Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Penjara Mewah Artalyta dan Asas Persamaan di Depan Hukum: Sebuah Potret Buram

Penjara yang selanjutnya disebut juga Lembaga Pemasyarakatan (LP), selain sebagai hukuman yang mempunyai efek jera, ditujukan juga sebagai tempat untuk merehab terpidana agar bisa kembali diterima di tengah-tengah masyarakat. Otomatis dapat dipahami bahwa orang yang terpidana berarti terbukti telah melanggar hukum dan tidak layak berada dalam tata pergaulan umum di masyarakat. Karena itu harus disendirikan, kebebasannya direnggut paksa oleh hukum, akibat ulahnya sendiri.

Selanjutnya “demi keadilan dan berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa” hakim memberi putusan, dan sang terpidana dijebloskan ke penjara. Menjalani hari-hari dalam kungkungan terali besi bersama pelaku-pelaku kejahatan yang lain.
Jadi, kalau boleh dikatakan bahwa penjara merupakan tempat penampungan hasil produksi penegakan hukum setelah melewati rangkaian proses, mulai dari masih ber-status tersangka, terdakwa, hingga status terpidana.

Berbicara tentang penegakan hukum berarti berbicara juga tentang hukum itu sendiri. Di dalam ilmu hukum mengenal asas equality before the law, dimana semua orang mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum. Mencoba menerapkan asas tersebut dalam kaitannya dengan penjara, dapat diambil kesimpulan bahwa persamaan di depan hukum berarti sama dengan persamaan di dalam penjara. Secara tegas dikatakan; bahwa semua orang mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum – berarti sama dengan – semua orang mempunyai kedudukan yang sama di dalam penjara. Hal ini berkaitan erat dengan norma dan rasa keadilan di dalam hukum. Karena itu mungkin rasa keadilan sudah mati sampai di sini; di penjara mewah Artalyta. (maaf Ndoro, tidak sengaja bikin ping balik)

Semua orang mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum – berarti sama dengan – semua orang mempunyai kedudukan yang sama di dalam penjara. Semua orang adalah subyek hukum. Tidak peduli kaya atau miskin, anak presiden atau anak pengemis, bahkan tidak peduli sebelumnya berstatus pejabat atau pengangguran. Semuanya sama. Yang berpangkat harus menanggalkan kepangkatannya, yang anak presiden harus meninggalkan semua fasilitas dan kemewahan yang pernah dimilikinya, yang kaya harus meninggalkan kekayaan dan gaya hidupnya.
Begitulah idealitanya.

Tetapi realita berbicara lain, pengungkapan penjara mewah Artalyta menjadi potret buram kehidupan hukum di negeri ini. Layaknya rumah sakit, penjara seakan juga mempunyai kelas-kelasan, ada yang kelas III, juga ada yang kelas VIP. Pelayanan dan fasilitas tentu juga berbeda. Apa yang membedakannya ? Uangnya ? Tentu saja uangnya yang membedakan kelas-kelas di rumah sakit. Tapi kalau karena uang sehingga di dalam penjara pun berbeda kelasnya, itu yang menjadi masalah. Terkait dengan asas persamaan di depan hukum, perbedaan kelas di penjara telah merubah asas tersebut menjadi asas perbedaan di depan hukum tergantung uangnya. Ironis.

Agak melenceng dari tema tulisan, yang menjadi pertanyaan selanjutnya malah,
dengan pertimbangan uang:
Apakah demikian juga proses hukumnya sebelum di penjara ?
Apakah berbeda juga penanganannya sejak dari BAP sampai Putusan Pengadilan ?

Contoh paling dekat bisa dilihat dari kasus Prita dan kasus Luna Maya. Terlepas dari reaksi masyarakat yang mempengaruhi perbedaan proses kedua kasus tersebut. Tapi semenjak ada pengaduan, kenapa terhadap Luna Maya pihak polisi tidak serta merta menangkap dan menahan ? Kalau tidak salah waktu itu ada pemberitaan bahwa kasusnya masih dipelajari. Kenapa harus mempelajari kasus dulu baru bertindak ? Apa beda Luna Maya dan Prita sehingga penanganannya musti berbeda ?
Padahal dasar hukum kasusnya sama (UU ITE). Juga sama-sama delik aduan. Harusnya juga sama di depan hukum. Tangkap dan tahan setelah ada pengaduan.

Kembali pada permasalahan penjara. Pengungkapan kasus penjara mewah Artalyta merupakan salah satu prestasi pemerintahan SBY, kelincahan Satgas Mafia Hukum patut diacungi jempol. Hebat memang pemerintahan yang membanggakan ini.
Selanjutnya menjadi pekerjaan rumah di bidang hukum, untuk memberi ketegasan pada konsep pengaturan mengenai penjara dalam rangka penerapan asas persamaan di depan hukum. Sehingga rasa keadilan masyarakat tidak lagi terluka dan tersakiti. Namun tanpa meninggalkan pertimbangan manusiawi, penjara tetap harus mengandung efek jera bagi terpidana, jangan sampai penjara menjadi tempat bermanja-manja yang tidak membuat kapok tapi malah ingin memasukinya lagi. Semoga.

[ditulis oleh: M. ‘Arief B.]

tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan Orang Desa atas kondisi hukum negeri ini..

Iklan

17 Januari 2010 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

9 Komentar »

  1. Pertamax ah ???
    Info menarik mas, kunjungan baliknya ya

    ————-
    Arief: Tentu saya berkunjung dan trima kasih kunjungannya….

    Komentar oleh Gus Ikhwan | 17 Januari 2010 | Balas

  2. Wah memang uang jadi dilema! Yang punya uang berfikir semua hal bs diatur!

    Komentar oleh Agus Purwoko | 17 Januari 2010 | Balas

    • Hanya uang itu sendiri yang sulit diatur..

      Komentar oleh ariefmas | 17 Januari 2010 | Balas

  3. dimana mana selalu berakhir UUD (ujung-ujungnya duit) mungkin karena si artalyta jadi investor di penjara sehingga dianggap layak mendapat perlakuan lebih dari sipir nya 😦 😕
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tanah Lot

    Komentar oleh Sugeng | 17 Januari 2010 | Balas

    • Lama-lama bisa Utang-Utang Dulu (UUD).

      Salam hangat juga untuk tanah lot

      Komentar oleh ariefmas | 17 Januari 2010 | Balas

  4. Kalau penjaranya aja mewah berarti rumahnya lebih mewah ya mas? Salam kenal nih dari pendatang baru.

    ————-
    Arief: Bisa jadi rumahnya malah serasa penjara.

    Salam kenal juga…..

    Komentar oleh perawandesah | 18 Januari 2010 | Balas

  5. indonesia gittu loch apa sich yg ga bisa hahaha

    kunjungan n tukeran link dunt hehe makasih mohon dikunjungi balik

    ————–
    Arief: Tongkat kayu dan batu jadi tanaman….
    Pun tahanan penjara jadi jualan….
    Hehe, boleh tukeran. Dengan senang hati….

    Komentar oleh darahbiroe | 18 Januari 2010 | Balas

  6. Ya kalau penjara mewah, bahaya itu. Orang-orang yang miskin akan memilih hidup dipenjara saja, karena akan dapat makan, tempat tidur, pakaian, air, yang cukup, apalagi mewah.

    Tapi ya penjara seharusnya juga tidak terlalu butut, alias layak untuk ditinggali.

    Jadi, kalau dibuat suatu rumus; Penjara = P
    P = f (layak ditinggali, membuat jera).

    Diambil ttik tengah antara kedua hal.

    Wah masih ada kasus prita lagi? Cape deehh 😆

    Komentar oleh mikha_v | 27 Januari 2010 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: