Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

10 ALASAN BER-POLIGAMI

poligamii
ANTARA IOANES RAKHMAT DENGAN FAUZAN AL ANSHARI

Fauzan Al-Anshari

Assalamu’alaikum Wr wb.

Poligami setuju nggak?
Bapak-bapak: Setujuuu….

Setuju Bu?
Ibu-ibu: Tidaaak…

Ya, kedua-duanya tidak ada gunanya. Baik setuju maupun tidak, saya terus poligami. Karena memang syariat itu tidak perlu dipolling dan divoting. Nah, jadi ini poligami antara teori dan praktek. Saya mau testimony sedikit, tapi saya sudah sampai pada kesimpulan, bahwa poligami itu, al-ashlu fi atta’addudi al-ibahah. Boleh. Jadi orang berpoligami itu halal.

Halal apa haram?
Bapak-bapak: Halaaaal….

Ibu, halal apa haram Bu?
Ibu-ibu: Haraaaam…

Ya, sekarang kita lihat. Ini begini. Ada kitab tafsir Ibn Katsir. Ini tafsir bil-ma’tsur, tafsir yang sudah diakui paling baik dari segi metodologinya oleh jumhur ulama, itu sepakat sekali batasan beristri itu empat. Oleh sebab itu hokum poligami itu asalnya ibahah, boleh.

Tapi pada kondisi tertentu, itu bias menjadi wajib. Misalnya anggota DPR itu, itu sudah wajib. Sebab kalau tidak, mesti maksiyat, gitu lho. Kenapa? Ada 3 faktor:
Ilmu, al’ilmu qabla ‘amal. Mosok kepala bidang kerohanian nggak ngerti. Dari segi harta, sangguplah. Rumahnya mewah kan? Nah, bagian yang ketiga, masalah biologis. Kalau tidak terpenuhi, ya pasti akan menyimpang.

Cuma ada satu lagi. Orang itu ada salahnya, takwa. Kalau takwa itu takut tidak bisa berbuat adil, takut kepada Allah. Tapi ada satu lagi, ”TAKUA: Takut Istri Tua”. Nah, kalau ini lain persoalannya.

Jadi normalnya boleh. Oleh sebab itu, ini ada dua kitab juga. Dua kitab ini sangat penting: menolak apa yang dihalalkan oleh Allah, itu bisa murtad. Poligami itu dihalalkan. Kalau anda mengatakan haram, itu murtad.
Yang kedua, kalau menyamakan poligami dengan perzinahan, itu murtad. Kemudian yang menghalang-halangi orang yang mau poligami: kafir. Ayatnya bagaimana?
Ini ayatnya: alladzina kafaru yulfiquna amwalahum liyashuddu ‘an sabilillah.

(…….)

Sekarang prakteknya. Prakteknya gampang sekali. Sekarang tanya aja, misalnya Anda mau kawin lagi ya.
Tanya Bu Musdah kalau masih gadis ya.
Mau saya madu nggak?
Nggak mau”.
Ya sudah cari yang lain. Kalau dia mau, ya sudah bismillah, jalani.

Jadi sebenarnya poligami itu tidak perlu diseminarkan, tapi dilaksanakan segera.

(……….)

Oleh sebab itu, kalau mau adu-aduan soal data ya, kita banyak sekali data kan? Cuma begini, saya percaya dengan ulasan, tadi yang disampaikan Bu Musdah, boleh mengawini janda, asal janda yang jelek, yang anaknya banyak.

Nah, itu memang perasaan umum, perasaan publik. Jadi kenapa Aa Gym diprotes, itu karena yang dinikahi janda mantan model. Coba kalau yang dinikahi itu janda jelek, item, tungteng, gitu ya, itu saya tanya langsung pada sopir taksi. “Ya pak, kalau jandanya jelek sih, saya juga nggak protes.”

Jadi artinya apa?
Yang dilanggar Aa Gym itu bukan melanggar syariat, tapi melanggar perasaan umum.

Bener nggak?

Kemudian yang berikutnya: saya menikah pertama tahun 1986. Saya lahir 1966, istri saya yang pertama lahir 1961. itu juga nggak sengaja nikahnya. Karena saya mengantar. Karena ada murobbi-murobbi yang biasanya membina ukhti-ukhti, daun-daun muda itu biasanya kita prioritaskan. Sehingga ada yang … suka telat Pak. Namanya calon tua. Kemudian kasak-kusuk, bagaimana supaya dapat jodoh. Sudah diantar, ada ikhwan mau, sudah ketemu, “aduh, gimana nih. Udah, ente aja deh.” Waduh, gimana ini, nanti bisa kejatuhan tangga ini. Trus akhirnya kejatuhan tangga. Kita kan nganter, mak comblang, malah kita yang jadi. Itu namanya kejatuhan tangga, tapi tangganya empuk.

Yang kedua juga begitu. Kelahiran tahun 1958. Saya antar, kejatuhan tangga lagi, empuk tapi.

Yang ketiga, kelahiran 1964. begitu juga. Yang keempat ini, janda anak satu. Karena suaminya murtad. Lebih muda.
Saya baru merasa: “Wah memang Nabi itu memang benar sekali. Pilihlah gadis yang muda-muda, karena biar bisa bermanja-manja, dan mulutnya manis.”

Cuma saya ini sudah pol, Pak. Ada dalil nggak untuk bisa nambah lagi. Kalau sebagian ulama Syiah boleh ya.
Ada ulama dalam Ibn Katsir dikatakan, berdasarkan hadits Nabi:

Ya ma’syara al-syabab, man istatha’a minkum al-ba’a fal-yatazawwaj”.
Wahai para pemuda, siapa yang punya al-ba’ah, sanggup memikul beban rumah tangga, menikahlah.

Kalau ukurannya sanggup, nggak terbatas ya. Tapi saya ikut yang jumhur ulama. Itu keyakinan yang saya punya.

Soal adil. Ini adil yang selalu dipersoalkan. Saya tanya kepada istri-istri.

Siapa yang merasa dizalimi oleh saya, silakan mengajukan khuluk.”

Mengajukan khuluk itu mengajukan cerai. Saya mampunya begini. Ngasih makan, sebulan 100 ribu. Kalau nggak cukup ya puasa. Terserah mau puasa Senin Kamis atau puasa Daud silakan. Kalau mundur ya alhamdulillah, saya akan menikah lagi. Begitu hari ini mundur, besok saya akan langsung menikah lagi. Jadi sudah ngantri rupanya yang mau dimadu itu.

Jadi ini persoalannya begini, mudah sekali. Adil itu begini Bu, jangan dibawa kepada perasaan.

Ketika Nabi menggilir istrinya, beliau berdoa begini:
“Allahumma hadza qasmy, wala talunny fi ma tamlik wal amlik.” Ya Allah, inilah bagianku. Janganlah engkau mencela aku terhadap sesuatu yang tak Engkau miliki, tapi aku miliki, yaitu hati.

Jadi, jangankan pada istri-istri, pada anak saja: misalnya ada anak 4. Anak saya 20 ya. Itu nggak sama, yang satu agak nakal, yang satu agak soleh, yang satu kayak bapaknya, yang satu kayak ibunya. Itu begitu. Itu kalau soal perasaan.

Nah, apalagi ini istri, maaf ya, kan istri-istrinya beda-beda ya. Gayanya pun beda-beda. Sentuhannya juga beda. Bahasanya, logatnya beda-beda juga. Ada yang aslinya dari Tegal, itu kalau ngomong saya pengen ketawa. Ada yang dari Jogja, kalau ngomong lemah lembut, jadi belum apa-apa udah merangsang bawaannya. Ada yang dari Jakarta, wah. Gitu ya.

Jadi begini ya, kenapa Rasulullah SAW menikahi janda. Ini bukan sunnah yang harus kita ittaba’. Ini kekhususan Rasulullah. Sebab kalau kita mengikuti sunnah seperti Rasulullah, kita harus menikahi janda berumur 40 tahun seperti Khadijah. Susah ini. Bisa-bisa nggak jadi kawin kita. Ya kan?

Jadi dalam pengertian ini, jangan sampai kita memahami sunnah itu seperti itu.

Kemudian yang kedua, kenapa Rasulullah SAW melarang Ali memadu anaknya Abu Jahal. Rasulullah tidak suka anaknya itu disatu-rumahkan dengan anak daripada musuh Rasulullah SAW. Nah oleh sebab itu, dalam memahami konteks kenapa Rasulullah tidak langsung ta’addud pada awalnya, itu semuanya adalah kekhususan beliau sendiri. Untuk umatnya, sudah bisa ditakhsis tadi dalam segi pembatasan.

Walaupun ada juga pendapat ulama lain yang berpendapat jumlahnya 9 ada yang tak terbatas.

Sekarang persoalannya di mana? Dalam soal ta’addud ini, itu persoalannya ada di tangan kaum pria. Itu kan perintahnya “fankihu ma thaba lakum minannisa’i..”

Ayatnya udah jelas khitabnya untuk kita. Untuk laki-laki atau untuk perempuan?
Ya untuk laki-laki. Ya kan?

Kemudian hadits Nabi “Ya ma’syara al-syabab..” itu kepada pemuda. Jadi lancar tidaknya poligami tergantung antum semua laki-laki ini. Bukan tergantung wanita. Kalau begitu. Kalau Anda mau ta’addud, diam-diam kita adakan konsultasi: bagaimana mengatur strategi dan taktik, supaya istri-istri kita itu tidak..

Nah, saya ingin memberikan pengalaman yang penting. Ayat “fankihu…” Jadi memang rumah itu adalah tempat yang paling alami untuk wanita-wanita, ibu-ibu melahirkan generasi yang luar biasa. Tidak ada mujahid yang tidak keluar dari pembinaan di rumah itu. Ini persoalannya. Justru munculnya protes itu datangnya dari wanita-wanita yang biasa keluar rumah, yang menuntut karir dan sebagainya.

Ini persoalannya. Saya sudah identifikasi. Tetapi saya harus menyampaikan juga, justru pendapat dari Konggres NOU (?) yang di Uthah, sebenarnya poligami itu adalah kondisi yang paling ideal untuk wanita karir, feminis seperti Bu Musdah dan lain sebagainya. Kenapa? Sebab dia ini membutuhkan karir yang tinggi. Kalau harus melayani terus suaminya yang satu itu, capek kasihan. Dia habis stress bantah-bantahan diskusi, pulang, terus suaminya “ Ayo Mak..”

“Entar-entar, gue lagi stress nih.” Gitu ya. Biasanya begitu.

Tapi kalau ada istri yang kedua, ketiga, keempat, kalau dia stress, itu bisa langsung masuk kamar kan? Sendiri menyelesaikan masalahnya, tanpa merasa dosa bahwa dia tidak melayani suami. Kan begitu? Coba kalau dia istrinya cuman satu saja. Suaminya ada di rumah, lagi nungguuu gitu ya. “Kapaaan istri saya pulang ini ya.” Begitu pulang udah capek. Bisa-bisa pembantu yang dimakan. Bisa-bisa anak sendiri yang dimakan. Nah, makanya harus ada manajemen nafsu.

Betul. “Innannafsa la’ammaratun bissu’ illa ma rahima rabbih”. Islam itu tidak membunuh nafsu. Kalau nafsu dibunuh, Anda tidak akan lahir. Anda ini kan hasil dari nafsu-nafsu ini semuanya, termasuk saya juga, kan gitu. Ya nggak?

Nafsu bapak-bapak kita itu. Nafsu itu tidak boleh dibunuh tapi disalurkan. Nih, salurannya begini Pak, poligami.

Nah, oleh sebab itu, mudah-mudahan keterangan ini, ya testimoninya agak singkat saja, tapi yang jelas, ukuran adil tadi Allah dan Rasulnya sudah menjelaskan secara syar’i, dalam praktek maupun dalam teori. Demikian yang bisa saya sampaikan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ioanes Rakhmat

Teman-teman,

Sementara diskusi ttg poligami terus berlangsung di milis ini, dengan Bung Ade menjadi sasarannya, saya mulai berpikir, adakah alasan yang betul-betul sah untuk melarang poligami. Kalau kita semua memperjuangkan kehidupan yang toleran, bebas, demokratis, adil, humanistik, misalnya, seharusnya kita juga bisa menerima poligami.

Adakah alasan-alasan kemanusiaan dan rasional, dan bukan alasan skriptural, yang bisa membenarkan poligami? Saya kira, ada cukup alasan untuk bisa membenarkan poligami.

Alasan utama adalah alasan kebebasan individual: setiap orang bebas dan bertanggungjawab untuk menentukan pasangan hidupnya sendiri, entah jumlah pasangannya nol, satu, dua atau pun tiga.

Kedua, alasan cinta; kalau seorang pria jatuh cinta pada seorang perempuan dan demikian juga sebaliknya, maka pasangan ini berhak untuk kawin kendatipun ini bukan perkawinan pertama mereka dan juga bukan dengan pasangan pertama.

Alasan ketiga, alasan ekonomis: kalau seorang laki-laki bisa menghidupi ekonomi sekian istri dengan semua anak mereka, ia memiliki modal ekonomi kuat untuk berpoligami.

Alasan keempat, alasan dukungan psikologis: jika istri-istri tua rela menerima kehadiran istri-istri muda, si suami tidak mengalami kendala internal untuk ia berpoligami.

Alasan kelima, berpoligami bukanlah tindakan kriminal (sekalipun ada UU Perkawinan), apalagi jika poligami dilakukan karena alasan cinta.

Alasan keenam, poligami tidak otomatis akan membuahkan ketidakadilan gender, jika si suami sungguh-sungguh dapat memperlakukan semua istrinya dengan respek, cinta dan keadilan.

Alasan ketujuh, poligami tidak otomatis menghina dan merendahkan kaum perempuan, malah bisa terjadi hal sebaliknya.

Alasan kedelapan, poligami tidak otomatis menodai atau merendahkan agama apapun, sejauh orang yang berpoligami tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan setia.

Alasan kesembilan, poligami paralel dengan tindakan membentuk masyarakat yang jumlah anggotanya lebih besar.

Alasan kesepuluh, poligami adalah seni yang lebih advanced membangun rumah tangga; dan tidak ada satu karya senipun yang harus dimusuhi.

Nah, itu sepuluh alasan mengapa poligami, pilihan yang masuk akal juga.

Sumber: tegakluruskelangit (sebelum diupgrade).

17 November 2009 - Posted by | Unduh dari media online | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

17 Komentar »

  1. Alhamdulillah, ini bisa jadi pegangan

    Komentar oleh muhammad arif amirudin | 29 Maret 2011 | Balas

  2. ngomong gak pake perasaan… loe udah melanggar perasaan umum pakde….

    Komentar oleh ika | 15 Desember 2011 | Balas

  3. sebaiknya kita jangan emosi dulu, semua pasti ada alasan mengapa hal itu dilaakukan, dan jangan dibuat mainan

    Komentar oleh nino | 28 Maret 2012 | Balas

  4. Iya Gaya penulisan tanpa perasaan ,tidak ada emphatic sama sekali terhadap Kaum wanita,Hanya mengedepankan sahwat ,kalau semua Kaumlaki-laki seperti ini,seperti kembali ke jaman jahiliyah,bahkan alasan Rasulullah berpoligami pun menjadi tidak nampak misi Nya sama sekali.maaf sy tidak simpati sama sekali dengan pendapat anda.

    Komentar oleh Wini | 30 Agustus 2012 | Balas

  5. emang bapak penulis yang terhormat pernah jadi korban dari perselingkuhan dan poligami,,, setidaknya saya anak yang tersiksa karena jadi korban keegoisan dari orang tua pria … padahal ibu saya kurang apa menghabiskan sisa umurnya untuk kemaslahatan kluarga kami..

    Komentar oleh linda | 15 Oktober 2012 | Balas

    • betul…sy sih bukan korban poligami ortu tapi korban ibu tiri hehehhe….

      Komentar oleh cu'i | 22 Desember 2012 | Balas

  6. awalnya saya ingin mngetahui alasan berpoligami tuh apa,, ehh knp lihatnya kya gni ,,,, gk pke perasaan bgt ,,,,,, curhat itu mhhh ,,, ,,,,,

    Komentar oleh aini c noneng thea | 30 November 2012 | Balas

  7. Enak bgt ya jadi laki-laki. Yaaa itu emang udah kodratnya sih dr Allah. Tapi jujur ya melihat potret2 tentang poligami, sy jadi ngeri ke laki-laki sehingga sy ilfeel terhadap semua laki-laki bisa dibilang gak bisa jatuh cinta. Sy bukan orang yg ngerti agama, khususnya poligami, sy setuju karena itu sudah aturan agama dan sy memuliakan Nabi muhammad yang melakukannya meskipun saya gak ngerti knp nabi berpoligami. Tapi pikiran sy tentang poligami di zaman sekarang ini sy merasa poligami ibarat sebuah nafsu laki-laki trhdp perempuan yang gak cukup kpd 1 istri. Karena kenyataan dr berpoligami secara umumnya selalu cari yang muda, perawan, cantik. Itu berarti poligami syarat dgn nafsu syahwat laki-laki kan yang merasa blm puas. Lalu dimana letak nilai cinta karena Allah ketika seseorang menikah dgn perempuan, kalau kenyataan nya didasarkan hanya pd nafsu syahwat. Akhirnya kasian juga kalau perempuannya jadi korban. Karena gak sedikit kejadian akibat polligami menimbulkan permusuhan sesama istri, mudahnya laki2 menceraikan (istri sirri) akhirnya jadi korban, anak-anaknya menjadi korban pula, blm lagi bisa adil atau engga. Karena adil bukan dipandang secara materi aja, tapi secara lahir dan batin. Miris aja sih kalau memang benar poligami itu syarat dgn nafsu syahwat laki-laki lalu kalau sudah bosan banyak kasus laki-laki menceraikan istrinya dan disitu akhir dari letak hargi diri seorang perempuan. Tapi itu semua kembali ke perempuannya juga sih, mau jadi madu siap-siap mengambil segala resiko dan konsekuensinya apabila ada hal yang gak di inginkan.

    Komentar oleh R.Nurma Aspiasari | 10 Desember 2012 | Balas

  8. mikir donk buat para laki-laki hari gini mana ada istri muda nikah karena cinta tapi karena duiiit pret lah….

    Komentar oleh cu'i | 22 Desember 2012 | Balas

  9. ..saya lihat dalam negara kita, poligami dapat membantu wanita yang baru menganut Islam yang kadang-kala tiada orang bujang yang dapat menjaga mereka dengan baik.

    Wanita sama seperti lelaki terdedah kepada sakit dan ketidakmampuan seks. Jika suami tidak mampu dari segi seks, isteri boleh menuntut dipisahkan perkahwinan. Jika isteri tidak bermampuan dari segi seks, amat tidak wajar wanita yang lemah dan sakit ditinggalkan begitu. Namun, dalam masa yang sama naluri suami juga hendaklah diraikan. Poligami boleh menyelesaikannya..

    Begitu juga jika isteri tidak mampu melahirkan zuriat, apakah patut suami menceraikannya? Tidak wajar, namun kehendak suami juga boleh diraikan. Poligami sebagai penyelesaian keinginan kepada zuriat keturunan. Maka apabila Islam membenarkan poligami, ia adalah ubat.

    Barangkali juga ada isteri yang tidak terdaya melayan kehendak suami yang ‘tinggi’ dalam seks. Poligami juga jalan keluar dari beban ini. Kadang-kala ada lelaki yang berwibawa yang memampukan dia memiliki lebih dari seorang isteri yang diberi keadilan yang rata.

    Maka dalam sejarah Islam, poligami tokoh-tokoh telah membuahkan kebaikan ilmu, keluasan keluarga dan keturunan. Berbagai lagi hikmah poligami yang boleh disenarai panjang. Malang sekali, apabila sesetengah pihak menyatakan tujuan mereka menentang pologami itu kerana hendak membela wanita, apakah pada mereka selain isteri pertama itu bukan wanita? Wanita itu, bukan isteri pertama sahaja, tetapi setiap yang berjantina wanita termasuk yang akan menjadi isteri kedua dan seterusnya. Perasaan dan kehendak mereka juga adalah tuntutan dan hak wanita yang perlu dihormati.

    ..pernah saya sebutkan bahawa kadang-kala hukum-hakam Islam boleh diumpamakan sebuah kedai yang menyediakan berbagai jenis ubat untuk semua jenis penyakit. Jangan kerana ada ubat yang dijual itu tidak bersesuaian dengan penyakit kita maka kita menganggap ubat tersebut mesti dihapuskan. Poligami adalah salah satu ubat bagi penyakit yang bersesuaian dengannya. Menghalang zina dan membantu wanita. Bagi yang tidak memerlukan ubat ini dia tidak disuruh meminumnya.

    ..poligami juga adalah jalan keluar kepada kehendak cinta di luar kawalan. Di zaman ini, untuk seseorang lelaki mendapatkan wanita secara haram, amatlah mudah. Namun jika ada lelaki yang ingin berkahwin sekalipun atas poligami yang membawanya menanggung berbagai risiko, saya rasa dia patut dihormati dan ada nilai tanggungjawab terhadap wanita.

    ..cuma malangnya, poligami ini jika digunakan oleh lelaki yang tidak bertanggungjawab sehingga mencemarkan institusi berkenaan. Apatahlagi golongan anti poligami ini hanya menonjolkan contoh-contoh buruk poligami dan melupai contoh-contoh baik yang banyak. Lelaki-lelaki yang baik dan berkemampuan patut tampil membawa contoh yang baik dalam perlaksanaan poligami. Sementara yang tidak berkemampuan dan ‘lemah’ kewibawaannya untuk adil, maka janganlah memakan ubat yang tidak diperuntukkan untuk anda.

    Komentar oleh Azy | 3 Juli 2013 | Balas

  10. maaf, sedikitpun saya tidak simpati dengan apa yang anda sampaikan, karena sepertinya anda tidak terlalu memahami kandungan ayat Allah…sebaiknya anda lebih memahami lagi tafsir dari beberapa ayat mengenai poligami.

    Komentar oleh eda | 13 Maret 2014 | Balas

    • Coba diteliti lagi. Itu postingan lama, copas dari blog tegakluruskelangit. Yang jelas saya mengapresiasi pendapat Anda. Trima kasih.

      Komentar oleh M. Arief B. Sansevieria | 13 Maret 2014 | Balas

    • Bukannya tidak terlalu paham. Malah blas tidak paham. Saya bisanya cuma tadarus dan baca terjemahan. Blas tidak paham ilmu tafsir ataupun cita rasa bahasa Arab.

      Komentar oleh M. Arief B. Sansevieria | 13 Maret 2014 | Balas

  11. Maaf sebelumnya, saya juga bukan ahli ibadah, dan juga bukan orang ahli ilmu,, tapi saya ingin memberi saran apabila mau di dengarkan : postingan ini alangkah lebih baiknya anda menambahkan nilai positif pada poligami dengan pengalaman anda sendiri kepada orang lain, dengan tidak menyakiti pihak yang berkepentingan (baik istri2 anda sendiri maupun orang lain), postingan anda seolah2 mengambil keuntungan dari aturan tersebut tanpa memperhatikan rasa kemanusiaan.
    Anda menyebutkan beberapa kata yang membuat telinga saya menjadi gerah :
    1. “namanya kejatuhan tangga, tapi tangganya empuk.” ; kejatuhan tanggung jawab anda katakan “empuk”. membuat sugesti ‘konotasi’ pembaca melihat anda menikah karena “empuk” bukan niat ibadah. membina rumah tangga untuk menjalin ketakwaan dengan sesama.
    2. “Wah memang Nabi itu memang benar sekali…….dst” ; kata-kata itu tidak perlu diucapkan dalam forum, bila memang harus diucapkan ucapkan secara pribadi dengan laki-laki yang berkonsultasi dengan anda. karena perkataan anada bisa jadi membuat kecemburuan antara istri anda, atau menyaikiti salah satunya.
    3. “Cuma saya ini sudah pol, Pak. Ada dalil nggak untuk bisa nambah lagi. Kalau sebagian ulama Syiah boleh ya.” ; berarti jika islam mengatur 12 istri maka anda akan menikah lagi? jika iya, anda seharusnya mengatakan itu pada hati anda sendiri bahwa anda mampu menikah dengan 12 istri karena anda merasa mampu dalam syarat poligami. jangan terlihat anda ini haus istri.
    4. “Kalau nggak cukup ya puasa” ; nafkah kepada istri memang semampunya, tapi alangkah baiknya anda mengatakan “MAAF, saya cuma bisa memberi nafkah 100rb sebulan, saya hanya mampu segitu, alangkah baiknya jika kita berpuasa bersama karena rizki kita yang sedang sedikit”.
    5. “Kalau mundur ya alhamdulillah, saya akan menikah lagi. Begitu hari ini mundur, besok saya akan langsung menikah lagi. Jadi sudah ngantri rupanya yang mau dimadu itu” ; anda mengatakan perceraian anda dengan istri anda sekarang adalah ALHAMDULILLAH, sepengetahuan saya perceraian merupakan hal yang paling dibenci oleh Allah,, bahkan jin/setan yang berhasil menceraiberaikan istri dengan suaminya ia akan ditempatkan duduk disamping singgasana kerajaan iblis. Kemudian disambung dengan mengatakan kembali tanpa perasaan public “BEGITU MUNDUR SAYA MENIKAH LAGI, SUDAH BANYAK YANG NGANTRI” ; coba anda resapi jika suara itu keluar dari suami anda, dan anda sebagai perempuan yang harus melahirkan untuk memberikan anak2 pada suami, merawat suami dan anak2. TOLONG, Jangan menghilangkan SIFAT KEMANUSIAAN dalam diri anda, walaupun itu sudah jihadnya wanita.
    6. “mudah sekali. Adil itu begini Bu, jangan dibawa kepada perasaan.” ; anda bisa saja mengatakan ‘jangan dimasukan dalam hati, jangan dibawa perasaan, jangan sensitive’. tapi anda jangan bilang hal itu mudah sekali.. seharusnya sebagai pelaku poligami anda mengatakan hal yang menyegarkan bukan menyepelekan.
    7. “Alasan utama adalah alasan kebebasan individual: setiap orang bebas dan bertanggungjawab untuk menentukan pasangan hidupnya sendiri, entah jumlah pasangannya nol, satu, dua atau pun tiga.” ; hal tersebut bisa terjadi jika anda seorang laki-laki yang beragama islam. jika dilihat nanti di kacamata agama lain . bisa saja kebebasan pasangan terjadi pada wanita. SEHINGGA alasan tersebut bukanlah tepat sebagai kebebasan indivudial, tetapi seharusnya lebih mengarah pada alasan aturan dalam dienul-islam yang memperbolehkan laki-laki beristri empat.

    wanita memang jihad sebagai ahlul bait dan hargailah itu dengan kata – kata yang lemah lembut, karena kata-kata tersebut adalah bentuk rasa kemanusiaan anda sebagai manusia. Tidak perlu berdebat pelanggaran HAM, karena kita semua yakin poligami merupakan aturan yang hak. Tapi setidak-tidaknya laki-laki yang berpoligami juga harus punya rasa kemanusiaan terhadap wanita (saya katakan wanita, bukan istri2 anda saja)..

    Komentar oleh pencari sirotol mustakim | 12 Desember 2014 | Balas

    • Kalo mau nanggapi, silahkan langsung ke sumbernya di http://tegakluruskelangit.blogspot.com …. dan bacanya lebih teliti lagi artikel siapa … serta background tahun waktu itu setting suasana politik, isu yg waktu itu memanas, dll ….
      Terima kasih komentarnya ….
      Walopun ini hanya copas, alias bukan tulisan saya, tetap tidak akan saya hapus …..
      Saya tidak.punya kompetensi maupun keahlian untk menanggapi …

      Komentar oleh M. Arief B. Sansevieria | 12 Desember 2014 | Balas

  12. semua wanita tdk akan mau dipoligami. pacarnya selingkuh aja marah2, apalagi suaminya poligami, menikah lg…
    cewek gila yg mau digituin !!!
    cowoknya jg gak pny prasaan bgt… tinggal enaknya aja cm nuruti nafsu… klo cm nuruti nafsu mending sm perek aja…drpd cari yg perawan tp ntar dipoligami lg…

    Komentar oleh nn | 14 Juli 2015 | Balas

  13. Brooo……coba dilihat lagi alasan-alasan mengapa Nabi Muhammad menikah lagi dan siapa saja yang dinikahi.

    Komentar oleh Anonymous | 23 Agustus 2015 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 74 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: