Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Semua Kyai di Indonesia Penakut dan Banci

“….kalau tidak karena kyai-kyai itu penakut dan banci, negara ini sudah jadi negara Islam…!!” Kakek Galak yang bertamu itu bicara dengan lantang dan berapi-api. Membikin aku jadi tertarik mendekat ikut mendengarkan.

 

Mungkin lebih tujuh belas tahun yang lalu, Kakek Galak itu bertamu ke rumah kami. Kakek Galak temennya kakek kami almarhum. Katanya dalam rangka silaturahmi obat kangen menengok kami anak turun temennya dulu. Sampai tiga hari Kakek Galak itu menginap. Mungkin perhitungannya kalau bertamu lebih 3 hari sudah bukan tamu lagi, kan males kalau ikut cuci-cuci piring.

Mudah-mudahan diberi sinar terang di alam kubur… ( karena sekarang sudah almarhum..).

 

Selama 3 harmal hanya itu-itu juga yang dibicarakan. Suatu hal yang sangat baru bagiku, jadi aku ya tertarik berpartisipasi kuping dan senyum.

 

“…bahkan harusnya dibunuh semua, karena ndak ada yang berguna..”, mata Kakek Galak itu sampai melotot karena semangatnya. Bikin aku yang mau senyum mendadak mengurungkan niatku…. “ndak berguna dan lemah !!!”.

 

Mosok Kartosuwiryo dan Sumolangu habis dibantai sak pondok pesantrene diosak-asik… Ndak ada satupun yang mbela.. Piye to !!?” Mata Kakek Galak itu berkaca-kaca. Terdiam. Mungkin tenggorokannya tercekat menceritakan kesedihan.

 

Perlahan dengan agak gemetar diambilnya sesuatu dari dalam tas yang lusuh. Oh, Kakek Galak mengambil sebuah foto hitam putih yang juga sudah lusuh tapi masih tampak jelas gambarnya.

Ternyata foto Kakek Galak waktu masih muda. Hehehe… gagah juga. Menyandang senjata dan memakai seragam yang entah didapat dari mana. Tak lihat-lihat aku jadi hampir tersenyum. Lhah… senapan yang disandang kok mirip-mirip sama senapan angin buat nembak burung ya…?

 

Apa yo para kyai pada ndak inget dulu perang mempertaruhkan nyawa merebut kemerdekaan.. Mempertahankan kemerdekaan..!!! Itu dolanan nyawa mengusir orang-orang kafir penjajah… Resolusi jihad dikibarkan.. Semua santri dan kyai dikerahkan untuk jihad…. Tapi apa imbalannya ? Nyatanya malah dikhianati…!”

 

Harusnya ini jadi negara Islam.. karena kebanyakan hanya orang Islam yang berjuang.. “ Kakek Galak itu menyampaikan argumentasinya. “itu juga karena para kyai nya lemah… Apa dikira cukup kalo hanya berjuang untuk kemerdekaan.. Sepertinya menang mendapat kemerdekaan, tapi kenyataannya kalah. Karena kyai-kyai banci itu setelah berjuang malah pada sembunyi… Ada yang sembunyi di pondok-pondoknya mulang ngaji.. Ada yang sembunyi jadi petani.. Ada yang malah sembunyi jadi pegawai negeri… !! jadinya negara dipegang sama orang-orang yang nafsu rebutan amanah !!! Negara jadi bancakan !!!!”

 

Aku cuma jadi pendengar setia yang tidak bisa memahami kata-kata Kakek Galak. Memang tidak tahu permasalahan-permasalahannya, juga konsentrasi pikiranku terpecah karena belum nggarap PR dan tugas sekolah.

 

Sama saja,termasuk kakek kalian juga lemah.. Penakut… Walaupun dulu komandan hisbullah 3 kota. Tapi kenyataannya banci… Ndak menghargai perjuangannya sendiri.. Malah nggabung sama republik… jadi pegawai negeri….. jadi hambanya republik… Piye to !!!”? kami bukannya tersinggung kakek dibilang gitu. Kakek Galak itu kelihatan bicara dengan tulus. Kami yakin ada keakraban tersendiri antara Kakek Galak dengan kakek kami.

Setelah 3 hari Kakek Galak berpamitan. Kami dipeluk satu-satu dengan berkaca-kaca. Pesennya cuma satu, “pokoke ngaji….!!!!”

 

Sepulangnya Kakek Galak itu, aku baru tahu kalau ternyata Kakek Galak itu dulunya tokoh DI TII.

Walah— walah… aku jadi teringat pelajaran di buku Sejarah Nasional Indonesia. Bukankah DI TII kan pemberontak RI ?! Musuh RI yang harus dibasmi..??

 

Waduh… waduh… aku jadi takut kedatangan tamu Kakek Galak itu lagi, takut kalau ditangkap polisi.

 

PERINGATAN :

 

CERPEN INI MURNI HANYA FIKSI DAN ANGAN-ANGAN BELAKA. KALAU SAMPAI ADA KESAMAAN PERISTIWA DALAM DUNIA NYATA. ITU HANYA KEBETULAN YANG TIDAK DISENGAJA.

 

17 September 2008 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

3 Komentar »

  1. iya Mas. perlu ada pelurusan sejarah. saat ini (paling ndak nurut saya) sejarah hanyalah dongeng para penguasa. mau happy ending atau mesti nyencang wedhus ireng ya terserah yang berkuasa.
    kalau alumni G30S/PKI aja berani, kenapa muslimin mesti takut…? ya to…
    eh…ngomong-omong, kakek galaknya mbok dikenalin…. ada sumber data primer je….

    ariefmas : waduh Pak, kalo angan-angan jadi sumber data primer, gek terus gimana bentuk disertasinya ?

    Komentar oleh h a b i b | 17 Oktober 2008 | Balas

  2. memilih jalan berbeda dari arus utama penguasa resikonya memang tinggi, meski tetap saja ada yang dapat dibanggakan dari itu. 🙂 saya milih jadi oportunis saja 😆 pokoke melu sing menang 😆

    Komentar oleh Kang Nur | 18 Oktober 2008 | Balas

  3. Memang begitulah adanya sajarah diputar balik sesuai kebutuhan.
    Hidup ……kakek galak
    Mugo-mugo ……

    Komentar oleh jogjalink | 28 Februari 2009 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: