Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Tradisi kampung Ndeso

Terbayang gambaran lingkungan kampung ndeso di salah satu belahan bumi jagat raya. Di dalam kampung yang bernuansa benar-benar ndeso itu tinggalah masyarakat yang juga ndeso, hidup ayem tentrem rukun dan bersahaja. Semua permasalahan diselesaikan dengan musyawarah mufakat rembug ndeso yang kacek saklerek karo sederek. Ora ono balung eri ne. pokoknya damai dan damai tanpa negosiasi-negosiasi yang saling membebani. Ketentraman kampung ndeso tercipta dari suasana yang penuh dengan saktekane dan toleransi. Tidak ada curiga mencurigai. Dianggap tidak ada kejahatan maupun hal-hal yang merugikan. Kalaupun ada, itu sekedar kelalaian.

Jadi hidup di kampung yang penuh dengan gotong royong ini segala-galanya harus penuh dengan kemakluman. Maklum lah, kampung ini memang makmur dan kaya dengan kekayaan alamnya, jadi sebenarnya cukup dengan menggadaikan salah satu pulau terbesarnya, sudah lunas semua utang-utangnya, bahkan lebih.. Keadaan itu membentuk sifat kampung kaya yang penuh dengan sifat makluman.

Untuk menjaga keamanan dan ketentraman kampung, karena memang kenyataannya selama ini aman-aman saja, kampung ndeso cukup dijaga dengan seonggok peralatan besi-besi tua. Tank-tank tua, pesawat-pesawat tua, senjata-senjata tua, dan segala macam alat-alat penjagaan yang tua-tua. Itu menandakan masyarakat kampung ndeso yakin tidak ada orang jahat di luar sana, selain untuk alasan pengiritan juga karena percaya kalau kampung ini dijaga nenek-nenek moyang yang super sakti. Kalaupun kampung ini bisa membuat senjata-senjata yang canggih dan modern, itu produksi perdagangan untuk dipasarkan di kampung-kampung lain yang membutuhkan, yang merasa tidak aman atau sedang dalam kondisi tawuran antar kampung, baik itu dipasarkan dengan resmi atau dengan tidak resmi alias gelap alias ilegal alias black market menurut bahasa kampung sebelah..

Tapi ada salah satu tradisi yang berakar kuat di kampung ndeso ini. Tradisi ini tidak ada istilah yang baku tapi benar-benar berlaku. Sebenarnya berawal dari tradisi sederhana yaitu tradisi kebanyakan pos ronda. Pos ronda akan rame dan banyak yang jaga kalau sudah ada kejadian yang luar biasa, umpamanya ada maling. Kalau sudah ada pencurian barulah pos ronda jadi ramai. Tapi juga tidak lama. Setelah keadaan aman terkendali, pos ronda jadi sepi. Kemudian ramai lagi menjaga kampung kalau ada maling lagi. Begitu seterusnya. Dan seterusnya tradisi itu juga dipertahankan sampai lingkup yang lebih luas. Setelah ada pencurian seni budaya, setelah ada ancaman keamanan nasional, setelah ada rintisan upaya pencaplokan wilayah secara halus lewat pulau terluar sebagai nantinya bahan konflik dan kampung ndeso cenderung kalah rembug, barulah kampung ndeso ini grobyakan kebakaran jenggot, razia dimana-mana, menghujat yang mana-mana, sampai-sampai bakar benderanya kampung sebelah…
Sudah tradisi, jadi mau bagaimana lagi..

( ada yang aneh juga dari kampung ndeso ini,  kampung ndeso yang terkenal sebagai kampung maritim tapi yang dominan diperkuati malah keamanan hentak-hentak bumi. Weleh.. )

Iklan

23 September 2009 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: