Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Maju Terus Bu Prita, Keadilan Menanti Anda (Sumpah HiPOKRATES)

Sebenarnya sudah beberapa hari kemarin mau nulis ini, tapi pemberitaan 9 desember lumayan buat jadi perhatian, sekedar sebentuk kepedulian dari salah satu rakyat Indonesia melihat bangsa dan negara.

Mulai nulis ya…..

Teman yang bekerja di bidang kesehatan bercerita; terkadang ada pasien dan keluarga pasien tidak paham dengan kondisi orang yang bekerja di kesehatan, terutama perawat dan dokter di rumah sakit yang seolah terkesan seenaknya dalam menangani pasien. Apalagi kalau pasien operasi berat dan gawat, eh… antar perawat dan atau dokternya malah berkelakar dan bercanda sebelum ritual pembedahan, padahal si pasien sangat ketakutan, juga keluarga pasien sangat berkhawatir dan cemas. Keterlaluan kan, mbok ya ikutan empati ikutan bersedih gitu, kok malah ketawa-ketawa.

Penjelasan temen saya, bahwa sebenarnya mereka juga dag dig dug der. Nyawa dan kesehatan pasien tetap yang utama.

Kenapa kadang berkelakar dan bercanda? Itu untuk tujuan agar lupa kondisi batin tim pelaku ritual operasi, terutama kalau ada karyawan yang baru. Bukan karena tidak empati, tapi kalau ikut larut dalam kesedihan, lebih-lebih kalau masih juga deg-degan dan cemas berlebihan, wah wah wah… malah bisa tambah parah.
Kenapa dalam menangani pasien yang segawat apapun kelihatan biasa dan tidak gugup? Apakah tidak merasakan penderitaan pasien dan kesedihan keluarganya?

Jawab temen saya, kalau ikut-ikutan gugup bisa kacau. Biarpun keadaan gawat, ketenangan harus tetap dijaga. Lagian juga mereka menangani hal-hal seperti itu sudah setiap hari, bertahun-tahun pula. Jadi wajar kalau sudah biasa. Karena itu jangan marah-marah terutama sama perawat, udah gajinya kecil 500ribu sebulan untuk menghidupi istri dan 4 anaknya (tidak berlaku untuk yang gajinya gede), masih bonus diomel-omelin pasien lagi, he he he.

Lain cerita temen saya, lain juga dengan permasalahan Bu Prita. Dalam hal ini temen saya membela Bu Prita (karena dia tidak kerja di RS OMNI ya…)

Melihat kronologis permasalahan yang menimpa Bu Prita dari awal hingga sampai pengadilan, sebagai orang awam hukum saya hanya bisa ikut berbelasungkawa atas ketimpangan keadilan yang terjadi. Sama seperti melihat kasus semangka berbuah jeruji, mbok minah terpidana, atau juga kapuk senilai Rp 8000 yang sempat diproses pidana. Hukum berjalan formal kalau pelakunya rakyat kecil, tapi kalau sudah rakyat besar, hukum menjadi mursal.

Walaupun perlu juga kebijaksanaan melihat suatu kejadian, cicak belum tentu benar, buaya belum tentu salah. Bisa saja buaya yang duduk tenang dikilik-kilik kupingnya sama si cicak, ya wajar kalau marah (jangan dikaitkan dengan cicak vs buaya yang kemarin lho).

Tapi kalau dianalogikan dengan kecelakaan bus versus sepeda motor, walaupun bus-nya benar dan sepeda motornya salah, secara hukum si bus tetep juga salah. (Denger-denger begitu kalau kebanyakan orang pada cerita).
Apalagi dalam kasus Bu Prita, maaf ya kalau Bu Prita ini dianggap sepeda motor dan RS OMNI dianggap bus, kaitan dengan kecelakaan bus vs sepeda motor, ya secara hukum tetap bus-nya yang salah, walaupun seumpamanya bus-nya dalam posisi bener. Apalagi kalau bus-nya yang memang salah.(kok analoginya ngawur ya, tidak niru analoginya Pak Hendarman Supanji lho).

Karena itu membaca berita Ibu Prita mengajukan upaya kasasi (ke MA ya?), saya hanya bisa ikut mendukung moral lewat tulisan yang sederhana ini.
Kemudian Bu Prita mengajukan gugatan balik dengan nilai immateriil gugatan sebesar 1 Triliun , sungguh nilai yang kecil untuk kehormatan penegakan hukum dan keadilan. Apalagi dibanding bagaimana RS OMNI pernah menuntut Ibu Prita sebesar 300 Milyar, sungguh perbandingan tuntutan ganti rugi yang belum imbang.

Dulu duluuuuuu sekali, sampai-sampai pernah mendengar ungkapan-ungkapan menyingkat KUHP dengan Kasih Uang Habis Perkara, mungkin saking keselnya hati memperjuangkan hak atau dilanggar hak-nya dalam proses hukum terus memberi singkatan sadis seperti itu. Tapi sekarang di era keterbukaan ini, dimana pers juga sangat berjasa sehingga masyarakat yang buta hukum dan buta keadilan dapat mengerti segala hal tentang hukum. Harusnya hukum juga sudah saatnya kembali pada singkatan HUKUM yaitu Harus Utamakan Keadilan Untuk Masyarakat.

Demikian juga dengan Bu Prita, maju terus pantang mundur.. Apabila pun jika nanti di MA tetap kalah, kalau nggak salah masih ada upaya lagi ya, PK apa ya namanya? Pasti akan bertemu dengan keadilan. Jikapun tetap belum bertemu juga, keadilan akhirat yang akan berbicara. Sebagai orang yang beribadah, harus yakin dengan itu.

Iya ini bagus : Prita Tolak Berdamai dengan Rumah Sakit Omni. Minta maaf berarti pengakuan bersalah. Walaupun menurut RS Omni: Prita Minta Maaf Kasus Selesai, Bukan Soal Uang.

Sebenarnya sekarang Ibu Prita sudah mendapatkan keadilan, yang berupa “keadilan rakyat”, walaupun sekedar berbentuk koin, itu sudah merupakan hal yang sangat luar biasa. Tenang saja bu, masih banyak yang mendukung baik itu berupa dukungan jalanan dari para demonstran yang marah dengan ketidak-adilan, bahkan juga dukungan adanya pemberitaan internasional di New York Times.
. Karena itu tidak usah lagi bersedih atau kecewa seperti waktu dulu menghadapi tuntutan.

Ibu Prita tidak sendiri, selain dukungan-dukungan dari segenap pihak, ibu juga didukung bahwa bukan ibu sendiri yang pernah digugat RS OMNI. Rumah Sakit Omni Medical Center, Pulomas, Jakarta Timur, juga menggugat perdata keluarga almarhum Abdullah Anggawie, pasien rumah sakit tersebut, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Waduh, udah dulu ya…., nggak berani nulis banyak-banyak…. Takut digugat.

Btw, sekarang sedang jamannya bertebaran sumpah, tapi boleh juga mengingatkan isi sumpah hippokrates:

Sumpah Hippocrates.
Sumpah Hippokrates adalah sumpah yang secara tradisional dilakukan oleh para dokter tentang etika yang harus mereka lakukan dalam melakukan praktek profesinya

(Lafal Asli, diterjemahkan dari bahasa Yunani.)

I swear by Apollo Physician and Asclepius and Hygieia and Panaceia and all the gods and goddesses, making them my witnesses, that I fulfil according to my ability and judgement this oath and this covenant.
Saya bersumpah demi (Tuhan) … bahwa saya akan memenuhi sesuai dengan kemampuan saya dan penilaian saya guna memenuhi sumpah dan perjanjian ini.

To hold him who has taught me this art as equal to my parents and to live my life in partnership with him, and if he is in need of money to give him a share of mine, and to regard his offspring as equal to my brothers in male lineage and to teach them this art-if they desire to learn it-without fee and covenant; to give a share of precepts and oral instruction and all the other learning of my sons and to the sons of him who instructed me and to pupils who have signed the covenant and have taken an oath according to medical law, but to no one else.
Memperlakukan guru yang mengajarkan ilmu (kedokteran) ini kepada saya seperti orangtua saya sendiri dan menjalankan hidup ini bermitra dengannya, dan apabila ia membutuhkan uang, saya akan memberikan, dan menganggap keturunannya seperti saudara saya sendiri dan akan mengajarkan kepada mereka ilmu ini bila mereka berkehendak, tanpa biaya atau perjanjian, memberikan persepsi dan instruksi saya dalam pembelajaran kepada anak saya dan anak guru saya, dan murid-murid yang sudah membuat perjanjian dan mengucapkan sumpah ini sesuai dengan hukum kedokteran, dan tidak kepada orang lain.

I will use treatment to help the sick according to my ability and judgment, but never with a view to injury and wrongdoing. neither will I administer a poison to anybody when asked to do so, not will I suggest such a course.
Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak akan pernah untuk mencelakai atau berbuat salah dengan sengaja. Tidak akan saya memberikan racun kepada siapa pun bila diminta dan juga tak akan saya sarankan hal seperti itu.

Similarly I will not give to a woman a pessary to cause an abortion. But I will keep pure and holy both my life and my art. I will not use the knife, not even, verily, on sufferers from stone, but I will give place to such as are craftsmen therein.
Juga saya tidak akan memberikan wanita alat untuk menggugurkan kandungannya, dan saya akan memegang teguh kemurnian dan kesucian hidup saya maupun ilmu saya. Saya tak akan menggunakan pisau, bahkan alat yang berasal dr batu pada penderita(untuk percobaan), akan tetapi saya akan menyerahkan kepada ahlinya.

Into whatsoever houses I enter, I will enter to help the sick, and I will abstain from all intentional wrongdoing and harm, especially from abusing the bodies of man or woman, slave or free.
Ke dalam rumah siapa pun yang saya masuki, saya akan masuk untuk menolong yang sakit dan saya tidak akan berbuat suatu kesalahan dengan sengaja dan merugikannya, terutama menyalahgunakan tubuh laki-laki atau perempuan, budak atau bukan budak.

And whatsoever I shall see or hear in the course of my profession, as well as outside my profession in my intercourse with men, if it be what should not be published abroad, I will never divulge, holding such things to be holy secrets.
Dan apa pun yang saya lihat dan dengar dalam proses profesi saya, ataupun di luar profesi saya dalam hubungan saya dengan masyarakat, apabila tidak diperkenankan untuk dipublikasikan, maka saya tak akan membuka rahasia, dan akan menjaganya seperti rahasia yang suci.

Now if I carry out this oath, and break it not, may I gain for ever reputation among all men for my life and for my art; but if I transgress it and forswear myself, may the opposite befall me.
Apabila saya menjalankan sumpah ini, dan tidak melanggarnya, semoga saya bertambah reputasi dimasyarakat untuk hidup dan ilmu saya, akan tetapi bila saya melanggarnya, semoga yang berlawanan yang terjadi.
(WIKIPEDIA)

8 Desember 2009 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , , , , , ,

1 Komentar »

  1. Yuk dukung Koin Prita Masuk Guinnes Books of Records; spy dokter-dokter di OMNI itu tambah malu… baca ya di sini:

    http://kalipaksi.com/2009/12/16/guinness-world-records-untuk-koin-prita/

    ——————
    Arief: humas-nya juga yang utama.. 🙂

    Komentar oleh sofwan.kalipaksi | 17 Desember 2009 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: