Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Yogyakarta (jangan) Dipimpin Penjudi

 

Mengikuti perkembangan berbagai berita mengenai keistimewaan Yogyakarta, tersirat banyak misteri-misteri kepentingan yang bermain di dalamnya. Tampak dari luar, mulai dari Presiden SBY yang demikian saja memberikan perpanjangan 2 tahun, sampai Ngarso Dalem sendiri yang mbegegeg tidak jelas. ( kalo boleh aku mengartikan maksud Ngarso Dalem IX dalam buku Tahta untuk Rakyat bahwa keistimewaan Yogyakarta diserahkan pusat, itu berarti mempercayai pusat bisa terus menghargai dan mempertahankan sejarah. Tapi disamping itu juga menghargai kebijakan pemerintah pusat apakah masih layak atau tidaknya Yogyakarta diberi keistimewaan penuh, sebab Ngarso Dalem IX dengan penuh bijaksana tidak berani memastikan bagaimana “bentuk kepemimpinan” penerusnya nanti… )

 

Sebagai warga pinggiran aku jadi cubriyo, merasakan ada api dalam sekam, seperti fenomena gunung es…. Pembahasan keistimewaan ini terjadi tarik menarik kepentingan politik praktis. Mulai dari Ngarso Dalem yang berencana maju memperebutkan kursi kepresidenan / kewapresan, usulan Pararadya dalam RUUK yang menyempitkan Yogyakarta hanya sebagai cagar budaya, sampai aspirasi “rakyat” yang menginginkan Ngarso Dalem dan Pakualam menjadi gubernur dan wakil gubernur tetap. Semuanya berkait-kaitan dan mengandung hawa kepentingan entah apa…..

 

Sejarah kenapa Yogyakarta mendapatkan keistimewaan menjadi tidak bermakna.

 

( Nyuwun duko Ngarso Dalem, mboten ateges menopo-menopo, ananging kawulo ing sakpinggiring propinsi meniko kepareng matur, sak upami ngarah dampar kementrian rumiyin, dos pundi ??? kados dereng wayahipun nyobi sikut-sikutan nglenggahi dampar RI 1 ; menawi menang njih wajar, ananing menawi kawon kados dados lingsemipun poro kawulo ; samangkih pripun sak upami dipun suwanteni jebul hanamung  jago kandang ??? ).

 

Terlepas dari itu semua, kalau sudah mendapatkan keistimewaan seperti semula, terus mau bagaimana? Sedangkan Yogyakarta sebagai daerah istimewa, diakui tidak diakui peredaran narkoba sedemikian tingginya, prostitusi jelas-jelas aman dan rapi. Apakah itu yang nantinya akan dipertahankan dari sebuah keistimewaan ? Barangkali itu juga sehingga yang berjuang mempertahankan keistimewaan Yogyakarta menjadi termangu-mangu.

 

Memang kalau melihat sejarah, pemerintah pusat tetap harus ngrumangsani, pemberian penetapan lagi berupa hak penuh keistimewaan memang suatu keniscayaan. Tetapi kalau dilihat dari sudut pandang warga pro keistimewaan yang tinggal di dalamnya, keistimewaan harus dibarengi dengan adanya suatu majelis pengawas istimewa yang terdiri dari berbagai unsur mulai dari keluarga Ndalem sampai tokoh-tokoh informal. Itu bertujuan men-demokrasi-kan dan meng-evaluasi jalannya kepemimpinan, sehingga jangan sampai Yogyakarta yang istimewa ini dipimpin oleh penjudi yang melindungi peredaran narkoba dan prostitusi…..

20 September 2008 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

1 Komentar »

  1. 🙂 wa ini berani dan tajam. ditunggu kupasannya lebih lanjut.

    Komentar oleh Kang Nur | 18 Oktober 2008 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: