Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Wiyata Bakti dan Nepotisme Kerajaan Mini

Jangan terlalu menyalahkan kebijakan.

Kalimat bagus dari sebuah web, mengawali tulisan ini. Karena memang dapat dipahami, bahwa kebijakan selalu ada akibatnya. Akibat baik maupun akibat yang oleh sebagian kepentingan dianggap tidak baik. Ada sisi baik dan sisi tidak baiknya. Tentu juga, kebijakan muncul karena ada sebabnya, sebab yang mendorong dan menjadi dasar pertimbangan munculnya kebijakan tersebut. Tentu lagi, yang menyusun kebijakan mestinya juga orang-orang yang benar-benar ahli di bidangnya dan sudah memikirkan akibat-akibat yang dimungkinkan terjadi. Dan lagi lagi tentu, kebijakan dibuat tidak begitu saja, tetapi dengan proses yang relatif tidak mudah dan begitu saja.

Menyorot pada penerimaan pegawai negeri beberapa waktu lalu, dimana dapat diterima langsung dengan tes, tanpa syarat magang, dll. Ternyata menimbulkan gejolak yang cukup berkepanjangan. Hampir di semua media massa memunculkan masalah-masalah yang timbul dari cara penerimaan pegawai negeri. Terutama pegawai-pegawai status wiyata bakti yang menerima akibat langsung sistem itu. Ada yang sudah 15 tahun wiyata bakti tetapi belum diangkat menjadi pegawai negeri, sedangkan yang sama sekali tidak menjalani wiyata bakti, bisa langsung diterima menjadi pegawai negeri. Ironis. Karena tenaga wiyata bakti juga memang relatif berlebih.

Waktu berikutnya untuk memecahkan masalah, diambil kebijaksanaan yang sepertinya diserahkan pada masing-masing kabupaten sebagai salah satu bentuk otonomi daerah, untuk secara otomatis mengangkat tenaga wiyata bakti yang tidak lolos tes, menjadi pegawai negeri, dengan mempertimbangkan umur dan lamanya mengabdi sebagai tenaga wiyata bakti. Melegakan.

Tahun berikutnya, dan selanjutnya sampai sekarang, kebijakan penerimaan pegawai negeri menjadi semakin mapan. Tenaga wiyata bakti dapat bernapas lega. Karena wiyata bakti akhirnya menjadi syarat utama untuk menjadi pegawai negeri. Sehingga yang tidak tenaga wiyata bakti dan mengharap menjadi pegawai negeri, cuma bisa gigit jari. Sedangkan yang wiyata bakti tinggal menunggu antri sambil memenuhi syarat-syarat yang kira-kira nanti dibutuhkan atau memang sudah diputuskan. Selesai sudah permasalahan kepegawaian, terutama tenaga wiyata bakti, yang sempat merasa dirugikan dan dianaktirikan.

Tapi apa sudah benar-benar selesai ?

Ternyata, wiyata bakti juga menyimpan banyak misteri. Misteri yang terpendam, sengaja dipendam, dipersilahkan, atau memang dibiarkan karena dianggap tidak menjadi masalah dibanding masalah dirugikannya tenaga wiyata bakti yang telah bertahun-tahun mengabdi.

Sebagai contoh, lebih mengerucut pada lembaga pendidikan, ternyata wiyata bakti menimbulkan kejadian-kejadian yang lucu. Dimana sang ibu menjadi kepala sekolah, tenaga pengajarnya juga beberapa terdiri dari anaknya, menantunya, ponakannya, anak tetangganya, saudara tetangganya, bahkan temannya teman tetangganya.

Nepotisme !!!!!!

Ya, yang terjadi kemudian adalah nepotisme. Hubungan persaudaraan, pertemanan, koneksi, relasi, hubungan baik, atau dengan sedikit sentuhan oleh-oleh saat bertamu. Itu semua menjadi hal pokok untuk yang berkeinginan menjadi tenaga wiyata bakti. Gambaran nepotisme di suatu wilayah kerajaan mini.

Jangan harap, sekali lagi jangan harap tanpa itu semua dapat menjadi tenaga wiyata bakti. Sangat kecil kemungkinan diterima, kalau tidak ada syarat-syarat seperti itu, benar-benar mengandalkan keberuntungan atau nasib baik, bukan profesionalisme keahlian, kepandaian, atau semangat bekerja di bidangnya. Surat-surat lamaran menjadi tenaga wiyata bakti hanya dibiarkan menumpuk, atau malah sudah terbuang. Untuk yang sedikit baik hati, masih menyempatkan untuk membalas surat lamaran, dengan alasan sudah penuh. Walaupun esok paginya ternyata ada tenaga wiyata bakti yang baru diterima bahkan tanpa surat lamaran.

( dengan catatan, tulisan ini hanya sebatas yang penulis tahu, sebagai masyarakat yang awam tentang peraturan dan tetek bengek kepegawaian )

Apakah hal nepotisme seperti itu menjadi masalah ?

Kalau memang menjadi masalah, harusnya dicari pemecahan masalahnya. Bagaimana agar tidak terjadi nepotisme dalam kerajaan mini. Sehingga diharapkan terjadi pemerataan kesempatan kerja. Umpamanya, penerimaan tenaga wiyata bakti menjadi hak penuh tingkat kabupaten. Lamaran diajukan ke tingkat kabupaten. Dimana yang diterima otomatis menjadi tanggungan kabupaten? Wah, tentunya kabupaten menjadi sangat repot. Mungkin juga malah menimbulkan masalah-masalah kepegawaian yang berkaitan dengan peraturan-peraturan yang hanya dipahami perangkat pemerintah bidang kepegawaian.

Apabila dibuat kebijaksanaan penerimaan tenaga wiyata bakti lewat tingkat kabupaten dengan tujuan memangkas kesempatan nepotisme. Kejadiannya bisa diperkirakan. Tetap kemungkinan besar terjadi nepotisme lagi dalam strata kerajaan yang lebih besar, kerajaan tingkat kabupaten. Ada saja jalan yang bisa ditempuh untuk menyiasati peraturan, menyiasati kebijakan. Jangan harap bisa diterima, kalau tidak ada hubungan dengan pemegang penerimaan, atau rekomendasi dari orang berpengaruh, atau paling tidak, nepotisme menjadi modal segar yang memperbesar kemungkinan diterima.

Hal itu sepertinya tidak menjadi masalah, atau memang tidak dipermasalahkan. Bisanya cuma menggerutu saja untuk pengangguran-pengangguran yang tidak memperoleh kesempatan ber-nepotis-ria. Kenyataannya tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang disingkirkan atau merasa dianaktirikan. Buktinya, tidak ada yang demo ! tidak ada yang protes ! Rasanya nepotis-ria menjadi hal yang wajar di negeri tercinta ini. Merambah hampir di segala bidang dan segala lembaga. Bisa jadi juga tidak hanya di wilayah kerajaan mini, mungkin di wilayah kerajaan yang lebih besar juga lebih besar dalam ber-nepotis-ria. Hanya mungkin lho !!!!

Uhhhhh….. susah memang !!!!!!.

( konon, nepotisme sudah ada sejak jaman penjajahan dulu, jadi yang sekarang merupakan sekedar salah satu warisan sistem tidak resmi, yang terpelihara dan dilestarikan )

Demikian kalau menilai dan memandang dengan kaca mata hitam. Toh, tidak semuanya begitu. Mudah-mudahan masih banyak yang tidak seperti itu dan nyata. Mudah-mudahan.

 

 

28 Juli 2008 - Posted by | Catatan Saya | , , , ,

1 Komentar »

  1. sy adlh lu2sn d3 bhsa inggris,bisakh sya jd wiyata bhakti??klo bsa bgaimana prosdur pngjuan lmrn wiyata bhakti’y?sya tnggal d’sukoharjo,mhon blasan’y.

    Komentar oleh pipin | 21 Februari 2012 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: