Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

MAKELAR BANTUAN

Sore yang indah. Duduk-duduk di beranda rumah. Melihat orang-orang lalu lalang. Ada yang baru pulang kerja. Ada yang sekedar beli mi di warung sebelah. Atau malah ada yang cuma jalan-jalan. Sesekali menyapa, sekedar sapaan pergaulan tanpa kepentingan.Beginilah kalau jadi orang yang luang waktu. Masih sempat duduk-duduk, menghisap rokok, menikmati segelas teh. Seolah nggak merasakan kalau sebenarnya lagi nggak punya uang. Hehehe…

 

Brrrm…. Ada sepeda motor berhenti di depan rumah. Pengendaranya turun, melepas helm, kemudian senyumnya yang cerah ditujukan padaku. Ternyata temen main, rumahnya di kecamatan sebelah. Wehehe.. ada apakah gerangan ?

“Tumben, sore-sore…??” Tanyaku sedikit basa-basi.
“Iya, mas. Ini ada berita baik !” Dia menjawab sambil meletakkan helm, terus jabat tangan. Kemudian duduk di kursi depanku. Wajahnya kelihatan cerah. Matanya berbinar-binar. Bener-bener menggambarkan suasana hati yang terang benderang. Hehe… jadi penasaran juga.

“Berita apa to ? Kelihatannya kok cerah banget !!” Aku bertanya lagi sambil masuk ke dalam, membikinkan teh buat tamu yang nada-nadanya memang bakal menggembirakan.

Sepertinya temenku itu tahu juga kalau aku penasaran. Setelah nyruput teh yang aku suguhkan, dia belum juga bicara, malah kemudian nyulut rokok.

Aku diam. Pura-pura tidak ingin tahu dia bawa berita baik apa. Dia juga diam. Beberapa kali isapan rokok, tanpa bicara sepatah kata. Sepertinya memang sengaja bikin penasaran. Ujung bibirnya terhias senyum-senyum kecil. Senyum ngerjain. Tapi matanya tetep nggak bisa nipu. Mata yang membawa berita baik. Aku bertahan diam. Menunggu.

Sesaat beberapa lama, akhirnya dia yang mulai buka mulut:
“Ada proyek lho, mas !”
“Walah, proyek apa ? Kok kayak pejabat wae !! Gayamu sok !!” Aku sambut dengan buka mulut nanggapi tapi tetap dengan keliatan nggak tertarik.

“Bener, mas ! Ini bener-bener proyek. Langsung dari pusat lho !” Dia bicara dengan penuh antusias. Seperti gunung yang mau meledak. Seolah-olah ingin segera ditumpahkan.
“Pusat mana ? Terus apa proyeknya ?” Sahutku dengan nada yang datar. Nada meremehkan. Bergaya seolah-olah sudah biasa dengan kabar-kabar seperti itu.

“Pusat itu ya Jakarta. Proyek bantuan. Wis to, pokoke penak, hasile gede”, katanya sambil menyandarkan punggung. Kakinya diangkat satu, menyilang di atas kaki yang satunya lagi. Bersiap-siap menerangkan hal-hal yang dirasa penting. Ya, seperti orang penting.

Setelah menghisap rokok beberapa kali, sebelum melanjutkan keterangan, dia malah lebih dahulu bertanya, “Mas banyak kenal dengan orang-orang sekolahan to?”

Ada.” Jawabku dengan sungguh-sungguh,” terus orang sekolahan yang gimana? “ Ganti aku yang bertanya.

“Gini, mas. Kalau banyak kenal dengan orang sekolahan. Negeri boleh, swasta juga boleh. Syukur-syukur bisa langsung dengan kepala sekolah, jelas lancar. Proyek ini tujuannya untuk sekolahan-sekolahan.”Temenku mulai membuka keterangan.“Orang pusat yang mbawa proyek ini ini orang penting, Mas. Sekarang masih ada di hotel, sampai dua hari ke depan. Beliau punya akses sampai ke dirjen, bahkan sampai ke menteri. Tingkatnya nasional. Setelah dari sini, beliau terus ke flores. Padahal kemarin juga beliau baru dari kalimantan, dari garut, sumedang, bahkan juga pasuruan. Ya mengurus bantuan-bantuan ini. Menolong sekolahan-sekolahan yang pada butuh bantuan. Orangnya baik, lho Mas. Sangat memperhatikan kebutuhan-kebutuhan tingkat bawah…”

 

Sebelum temenku terus nyerocos menceritakan orang pusat itu. Aku potong pembicaraannya sambil bertanya, “Lho, apa proyeknya ? Apa ada kaitan dengan masyarakat atau bagaimana? Kok malah sekolahan-sekolahan to ! Jelas kita nggak bisa. Pengangguran kok ngurus bantuan sekolah to !”

“Lho, ini bener, Mas. Kita sekedar pembawa informasi…….., “Temenku kembali mulai menerangkan pada tema semula. Padahal tadi sudah membelok jauh. Sepertinya dia memang tahu, atau sekedar menerima keterangan dari orang pusat itu. Begini dia melanjutkan :
“Gini, Mas. Sekolahan-sekolahan kan pada butuh bantuan. Sedangkan dari pemerintah daerah sendiri kurang mengakomodasi. Rata-rata sekolahan sudah beberapa kali mengajukan proposal ke kabupaten, bahkan berbulan-bulan atau mungkin sampai hitungan tahun, belum juga turun bantuan yang dibutuhkan. Kasihan to…! Nah, orang pusat ini bilang, lewat dia bantuan bisa turun dengan cepet, tanpa melalui prosedur yang berbelit-belit, langsung ke pusat, tanpa melalui kabupaten”

Rasanya ada yang janggal dengan keterangannya. Karena itu aku potong lagi kata-katanya: “Langsung pusat? Tanpa melalui kabupaten? Tidak berbelit-belit? Hehe.. gimana to maksudnya? Ini bantuan dari mana? Dari yayasan luar negeri atau dalam negeri. Atau malah dari konglomerat yang sampai kebingungan uangnya mau buat apa !!!???”

Seperti kaget, dia melanjutkan lagi : “Walah, tak pikir paham. Bantuan ini tidak dari yayasan atau dari swasta. Bantuan ini dari pusat. Dari diknas. Dinas pendidikan pusat. Ini bantuan resmi ! Katanya ini bantuan non anggaran. Jadi bisa turun kalau ada yang mengajukan. Sepertinya rahasia banget, lho Mas. Sekolahan mana yang tahu, sekolahan mana nanti yang dapet, berarti keberuntungan, berarti mendapat durian runtuh.”

Hm, rasanya kok masih janggal dan aneh. Pikiranku mencoba menganalisa. Mana ada dana resmi tanpa melalui prosedur resmi. Menurut pemahamanku, semua yang berkaitan dengan birokrasi, pasti melalui prosedur birokrasi. Tidak mungkin tanpa birokrasi. Tapi analisaku aku bantah lagi dengan analisa yang lain. Mungkin saja bisa begitu. Kondisi dan sistem pemerintahan sekarang ini, bisa jadi memungkinkan keadaan seperti itu. Dana-dana siluman non anggaran mungkin bisa jadi hidangan pesta yang lezat untuk mereka yang mendapatkan kesempatan. Pemegang-pemegang kekuasaan terkonsentrasi mempertahankan dan menjaga kekuasaannya. Terkonsentrasi pada politik. Sampai-sampai melupakan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Tanggung jawab untuk rakyat. Ah, tapi apa ya mungkin ?

Sebelum berlanjut analisaku. Sebelum aku mengajukan pertanyaan bagaimana prosedurnya. Temenku kembali menerangkan dan menekankan keterangannya:
“Pokoknya bantuan ini bener-bener resmi, Mas ! Prosedurnya juga resmi. Begini, Mas. Mas mendatangi kenalan atau temen yang jadi guru, atau malah kepala sekolah. Kemudian ceritakan tentang bantuan ini. Tentu mereka tertarik. Ceritakan bantuan ini bener-bener resmi dari Diknas. Dan kenyataannya memang resmi dari Diknas.”

“Terus…?” Aku bertanya dengan masih merasa janggal dan aneh.

“Ya bilang saja ini langsung dari Diknas. Dana non anggaran, non bajeter… kalau nanti dana sudah turun. Tidak akan ada ngurusi. Tidak perlu laporan pertanggungjawaban. Tidak perlu takut-takut ada yang inspeksi. Dibagi-bagi ke guru-guru aja juga nggak masalah. Aman, Mas. Lumayan to bisa untuk meningkatkan kesejahteraan guru-guru.”
Setelah bicara itu, temenku terdiam sejenak. Mengambil rokok, kemudian menyulut. Diisapnya dalam-dalam, kemudian dihembuskan jauh-jauh. Seperti ada kelegaan karena berhasil memulai keterangan yang numpuk di pikirannya.

Aku sendiri melemparkan pandangan ke arah lain. Semakin aneh. Keterangan yang tadi saja sudah aneh. Ini malah lebih aneh. Dana resmi kok bisa-bisanya tanpa laporan pertanggungjawaban. Setahuku kalau aku curi-curi dengar teman-teman yang beruntung kerja jadi staf di pemerintahan, atau di lembaga-lembaga pendidikan, rasanya belum ada dana bantuan yang senikmat ini. kalau biasanya pada cerita, jangankan tanpa laporan, bahkan beli paku satu ons aja harus pakai nota. Hehe, jadi inget ada temenku buka usaha jualan komputer. Pemasukan paling besar malah dari pegawai-pegawai yang instansinya membutuhkan komputer. Setiap kali pesen komputer seharga 2,5 juta, minta notanya dinaikkan jadi 5 juta. Temenku dapat dobel keuntungan, selain keuntungan jualannya, juga dapat fee 150 ribu Jperkwitansi. Lumayan juga

Kembali aku teruskan bertanya: “Kalau sudah tertarik, terus caranya bagaimana?”

Dengan sungguh-sungguh temenku menerangkan : “Sudah pasti tertarik.. Gini Mas caranya. Pertama, suruh sekolahan itu bikin proposal. Proposal apa saja. Mau pembangunan gedung baru, pembangunan wc, pembangunan pagar sekolah, atau apa saja. Setelah itu, proposalnya dititipkan, sama kita juga boleh, mau langsung dibawa ke orang pusat di hotel itu juga boleh. Terserah sekolahnya mau gimana. Yang kedua, orang pusat ini minta syarat menyerahkan uang satu juta untuk operasional. Gimana ? Sudah jelas ? Waktunya Cuma dua hari ini lho !”

“Lho ? Kok pakai uang satu juta ?” Aku bertanya lagi.

Dia jawab: “iya mas, itu ketentuan dari orang pusat tadi. Untuk operasional. Itu nanti dipotongkan dari pembagian besok kalau dana sudah turun. Tegasnya, kalau emang nggak mau pakai uang satu juta. Ya berarti ditinggal aja. Masih banyak yang antri dan pengen. Masih banyak yang butuh.”

“Pembagian gimana maksudnya?” Aku bertanya minta penjelasan. Keterangannya tadi sempat membicarakan tentang pembagian. Ini yang malah tidak sedikitpun aku pikir.

“Wah, gimana to Mas. Ya mesti ada pembagian-pembagiannya. Ada pemotongan saat nanti dana sudah turun. Gitu lho…!” Jawab temenku. Kemudian dia melanjutkan lagi : “Dana ini nanti turun langsung dari pusat ke rekening sekolah. Rekening ini juga ada aturannya, Mas. Yaitu harus atas nama Komite Sekolah, bukan atas nama Kepala Sekolah atau atas nama Sekolah. Jadi dana ini nanti turun langsung ke Komite. Jadi wajar to kalau nggak ada inspeksi, nggak ada pertanggungjawaban. Komite sekolah kan tidak ada atasannya. Jadi bener-bener kepedulian untuk kemajuan sekolah. Kan lebih bersih ini to, Mas. Daripada langsung ke sekolah, tapi sudah penuh dimanipulasi sekolah atau malah sudah dipotong sama yang diatas-atasnya ?? Bantuan ini kan jadinya terbuka, komite yang pegang, kepala sekolah juga mengetahui !”

“Tadi katanya suruh ke kepala sekolah ? Sekarang katanya ini jalur untuk komite sekolah ? Gimana to ?” Tanyaku dengan sok kritis.

“Sebentar to… sebentar… Bantuan ini memang untuk sekolah, tapi lewat komite sekolah. Baik pengajuan proposal ataupun nanti penandatanganan kwitansi, juga harus kedua-duanya, ketua komite dan kepala sekolah. Cuma yang memegang rekening dan atas namanya harus komite sekolah. Gitu… Terus tentang pembagiannya, begini Mas……….. !” Temenku diam sejenak. Mematikan rokoknya, kemudian minum teh. Mungkin saking semangatnya menerangkan begitu panjang lebar, sampai lupa kalau tenggorokannya kering.

Sama saja aku juga diam. Sambil nunggu dia melanjutkan info proyek aneh ini, angan-anganku melayang jauh. Terbayang gambaran luasnya bumi tanah air-ku ini. Terbayang kesibukan orang-orang yang tinggal di atasnya. Bayangan-bayangan yang mungkin sama sekali tidak ada kaitannya dengan berita proyek aneh yang dibawa temen.

“Ehm..!” Temenku berdehem, entah karena serak, atau sekedar minta perhatian lagi, kemudian dia melanjutkan pembicaraan tadi : “Pembagiannya begini, Mas. Dana itu nanti turun dari pusat ke rekening Komite dengan penuh sesuai ketentuan dari pusat. Nah, setelah itu, pihak sekolah yang nanti memotong dana itu sebesar dua puluh lima persen. Potongan ini nantinya diserahkan pada kita. Selanjutnya, kita transferkan sebagian untuk pusat.”
Aku tetep saja diam, memberi kesempatan temenku bicara. Pandangan mataku menunjukkan aku serius mendengarkan keterangannya.

Seolah-olah dia tahu apa yang ada di benakku, temenku tadi melanjutkan lagi : “Tegasnya, si orang pusat ini sebenarnya minta sepuluh persen. Dana sepuluh persen ini juga dibagi-bagi, termasuk untuk dirjen, juga untuk satu grup-nya. Beliau kan tidak sendirian, Mas ! Jadi tentang pemotongan ini juga harus kita sampaikan ke pihak sekolah. Sanggup atau tidak ! Kalau tidak sanggup, ya ditinggal saja. Masih banyak sekolah lain yang butuh ! Nah, yang lima belas persen itu nanti kita bagi rata. Itu nanti bisa kita rembug lagi, Mas. Gampang pokoknya kalau bagi-bagi diantara kita !”

Selintas aku punya pikiran, karena itu aku langsung bertanya, “kalau seupama dana turun, tapi pihak sekolah ternyata nggak jadi motong yang dua lima persen itu, terus gimana ?”

“Wah, itu sudah bukan urusan kita, Mas. Itu nanti urusannya pusat, urusannya dirjen. Kalau sampai sekolahan itu nggak ngasih apa yang udah disanggupi, sekolahan itu bakal masuk black list, masuk daftar hitam di pusat sana. Resikonya, selanjutnya nggak bakal dikasih bantuan lagi. Tentu bantuan yang berkaitan dengan kedirjenan ini. Udah cukup paham to, Mas !?” temenku menjawab sembari menegaskan lagi dan dengan penuh kepercayaan diri, seolah-olah sudah sangat pengalaman: “Sudahlah, Mas. Segera saja bergerak, hubungi temen-temen sekolahan yang mas kenal. Kalau sudah clear, terus sms atau nelpon saya. Nanti kalau sudah ketemu sama orang-orang sekolahan, tak jamin jadi lebih paham.”

Setelah sama-sama terdiam beberapa saat, aku berkata dengan singkat :
“Oke lah, aku usahakan.” Tanpa ekspresi. Sebersit keraguan dalam pikiranku. Apa ada yang mau ya. Hehe… Apa memang sekarang sudah musim otonomi sekolah ? Aku sendiri kurang paham itu. Kalau sekolah swasta aja bisa jadi begitu. Tapi ini sekolah-sekolah negeri juga boleh ditawari. Aneh.

Sepertinya temenku juga jadi tergesa. Tapi nampak kepuasan di wajahnya. Kepuasan memberi keterangan, kepuasan jadi orang penting, dan kepuasan ada harapan dapat durian runtuh.
Kemudian dia membetulkan letak jaketnya yang sedari tadi memang tidak dia lepas. Setelah itu dia pamitan. Entah mau kemana lagi.

Sebenarnya pikiranku merasakan keterangan-keterangan temenku tadi malah jadi dingin. Sangat aneh, sedemikian mudahnyakah ?? Hehe… Tapi apa salahnya dicoba. Siapa tahu bener bisa menghasilkan dan aman. Kalau dihitung-hitung, tiap sekolahan aku kira-kira dapat segini, kalau dua sekolahan berarti dapat segini kali dua, kalau tiga sekolahan berarti ya segini kali tiga. Wow….!!

Selepas magrib aku berkeinginan main ke rumah temen yang jadi kepala sekolah sebuah SD. Tapi setelah aku pertimbang-timbangkan, kok aku jadi ragu-ragu. Ah, daripada memalukan, karena aku sebenarnya meragukan, akhirnya aku telpon saja. Kalau misalnya nggak mau dan sambil menerang-nerangkan yang bikin aku keki, lewat telpon kan nggak masalah.

Setelah basa-basi sejenak dalam telpon, aku terangkan semua persis seperti yang diterangkan temen tadi sore. Anehnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan temen yang jadi kepala sekolah ini sama persis juga dengan pertanyaan-pertanyaanku, bahkan nadanya sangat antusias. Halah…. Dan anehnya lagi, temen kepala sekolah ini langsung menyetujui, langsung tertarik, dan langsung oke, termasuk nantinya memotongkan 25% dari dana yang turun. Lebih aneh-anehnya lagi, besok siang dijamin sudah siap, baik proposalnya, dan…………… juga uang satu juta untuk operasional. Hmmmmm….!!! Kenapa aku tidak bilang kalau operasionalnya 2 juta ya !!!!
Selanjutnya aku tidak menanyakan kenapa tertarik dan sangat antusias, kenapa percaya begitu saja bahkan siap menyerahkan juga uang satu juta. Tidak. Aku tidak menanyakan itu. Daripada nanti tidak jadi. Karena kemudian aku agak semangat, membayangkan hasil yang wow tadi. Hehehe….

Setelah menutup telpon, aku kok malah merasa jadi serakah ya. Yang pertama lancar, coba yang kedua, kan bisa segini kali dua. Hehehe… Kemudian aku nelpon temen yang jadi guru di sebuah SMP. Ngapain juga datang langsung, kalau cuma pake telpon aja ternyata lancar.

Nelpon yang kedua, temen yang jadi guru, ternyata kurang begitu lancar, karena masih akan menanyakan ke kepala sekolahnya. Itu juga dia mau mencoba, berani atau tidaknya nanti dia ngasih keterangan. Sepertinya kurang semangat. Tetapi sebelum menutup telpon, dia nambahi kalau sekolahnya banyak sarana prasarana yang belum ada, karena sampai sekarang belum juga ada bantuan. Padahal sudah berkali-kali mengajukan proposal permohonan bantuan.

Setelah itu, aku sms temen yang tadi sore, ngasih kabar tentang dua usahaku tadi. Dijawab dengan satu kata : sip.

Malamnya aku tidur dengan nyenyak. Saat kondisi nggak punya uang, terhibur Jdengan harapan sebentar lagi akan mendapatkan wow kali wow….

Singkat cerita, hitungannya tidak ada dua hari aku mendapatkan lima sekolahan. Uang operasional 5 juta dan 5 proposal sudah aku bawa. Dengan sepenuh kepercayaan dari masing-masing sekolahan itu. Tidak ada satupun yang ingin ketemu dengan orang pusat itu. Juga tidak ada yang menanyakan sebagai apa orang pusat itu di dinas pendidikan. Ceroboh.

Temen yang memberitahuku tentang proyek ini juga menawarkan, mau aku serahkan langsung ke orang pusat yang masih di hotel itu, atau biar dia yang bawa. Sebenarnya aku ingin tahu juga seperti apa bentuknya, tapi aku pikir daripada repot, mending biar temenku aja yang bawa. Selesai.

………………………..

Sekitar satu bulan kemudian, orang pusat itu katanya datang lagi, sudah membawa kwitansi resmi dari dirjen pendidikan pusat. Kwitansi itu harus ditandatangani oleh kepala sekolah dan ketua komite. Lho, aneh bin ajaib, dana belum turun kok kwitansi sudah turun duluan. Ah, buat apa mikir-mikir berat yang bukan jangkauanku. Yang penting harapan untuk dapat wow kali wow sudah di ambang mata.

Satu setengah bulan setelah penandatanganan kwitansi itu, dana bener-bener ditransfer langsung ke masing-masing rekening yang atas nama komite sekolah. Dua puluh lima persen juga tidak ada dua hari sudah dipotongkan oleh masing-masing sekolahan itu untuk diserahkan pada kami. Temenku juga langsung men-transferkan 10% untuk orang pusat yang dulu membawa proposal dan memperjuangkan bantuan, setelah dipotong uang operasional yang sudah diserahkan dulu bersama-sama dengan penyerahan proposal. Lancar. Semuanya berjalan dengan lancar.

……………………….

PERINGATAN :

TULISAN YANG BERGAYA CERPEN INI MURNI HANYA FIKSI BELAKA. ANGAN-ANGAN INDAH DARI SEORANG YANG SEDANG DALAM STATUS PENGANGGURAN DAN TIDAK PUNYA UANG. KALAU SAMPAI ADA KESAMAAN PERISTIWA DALAM DUNIA NYATA. ITU HANYA KEBETULAN YANG TIDAK DISENGAJA.

 

29 Juli 2008 - Posted by | Catatan Saya | , , , ,

2 Komentar »

  1. Mas. Angan-angan yang gak ilang-ilang. Udah di pake mandi juga masih terbayang-bayang. Udah makan, minum, tidur dan bangun lagi, masih ada juga…
    Apa sakit kali ya…
    Sakit? Siapa? Ya, aku, Mas Arief, makelar, komite, kepala, pusat, seluruh ‘badan’, atau siapa?
    Cuma meraba-raba tempat sakitnya lho Mas. Obatnya kan mesti tepat.

    Komentar oleh h a b i b | 10 Agustus 2008 | Balas

  2. Atau siapa ya mas . . . . ? Hehe..
    Itu PR berat, mungkin aku nggak bakalan berani njawab, belum lagi kalo mikir obat buat nyembuhin sakitnya 🙂

    Komentar oleh ariefmas | 11 Agustus 2008 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: