersebut akan dipotong sedikit demi sedikit dari jumlah telur yang disetor. Piutang itu diberikan tanpa jaminan dan otomatis tanpa bunga. Piutang inilah yang kadang menjadi bedeb alias tidak bisa ditagih lagi karena hal-hal tertentu, terutama kalau peternak sudah tidak menjadi mitra PT Peksi.

Demikian sedikit tulisan mengenai permasalahan-permasalahan dalam kemitraan beternak burung puyuh petelur. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan, selamat bermitra……….

Oktober 21, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Puyuh | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | & Komentar

Orang Jawa Malas Seperti Menthog

“Menthog menthog tak kandhani
Mung rupamu angisin-isini
Mbok yo ojo ngetok
Ono kandang wae
Penak-penak ngorok
Ora nyambut gawe”

Sebuah lagu dolanan bocah yang tidak asing lagi bagi orang jawa (selain jawa barat, dki jakarta, banten, dan mungkin jawa timur yang termasuk “luar jawa”) . Arti bahasa Indonesia nya demikian :

“Menthog menthog tak kasih tahu ya
Wajahmu cuma memalukan
Jangan memperlihatkan diri
Di dalam kandang saja
Enak-enak tidur nyenyak
Tidak bekerja”

Ungkapan sindiran lewat lagu dengan cara yang sangat halus, sangat-sangat halus dan bijaksana, menjaga perasaan dan tidak menyakitkan hati tetapi harus tanggap dan dipahami, ditujukan untuk orang yang malas bekerja dan kerjanya cuma tidur. Obyek tujuan ini jelas terlihat dari kalimat “ora nyambut gawe” (tidak bekerja-ind), bukan “rasah nyambut gawe” (tidak usah/jangan bekerja-ind) ?!.
Umpatan menyebut jenis hewan pun juga dengan cara halus, yaitu : menthog menthog !!!!

Apalagi kalau syair lagu itu kita balik, akan terasa sekali citarasa sindirannya, demikian:

Ora nyambut gawe
Penak-penak ngorok
Ono kandang wae (gaweane)
Mbok yo ojo ngetok
Rupamu mung ngisin-isini
Tak kandhani (yo) !! (dasar ) menthog menthog !!!

Bahasa Indonesianya :

Tidak bekerja
Enak-enak tidur nyenyak
di dalam kandang saja (kerjaannya)
Jangan memperlihatkan diri
Wajahmu cuma memalukan
Tak kasih tahu ya !! : (dasar) menthog menthog !!!

Jadi, berdasar lagu yang dibuat orang-orang tua Jawa jaman dulu, orang Jawa malas seperti menthog, artinya : (kalau ada) orang Jawa (yang) malas (bekerja, berarti) seperti menthog. Kira-kira demikian… Hehehe..

Oktober 18, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Apresiasi Lagu | , , , , , | & Komentar

Sambel Pecel Mbah Pawiro

sambel pecel bumbu dapur

sambel pecel bumbu dapur

Ingat tujuh belasan, aku jadi ingat waktu kecil. Rame benar di desaku. Banyak tontonan, pameran, dan jajanan. Nah, ada salah satu yang jadi jajanan favoritku, yaitu pecelnya Mbah Pawiro. Nggak lupa setiap tujuh belasan aku pasti beli pecel Mbah Pawiro. Rasanya benar-benar pecel.

Sejak SMP sampe waktu belasan tahun aku sudah hengkang dari desa, jadi sudah nggak sempat lagi menikmati keramaian tujuhbelasan. Pecel Mbah Pawiro juga sempat lama terlupakan.
Dan sekarang Mbah Pawiro sudah uzur, nggak kuat lagi jualan pecel kalau tujuhbelasan, “trimo neng ngomah momong putu…” katanya.

Namun aku coba ngrayu cewek angkatan 45 ini buat ngajari bikin sambel pecel. Karena inti rasa yang lezat dari pecel ialah sambel pecelnya.

Bahannya cukup mudah didapat, semuanya ada 7 item ;
1. Kacang tanah
2.Cabe Rawit &/ Cabe Merah
3.Kencur
4.Bawang putih
5.Gula jawa
6.Daun jeruk nipis
7.Garam secukupnya

Jumlah untuk masing-masing item, lihat di gallery aja ya.. mungkin perlu di-zoom…. terus dikira-kira sendiri seberapa banyaknya. Itu buat yang tertarik mau bikin sambel pecel nan lezat selera very hot ala Mbah Pawiro.

Prosedur pembikinannya seperti ini :

Perlu diingat terlebih dulu, semua bahan harus disangrai (kecuali gula jawa dan garam), jangan digoreng dengan minyak. Itu untuk menjaga keawetan sambel pecel.

1. Kencur dan bawang putih disangrai sampe diperkirakan mateng, jangan sampe gosong banget. Diangkat.
2. Cabe dan daun jeruk nipis disangrai, terutama sampai daun jeruk nipisnya renyah. Tapi cabenya jangan terlalu kering. Diangkat
3. Selanjutnya kacang tanahnya disangrai juga, jangan lupa dibolak-balik.. biar nggak gosong.
4. Kalo sudah matang semua, selanjutnya kencur dan bawang putih dihaluskan terus disusul cabe, daun jeruk nipis, dan diberi garam secukupnya
5. Sedikit demi sedikit gula jawa mulai dihaluskan dan dicampur dengan bahan-bahan tadi.
6. Langkah terakhir campurkan kacang tanah yang sudah disangrai bersama semua bumbu-bumbu tadi, tapi JANGAN LUPA… kacang tanahnya DIHALUSKAN dulu ya !!!!!!
Warning : kalau capek menghaluskan dengan ulegan, bisa dengan cara ditumbuk…

SELAMAT MENCOBA..

Oktober 7, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Kuliner dan Dolan | | Belum Ada Tanggapan

Dahsyatnya G 30 S

Tidak kelihatan, tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbentuk….. tapi, halah halah…… kedatangannya bisa meninggalkan jejak yang dahsyat luar biasa.

Bukan api, bukan angin, bukan air, tapi akibatnya berani saingan sama kebakaran, topan, maupun banjir.

Tapi pada dasarnya sama saja, kalau sedikit bisa jadi teman yang bikin nikmat dan atau bermanfaat, tapi kalau berlebihan bisa jadi ancaman yang cukup gawat.

Sudah bisa ditebak kan?

Iya, kita baru saja kedatangan si dia, pada tanggal 30 September di wilayah Padang dan sekitarnya. Siapa tamu kita itu? Siapa lagi kalau bukan si Gempa, alias Earthquake, alias Lindu (boso jowo). Maka, kedatangannya yang akhir-akhir ini aku sebut G 30 S, alias Gempa 30 September.

Dahsyat, memang dahsyat, kalau lihat di tivi ada desa yang sampe hilang ketimbun, belum lagi hotel Ambacang yang jadi sedemikian rupa bentuknya (sampe hapal banget nama hotelnya), juga bangunan-bangunan lain termasuk rumah-rumah penduduk. Porak poranda.

Dengan disertai rasa turut prihatin, mudah-mudahan yang ditinggal diberi kesabaran dan ketabahan, tak pelak lagi banyak korban jiwa di dalamnya. Tanpa kompetensi apapun, tidak ada konsekuensi, bahkan pretensi, maka berani memprediksi kalau korban jiwa dalam peristiwa G 30 S di Padang sebenarnya bisa lebih banyak daripada gempa Jogja.

Bantuan juga relatif lebih sulit sampai ke daerah-daerah gempa yang terpencil. Akses transportasi tertutup, komunikasi daerah pelosok yang tidak terjangkau, jadi tambah memperparah keadaan. (sudah jelas).

Tidak memperkecil peran pemerintah, pihak-pihak swasta, dan bantuan-bantuan luar negeri. Mereka tentu sudah berusaha semaksimal-maksimal mungkin tanggap darurat menangani bencana. (sudah jelas).

Namun, bagaimana apabila gempa itu terjadi tidak hanya di Padang (Sumatera), tetapi bersamaan juga terjadi di Pulau Jawa, Kalimantan, Papua… dan seluruh pulau di Indonesia ???

Bagaimana juga apabila gempa itu terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi bersamaan serentak juga terjadi di Malaysia, Australia, Timor Leste, Amerika, Afrika…. dan di seluruh belahan bumi ini ??? Kemudian disusul tsunami juga di seluruh hamparan jagat raya ini ??? Apakah itu mungkin ???

Wah wah wah….. sulit sekali membayangkan keadaannya. Listrik padam, komunikasi terputus, transportasi macet total di seluruh wilayah dunia ini. Blaik tenan !!! Gelap. Tidak bisa smsan. Tidak bisa internetan. Hi….

Bumi kita ini sudah tua, sudah jompo, tua renta, alias sudah TOP (Tua, Ompong, Peot). Sudah jompo tapi yang tinggal di atas bumi masih banyak dihiasi maksiyat, kalaupun bisa menjauhi maksiyat tapi tidak bisa meninggalkan maksiyut (?). weleh…

Terus kapan kita mau sadar, sadar untuk kembali ke jalan yang benar. Kita ya kita, manusia !! Mosok negara ?? Aneh kan kalau negara yang disuruh kembali ke jalan yang benar ?? J

Sudah diperingatkan berkali-kali kok tidak mau sadar juga

“dan apabila bumi diratakan.

dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.

dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).”

(Al-Insyiqaaq: 3-5)

Oktober 6, 2009 Ditulis oleh ariefmas | Ngomong2 Bangsa & Negara | | Belum Ada Tanggapan