Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

UU ITE versus Crowd Dunia Maya [Persaudaraan Dunia Maya Menuntut Segera Revisi Pasal 27 ayat (3) UU ITE]

Apakah dunia maya benar-benar maya? Ternyata, belum tentu bener-bener maya, dunia virtual ini terbukti potensial dan dahsyat di dunia nyata. Contohnya, bagaimana facebooker dengan grup mendukung Bibit-Chandra bikin keder dan mempengaruhi proses kelanjutan kasusnya. Juga koin keadilan Prita Mulyasari yang berangkat dari ranah maya blogger saya kira akan mempengaruhi juga bagaimana kelanjutan kasus Prita nantinya. Yang sekarang paling gres, dukungan untuk kasus Luna Maya mengundang puluhan ribu pendukung di Facebook.
Dunia maya memang nyata potensialnya, dahsyat, dan luar biasa. Cukup jelas.

Cukup dengan secangkir kopi dan duduk di depan komputer atau utak-utik keypad hp, kita sudah bisa ikut bergabung mendukung gerakan si anu atau memboikot si itu. Terserah kita.

Ya… terserah kita. Serasa demikian liarnya kata “terserah kita”. Semua pemikiran, perasaan, atau sekedar bicara latah tertampung dalam “terserah kita”. Akhirnya dunia maya menjadi hutan rimba “terserah kita”, bisa berupa pujian sampai sumpah serapah dan makian….. Mereka dengan enteng menjadikan media sosial sebagai tempat penampung kekesalan, kemarahan, kebencian, pemiliknya.
Cukup jelas.

Terlepas dari “terserah kita”, yang jelas crowd di dunia maya sudah sejak lama dibidik oleh situs berita yang tentu kita kenal akrab; detikcom. Dengan m.detikcom-nya segala berita terhangat cukup menekan ok/yes langsung terpapar di layar hp kita. Ada lagi m.kompas dan m.okezone juga cepat buat diakses. Bandingkan dengan tempointeraktif (?)
Yach, masing-masing media punya kebijakan sendiri untuk pangsa pasar yang menjadi targetnya. Cukup jelas.

Crowd, merupakan kumpulan subyek hukum, tiba-tiba sekarang serasa tertekan berhadapan dengan UU ITE khususnya pasal 27 ayat (3).
Ada apa dengan UU ITE?
Memang dulu sempat terjadi pro kontra sewaktu masih berupa RUU, kemudian seakan tidak begitu memperhatikan lagi sejak diundangkan, tapi setelah muncul kasus Prita, kasus guru di Sulut, Ujang melawan Feli, serta pencemaran nama baik terkait Teh Botol Sosro, dan sekarang muncul lagi kasus Luna Maya. Barulah semua pengguna dunia maya menjadi terhenyak. Bahkan bisa-bisa stres mendadak.
Biasanya ceplas ceplos, eh eh eh…. mendadak jadi khawatir untuk mengeluarkan pendapat. Hukumannya bisa 6 tahun dengan denda milyaran. Ealah. Terus dimana lagi tempat buat melepas rasa dan pikiran biar bisa plong….

Untuk itu, kita simak bagaimana pihak berwenang dan tokoh terkait berbicara mengenai UU ITE:

Patrialis Akbar, Menkumham:
Pasal pencemaran nama baik yang tertuang di dalam pasal 27 ayat (3), menurut mantan anggota DPR itu harus segera diubah.
“Pasal tersebut harus diubah karena itu sangat sensitif. Kalau perlu diubah dari awal secara keseluruhan.”. (okezone)

Depkominfo:
Bila langkah itu memang terbaik, tak jadi soal direvisi. (detik)

Machfud MD, Ketua Majelis Konstitusi
“UU ITE itu benar adanya, karena memang cara-cara mencemarkan nama baik atau memfitnah bisa dilakukan lewat alat-alat elektronik,”
Fitnah yang dilakukan melalui dunia maya memiliki efek yang lebih luas dibandingkan dengan pencemaran lewat pidato.
“Sifatnya massif dan jauh lebih meluas dan sulit juga untuk dihapus dan terlanjur beredar.”
“Harus ada pengaduan,….”
“Sudah diuji di MK, UU ITE konstitusional.”
(detik)

Roy Suryo, pakar telematika:
“DI dunia maya itu juga harus ada konsekuensi yang diterima, dari bagian etika mengeluarkan pendapat dalam mengeluarkan pendapat”
UU ITE merupakan alat yang tepat untuk meluruskan akan anggapan salah kaprah, kalau di dunia maya tidak ada hukum yang mengatur kebebasan sebebaas-bebasnya. (okezone)

Kombes Pol Petrus R Golose, Kepala Unit IT dan Cyber Crime Bareskrim Polri:
Saat ini untuk menindak kejahatan dunia maya misalnya transaksi bisnis lewat internet, merusak sistem, mencuri password, bisa ditindak dengan UU ITE.
Sebelum ada UU ITE, untuk bisa menjadikan barang bukti flashdisk perlu dicetak. Ia mencontohkan, untuk flashdisk berkapasitas 1 GB bisa jadi lembaran kertas satu truk.
“Bayangkan saja jika isinya (flashdisk) puluhan GB.” (kapanlagi)

Nah tuh… pendapat pihak berwenang dan para pakar saja bisa beda. Kita sebagai bagian dari crowd dunia maya akhirnya hanya bisa menunggu, apakah akan ada revisi/amandemen khususnya terhadap pasal 27 ayat (3) UU ITE, atau akan tetap diteruskan dan bisa ditebak; permasalahan-permasalahan masih akan dan terus terjadi atau crowd dunia maya menjadi bungkam didominasi tulisan cinta cinta cinta dan sekitar hubungan badan. Cukup jelas.

Mengingat:

Sementara ini pihak pengadu/saksi korban masih termasuk rakyat biasa (OMNI dan PWI infotainment sementara saya anggap rakyat biasa), bagaimana nanti kalau pejabat-pejabat tinggi dan tertinggi, para wakil rakyat, lembaga-lembaga tinggi negara menjadi saksi korban/pihak pengadu setelah membaca tulisan di wordpress, blogspot, facebook, twitter, dll dll dll…… atau kalangan agamawan, menemukan tulisan-tulisan yang termasuk mengandung penghinaan, pencemaran nama baik mereka… kemudian mereka menuntut dengan pasal 27 ayat (3) UU ITE ?!?! Urusannya bukan cuma tulisan kita dibreidel atau blog kita dihapus paksa, tapi urusannya kita bisa mendekam di penjara bahkan dituntut ganti rugi yang bisa sampai hitungan milyar. Mau ??

Namun apakah kita hanya akan pasif menunggu dan menunggu?
Kita sudah berlabuh di lautan maya, banyak hal kita tulis di sini. Ungkapan hati ungkapan rasa; bikin plong kalau sudah menuliskannya. Tapi sekarang kita jadi takut, khawatir terjerat kelenturan pasal 27 ayat (3) UU ITE, lebih-lebih kalau pencemaran nama baik dan atau penghinaan dibuktikan dengan didasari perasaan dan kebebasan penafsiran. (penjelasan pasal 27 itu hanya: “cukup jelas”)

Maka, sambil ngopi, nge-teh, atau softdrink,
demi “terserah kita”,
kalau dirasa memang mengganggu dan membatasi baik pikiran maupun perasaan,
kalau dipikir memang menjadi penghambat dan atau pengekang kreatifitas berfikir dan berkarya,
bisa kita tuliskan bersama-sama:

Persaudaraan Dunia Maya Menuntut Segera Revisi Pasal 27 ayat (3) UU ITE !!!!!!! Kalau perlu: CABUT !!!!!

Iklan

23 Desember 2009 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , ,

2 Komentar »

  1. kadang memang kita perlu tegas membedakan “kebebasan berekspresi” dan “kebablasan berekspresi”.

    ——
    Admin: berarti perlu uu ite.

    Komentar oleh Hafid Algristian | 24 Desember 2009 | Balas

  2. […] saja, crowd dunia maya sudah seperti dunia nyata. Ada kerumunan, ada transaksi, ada penawaran, ada penjualan, ada […]

    Ping balik oleh Apa Saja Modal yang Dibutuhkan dalam Jualan via Internet Online | Ariefmas's Weblog | 9 April 2014 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: