“Sunan Kuning” Menjadi Lokalisasi Percontohan Indonesia

Setiap tahunnya penderita IMS menurun.
Pemantauan penggunaan kondom di resosialisasi Sunan Kuning dapat dideteksi dengan test Voluntary and Counseling Testing (VCT) dan Screening yang wajib dilaksanakan oleh para pekerja seks.

Pemeriksaan yang diwajibkan bagi para PSK tersebut sudah ada sejak Juni tahun lalu, dan disediakan di Puskesmas Lebdosari serta Klinik Gria Asa.

“Alhamdulillah sekarang jumlah para penghuni di resosialisasi ini mengalami penurunan pengidap IMS sudah cukup signifikan. Mulanya yang berjumlah sekitar 56 orang, kini turun menjadi 20 orang,” kata Suwandi.

Data tersebut diharapkannya dapat kembali mengalami penurunan minimal 10 %. Sebab dikhawatirkan hal itu dapat berakibat penularan virus HIV/AIDS. “Pekerjaan mereka yang penuh resiko tertular IMS itu harus dilengkapi dengan pengaman, saya menekankan pekerja seks jangan hanya mementingkan faktor komersil saja,” lanjut Suwandi.

Menurutnya, hal itu merupakan salah satu upaya mewujudkan Resosialisasi Argorejo sebagai percontohan resosialisasi di Indonesia. Lokalisasi tersebut akan dijadikan sebagai tempat pemantauan penyakit seksual. Karenanya, tak hanya pekerja seksnya saja yang secara rutin diberikan pembinaan, tapi demikian halnya para mucikarinya.

“Memang sebagian besar masyarakat menganggap para pekerja seks komersi itu sebagai pekerjaan hina. Namun, semuanya memiliki latar belakang yang berbeda hingga mereka terperangkap dalam profesi tabu ini. Saya dapat memahami kondisi mereka, tetapi saya berharap mereka sesegera mungkin dapat keluar dari pekerjaan ini,” tutup Suwandi.

(dikutip dari: Suara Merdeka)

Berita Terkait:

Sidak Pemakaian Kondom di Sunan Kuning

Senin tadi (15/2), suasana Resosialisasi Argorejo atau sering disebut Lokalisasi Sunan Kuning (SK) masih tampak lengang. Kafe, bar, maupun wisma masih tertutup rapat.

Serombongan pegawai Kecamatan Semarang Barat didampingi Ketua Resosialisasi Argorejo, Suwandi menyusuri gang-gang lokalisasi tersebut. Sekonyong-konyong, Ayu, seorang penjaja seks yang kebetulan sedang menyantap semangkuk soto ayam di depan sebuah wisma terperangah. Dia yang masih berbusana minim, dengan gagap kembali masuk ke dalam wismanya.

Kukuh Sudarmanto, Camat Semarang Barat yang memimpin sidak penggunaan kondom di lokalisasi itu pun segera mengetuk pintu wisma tersebut. Kedatangan orang nomor satu di kecamatan itu disambut penuh tanya seisi penghuni. Buru-buru Kukuh menjelaskan, maksud kedatangannya untuk menanyakan kewajiban para penguhuni SK dalam menggunakan kondom tatkala melayani “Pria Hidung Belang”.

Belasan penghuni wisma itu pun dikumpulkan di depan teras. “Kami berusaha menekan jumlah pengidap infeksi menular seksual (IMS) di lingkungan lokalisasi ini. Karenanya, saya berharap mbak-mbak yang ada di sini harus tertib menggunakan kondom. Sebab itu juga demi kesehatan mbak-mbak sekalian,” kata Kukuh yang sering disebut “Camat Kondom” itu di hadapan para pekerja seks komersil.

Ayu, pekerja seks komersil asal Jepara itu nampak lega mendengarkan penjelasan Kukuh. Dia yang mengaku trauma dengan kejaran aparat saat razia itu pun angkat suara. Menurutnya di setiap aksinya dia selalu menyediakan kondom. “Sayangnya banyak konsumen yang enggan menggunakan kondom, dengan berbagai macam alasan. Tidak enak lah, ukuran tidak pas, dan banyak lagi,” keluhnya.

Sembari tersipu dia mengaku sangat terganggu dengan penolakan konsumennya untuk mengenakan kondom itu. “Padahal saat di luar dia menyetujui mau memakai kondom. Sesampainya di kamar mereka malah menolak, mengingkarinya. Mungkin lantaran mereka merasa telah membayar,” lanjut Ayu yang dibenarkan oleh teman-teman seprofesinya.

Sementara itu, Suwandi menegaskan mewajibkan para wanita penghuni lokalisasi itu untuk tetap bersikukuh menggunakan kondom. “Jika ada yang ketahuan tidak menggunakan kondom, saya akan memperingatkan secara langsung. Jika hal tersebut berulang sampai krtiga kalinya, saya tidak segan-segan mengeluarkannya dari resosilasisasi,” tegas Suwandi.

(dikutip dari: Suara Merdeka)

About these ads

9 gagasan untuk ““Sunan Kuning” Menjadi Lokalisasi Percontohan Indonesia

  1. alhamdulillah,atas berkatat rahmat allah
    kami siap membantu masaalah bagi saudara yg ada permasalahan hidup
    1)kena santet atau guna guna
    2)memisahkan pil atau wil
    3)seret rejeki karena ulah seseorang yg gak suka
    4)penarikan energi alam
    insyaallah kami siap membantu maslah saudara
    semoga bermanfaat
    silahkan konsultasi
    anwarmuhamad93@yahoo.co.id
    semoga bermanfaat
    amien

  2. Sebaiknya dilokalisasi sunan kuning juga harus mulai difikirkan bagaimana mereka harus menabung untuk masa depan dan diajarkan juga cara wiraswasta mandiri yg benar. saya kasian kalo melihat mereka sulitnya cr nafkah tapi terkadang dipakai untuk saat itu juga. tolong dech hindari untuk merokok dan minum apalagi pakai sabu.buat mbak2 semangatlah untuk cr masa depan yang lebih baik.

  3. Para orang yang tidak tahu tentang sunan kuning……Memang itu sebenarnya cuman lidah orang Semarang aja yang nyebut Sunan Kuning itu lebih mudah,……Aslinya Itu nama makam Cina yang ada di daerah itu, Namanya…Shun An Kun Ing,…….lidah Orang Semarang kan susah nyebut itu, makanya cari gampangnya aja Jadi SUNAN KUNING>

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s