Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Perkenalkan Namaku Daroji, Agamaku Tanpa Agama

gm nt jd k rm tno g? kl jd pk mblk w..”
Baca sms dari Qodri memang perlu dipikir-pikir dulu maksudnya apa, soalnya super full singkatan. Kubalas smsnya : “jadi aja, tapi Pramono gimana? Katanya ada tamu?”
Qodri sms lagi: “pr m ngjk tmnya. Sp2 tk ampr”.
Akhirnya kami berempat berangkat ke rumah Tono, temen main waktu kecil. Dia baru punya momongan, anak yang ketiga.

Dalam perjalanan, temennya Pramono memperkenalkan diri. Ternyata temen kerjanya Pramono.
“Perkenalkan, nama saya Daroji…”Sambil kenalan aku sempet senyum dalam hati. Untungnya Daroji bukan orang sunda, soalnya kalau nggak salah inget, dalam bahasa sunda di wilayah tertentu, ‘daroji’ itu artinya makan lima ngaku satu… Hehehehe….

Dalam perjalanan kami ngobrol ngalor ngidul. Ngobrol apa saja bahkan tanpa kapasitas dan kompetensi apapun. Ternyata Daroji termasuk seneng ngobrol dan nyambung juga dengan tema-tema kami.

Daripada kita ikut sholat asar di rumah Tono, kita sholat dulu aja..” Pramono ngasih usul. “di depan ada pom bensin, sambil ngisi bensin bisa sekalian ikut sholat. Nanti kan tinggal nyante”.
Setelah rampung sholat aku sempat membatin, kenapa Daroji nggak ikut sholat ya…!? Mungkin aja non muslim, tadi kan nggak nanya-nanya agama.
Aku yang bertanya-tanya dalam hati, eh…. sesampainya di dalam kendaraan, malah Qodri yang komentar ke arah Daroji : “Lagi M ya mas….?”
Daroji cuma senyum.
“Ke gereja ya?” sambung Qodri.
“Enggak juga….” Kata Daroji.
Islam tapi nggak sholat, atau mungkin budha, hindu, konghucu, atau penganut kepercayaan…” Aku ngomong sambil ketawa. Obrolan keakraban selama perjalanan tadi bikin enak aku ngomong itu.
dia nggak punya agama..” akhirnya Pramono yang angkat bicara.

Í”Lho……??” aku dan Qodri sama-sama heran.

Akhirnya diceritakan semuanya hingga kenapa dia menentukan pilihan hidup untuk tidak beragama.

“……….waktu kecil saya terbilang nakal. Saya pernah mencuri mangga di kebun Pak Haji. Pohon mangganya memang banyak. Buahnya juga lebat.
Waktu saya sedang memanjat pohon mangga, tiba-tiba ketahuan oleh Pak Haji. Saat itu Pak Haji sedang bawa tongkat. Diacung-acungkan ke arahku sambil teriak-teriak menyuruhku turun. Wah, saya takut benar. Pikirku mau dipukuli. Sesudah aku turun ternyata tidak dipukuli, tapi aku disuruh pergi. Buah mangga yang sudah saya petik tidak boleh dibawa. Sambil setengah berlari saya pergi dengan masih ketakutan, juga masih mendengar Pak Haji ngomel-ngomel tidak karuan…..”
Daroji berdiam sejenak, kemudian dia melanjutkan ceritanya :

Di lain waktu, saya juga pernah mencuri mangga di kebun milik seorang Pastor.. Rumah pastor berada di sekitar gereja. Tapi kelihatannya sepi. Gerejanya juga sepi. Jadi kupikir Pak Pastor sedang pergi.
Waktu saya sedang memanjat pohon, eh… tiba-tiba Pak Pastor muncul dari dalam gereja. Memandang ke arahku. Wah, saya ketakutan juga, mungkin masih trauma ingat peristiwa ketahuan mencuri di kebun Pak Haji. Tapi yang takutkan ternyata lain. Pastor itu memandangku yang masih di atas pohon sambil tersenyum, malah Pastor itu minta tolong agar aku sekalian memetikkan buah mangga. Katanya dia pengen sejak kemarin tapi tidak berani memanjat. Pak Pastor menunggu di bawah pohon sambil menerima buah mangga yang saya lemparkan dari atas. Semua yang sudah matang disuruh untuk dipetik. Setelah semuanya rampungan, saya disuruh pulang dan disuruh membawa banyak buah mangga”

Kami semua masih diam menunggu Daroji berkisah. Terus apa hubungannya peristiwa-peristiwa itu dengan pilihan hidupnya untuk tidak beragama…

Peristiwa-peristiwa masa kecil itu demikian membekas dalam hati sanubari saya. Sedemikian membingungkan saya. Pertentangan batin yang sangat dalam. Di lain pihak waktu itu saya mempercayai kebenaran Islam, di lain pihak saya juga terbentur dengan kenyataan yang buruk.. Akhirnya saya tidak bisa menganalisa lagi. Saya percaya adanya Tuhan, tapi saya tidak percaya dengan agama. Lebih-lebih setelah beranjak dewasa, kenyataan-kenyataan hidup memberi pelajaran bagi saya bahwa agama hanya menjadi alat perpecahan antar umat manusia. Tidak ada kedamaian yang berangkat dari perbedaan keyakinan agama. Bahkan di dalam agama itu sendiri saya lihat tidak ada kedamaian antar pengikut aliran atau sekte. Tidak di Islam, tidak di Kristen. Sama saja. Saya ingin perdamaian.

Itulah, mas… yang menjadikan pilihan hidup saya untuk tidak beragama, tapi saya percaya bahwa Tuhan itu ada…”

WARNING : cerpen ini murni hanya fiksi dan angan-angan belaka, kalau ada kesamaan tokoh di dunia nyata, itu hanya kebetulan yang tak sengaja.

Iklan

28 Oktober 2009 - Posted by | Catatan Saya

1 Komentar »

  1. like this…^-^

    Komentar oleh lia | 19 Juli 2010 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: