Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Salah Paham dan Paham yang Salah Tentang Nikah Siri

Suatu hari datang seorang laki-laki dan seorang perempuan menghadap kyai / ustad. Ternyata, mereka minta dinikahkan sirri, karena katanya Sang Ustad ini dikenal biasa menyelenggarakan nikah sirri. Tapi permintaan itu ditolak oleh Sang Ustadz, karena ternyata mereka tidak memenuhi syarat untuk menikah, yaitu tidak ada wali nikah.
Terlepas dari kompleksitas masalah tersebut, yang menjadi tema di sini hanya mengenai ada atau tidak ada-nya nikah sirri.

Syarat pernikahan baik yang (dianggap) sirri maupun yang resmi (versi KUA) ternyata sama (tolong diralat kalo salah), yaitu :
1. calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan
2. wali dari pengantin perempuan
3. dua orang saksi
4. akad nikah
5. mahar/mas kawin

wali dari pengantin perempuan ini adalah bapaknya, atau kakak laki-lakinya jika bapaknya sudah tidak ada, atau kakak laki-laki dari bapaknya kalo kakak dan bapak tidak ada, dan seterusnya sepanjang itu saudara garis laki-laki dari si calon pengantin perempuan (patrilineal islam).
Kemudian juga si wali nikah ini ber-hak penuh dan mutlak untuk menikahkan putrinya atau…. Menyerahkan hak menikahkan itu ke “siapa saja” yang dipercaya dan mampu untuk menikahkan putrinya.
Nah, di sinilah berawal adanya istilah nikah sirri. Nikah sirri itu terjadi kalo si wali nikah ini menyerahkan hak menikahkan ke orang selain dari KUA (ujung tombaknya Depag) dan tidak tercatat di KUA

Terus kenapa nikah sirri ini seolah seperti dipermasalahkan? Malah sempat denger-denger tercetus kalo pelaku dan penyelenggara nikah sirri akan di-pidana-kan.. walah, kalo mau mem-pidana-kan nikah sirri mbok ya terlebih dahulu mem-pidana-kan orang-orang yang hidup bersama layaknya suami istri yang tanpa nikah, walaupun itu cuma short time… ya to ?
Dan lagi, apakah nikah sirri memenuhi syarat sebagai tindak yang membahayakan publik seperti halnya pencurian, perampokan, pembunuhan, atau korupsi ?

Sebab yang pokok adanya istilah nikah sirri tentu karena adanya pencatatan oleh KUA sebagai bagian dari perangkat Depag yang selanjutnya dianggap sebagai nikah yang resmi. Jadi kalo tidak ada Departemen Agama, tidak ada KUA, tidak ada negara Indonesia (tidak usah dibayangkan !!! ), berarti tidak akan ada nikah yang tercatat di KUA dan tidak ada nikah sirri…..
Berarti nikah sirri ini ada karena ada negara Indonesia, karena ada Depag, karena ada KUA !!
Sebab sebenarnya yang ada hanya : pernikahan !

Pernikahan ! prosesi sederhana yang me-legal-kan hubungan seksual antara seorang laki-laki dan seorang perempuan bukan muhrim yang tadinya haram, menjadi halal. Hubungan seksual intim laki-laki dan perempuan yang tadinya merupakan dosa besar dengan ancaman neraka yang mengerikan, dalam hitungan detik atau menit setelah prosesi akad nikah, tiba-tiba bisa menjadi hal yang bahkan berpahala. Sangat luar biasa memang prosesi akad nikah ini.

Pernikahan ! bukan hanya acara seremonial tetapi lebih merupakan acara ritual. Sebuah acara yang mempertemukan dua ruh sebagai dua insan laki-laki dan perempuan yang menjadikannya satu ikatan perkawinan dari dunia sampai akhirat. Ikatan yang agung dan suci ini menjadi wadah dari ruh yang baru dari alam azali. Maka untuk wadah ruh yang baru diturunkan ke alam dunia perlu wadah yang diridloi Allah Ta’ala. Jadi pernikahan itu sendiri sudah merupakan wadah yang resmi. Bahkan tanpa tercatat di KUA pun asal sudah memenuhi syarat-syarat yang digariskan menurut ketentuan syar’i, sudah merupakan hal yang resmi dan diridloi Allah Ta’ala.

Pernikahan ! sebuah gerbang yang menimbulkan banyak hal akibat. Karena dari pernikahan ini kemudian masuk dalam perkawinan. Di dalam perkawinan ini kemudian akan ada hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban suami terhadap istri juga hak dan kewajiban istri terhadap suami.
Kemudian dari perkawinan ini akan ada satu jalur baru garis keturunan. Garis keturunan yang menjadi subyek dari hukum waris.
Itulah rentetan yang timbul setelah melewati satu proses pernikahan.

Indonesia adalah negara hukum. Demi untuk perlindungan hukum dan terjaminnya kepastian hukum, maka negara mengeluarkan peraturan hukum. Termasuk di dalamnya adalah hukum perkawinan yang ter-positif-kan dalam Undang-undang Perkawinan.
Sebagai lembaga resmi dari Negara Republik Indonesia, maka KUA adalah lembaga yang mencatat mulai dari Nikah Talak Cerai Rujuk bla bla bla . . . dan seterusnya….
Tanggung jawab suami terhadap keluarganya, istrinya, anak-anaknya merupakan kewajiban. Hal ini dilindungi negara. Kalau lalai dari kewajibannya maka bisa dituntut oleh yang merasa tak terpenuhi haknya, yaitu oleh istri dan atau anak-anaknya. Di sini perlu pembuktian, dan lewat KUA lah alat bukti itu ada, yaitu buku nikah.
Anak-anaknya pun juga dibuktikan dengan akta kelahiran yang diterbitkan oleh Catatan Sipil, dimana salah satu syarat pembuatan akta kelahiran adalah buku nikah resmi dari negara.

Selanjutnya terserah mau pilih yang mana ? Nikah tanpa tercatat di KUA atau yang tercatat di KUA ?

21 September 2009 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. […] (dikutip dari: Kompas.com) Artikel Terkait: Nikah Sirri: Antara Ada dan Tiada […]

    Ping balik oleh Yang Nikah Sirri… Yang Kawin Kontrak… Yang Poligami… Siap-Siap ya Dibui !!! « ARIEFMAS's WEBLOG | 18 Februari 2010 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: