Kejujuran dan Kematian
Kejujuran dan kematian. Dua hal yang sebenarnya tidak berhubungan. Namun lain halnya jika antara kejujuran dan kematian ada satu kata yang menghubungkan , yaitu : kekuasaan.
Setelah ditambah kata ‘kekuasaan’ kemudian kejujuran dan kematian menjadi terhubung. Kenapa ?
Saya yakin seyakin-yakinnya para pembaca yang budiman tentu sudah faham.
Sudah berapa saja kejadian sejak jaman kerajaan-kerajaan kuno sampai kerajaan milenium, banyak kematian yang disebabkan kejujuran setelah berbenturan dengan kekuasaan. Kekuasaan yang bagaimana ? Tentu kekuasaan yang lalim, yang sewenang-wenang, yang penuh dengan borok-borok hitam keserakahan dan kejahatan. Nyawa manusia yang berarti hak hidup, hak untuk menghirup nafas, hak untuk berpikir, hak untuk jujur : tidak ada harganya. Dimatikan untuk dibungkam.
Memang tidak semua kejujuran akan terhubung dengan kematian jika berurusan dengan kekuasaan. Banyak juga kejujuran yang berbuah hasil gemilang, yaitu menumbangkan kelaliman, membersihkan borok-borok yang menempel di tubuh kekuasaan. Dan itu juga sangat mungkin terjadi, biarpun kematian tetap menjadi resiko agar kejujuran bungkam.
Karena itu, pejuang kejujuran tentu faham resiko. Terus melawan atau diam ? Karena “yang sedang berkuasa” memang bisa berbuat apa saja. Untuk mempertahankan kekuasaannya. Jika jahat dan buruk, kekuasaan juga untuk menutupi kejahatan dan keburukannya. Apalagi jika dihimpit kejujuran dari berbagai arah, kekuasaan bisa kalap dan melahap siapa saja yang melawan, baik dengan cara halus maupun dengan cara kasar. Pejuang kejujuran hanya mempunyai dua pilihan : berhasil dengan gemilang atau minimalnya masuk kurungan.
Kejujuran memang mahal harganya.
Apakah ada yang berani melindungi kejujuran ?
Belum ada komentar.


