Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Resensi Buku: MEREKA MENODONG BUNG KARNO

Mereka Menodong Bung Karno

Resensi oleh: Ahmad Khotim Muzakka, pegiat pustaka Pesanggerahan Kalamende

Ternyata intimidasi tak hanya dilayangkan dari atasan kepada bawahan, tapi juga dari bawahan kepada atasan. Soekarno sebagai Bapak Bangsa pun tak lepas dari jerat pengintimidasian. Semasa hidupnya ia sering dikebiri oleh bahkan orang yang berada di bawahannya dalam strata kekuasaan. Yang tentunya mendapatkan legitimasi dari ”pemain utama” bidak catur politik tingkat tinggi. Negara-negara maju.

Dalam buku ini Wilardjito, seorang pengawal Presiden, menguak apa yang ”sebenarnya” terjadi seputar lengsernya Soekarno dari tahta mahkotanya. Sebagai pelaku sejarah, tak bisa dipungkiri, ia paham betul dengan kondisi saat itu. Maka setiap kata yang dituliskan adalah sisi lain sejarah yang selama ini mendekam dalam ingatan. Hingga ia tak mampu membendungnya lagi. Karena ”kebenaran” tak bisa disembunyikan. Serapat apa pun disimpan. Seketat apa pun ia dipertahankan untuk tidak diketahui oleh khalayak publik.

Lewat buah ”nostalgia”nya ini ia meriwayatkan sebuah ”kisah”. Yang sudah barang tentu tak bisa lepas dari subjektifitasnya sebagai penulis. Justru, inilah nilai lebih buku ini. Jika buku-buku sejarah lainnya diramu berdasarkan kesaksian banyak orang, buku ini menunjukkan pada kita bahwa saksi tunggal bisa dijadikan patokan untuk—paling tidak–menilai satu ”kebenaran” yang tak jarang dipermainkan dengan sekehendak peramu sejarah.

Manipulasi
Sebagai negara yang menginginkan kemajuan berpihak kepadanya, Indonesia merasa bosan untuk terus menjadi negara jajahan. Kemerdekaan merupakan tujuan utama yang dielu-elukan oleh tiap warga. Oleh karenanya, meskipun tanpa persetujuan Belanda, dalam hal ini Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia tanggal 27 Desember 1949, Soekarno memplokamirkan kemerdekaan negeri ini pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selang beberapa kemudian, muncul isu tentang pembubaran PKI yang diindikasi membujuk Soekarno menolak saran Belanda agar Indonesia dijadikan negara federal. Dari sinilah skandal manipulasi sejarah mulai dibeberkan. Secara tak sengaja, Wilardjito melihat tayangan film dokumenter. Sontak ia berceletuk; ”Wah ngapusi” (menipu).

Selanjutnya ia berkata: ”…kukatakan begitu, pertama-tama karena ketika serangan 1 Maret 1949 itu aku ikut perang, nyatanya gambarku tidak ada. Kedua yang mondar-mandir di sepanjang jalan Malioboro itu Kapten Latief, bukan Harto. Ketiga yang diperintahkan supaya menduduki stasiun Tugu pasukanku dan diperintah langsung itu aku. Itu juga tak ada gambarnya…”. Inilah pembelaan yang dilancarkan Wilardjito.

Menurutnya, dalam film tersebut yang dijadikan ”tokoh utama” hanyalah Soeharto. Landasan berpikirnya, pertama; serangan 1 Maret 1949 bukanlah inisiatif Soeharto melainkan Sultan HB IX. Kedua; yang selalu ditampilkan hanya Soeharto mulai inisiator sampai pelaksana. Padahal sepengetahuan Wilardjito, saat pertempuran berlangsung Soeharto malah nongkrong di arung sate Kadipiro.

Membaca buku ini, Anda benar-benar dikuakkan sejarah baru dalam narasi yang memiliki nilai ke-intiman yang lebih. Ditulis dengan gaya dongeng yang khas pembaca tak dituntut untuk menghafal kapan satu kejadian terjadi, melainkan digiring untuk mengenali runtutan kronologis yang lebih mengena. Seakan membaca sebuah novel.

Penentangan terhadap kiprah kepemimpinan Soekarno kian berhembus kencang saat CIA tak terima dengan sikap Presiden pertama ini yang dinilai ekstrimis, tak menerima tawaran Belanda tadi. Gendang perlawanan segera ditabuh Amerika dan Belanda. Terbukti setelah PKI dihancurkan, Soekarno-Hatta ditawan Belanda di pulau Bangka.

Sepak terjang penjegalan terhadap kekuasaan Soekarno kian kentara, dan dilakukan secara terang-terangan sekaligus blak-blakan. Salah satu kejadian yang bisa saya ajukan sebagai sebuah tindakan ”anarkis” yang janggal antara lain; keterpaksaan Soekarno dalam penandatanganan surat perintah yang tertanggal 11 Maret 1966 dan naskah pembubaran PKI. Dalam keterangannya, Wilardjito menyebutkan kejanggalan yang tampak adalah surat tersebut kertas dan kop suratnya bukan kertas dan kop kepresidenan, tetapi kemiliteran.

Parahnya, ketika hendak menolak menandatangani diktum tersebut Soekarno malah mendapat jawaban tak mengenakkan dari Basoeki Rachmat: ”Untuk merubah waktunya sudah sangat sempit. Tandatangani sajalah, paduka. Bismillah.”

Kita akan terkaget-kaget setelah M Panggabean mencabut pistolnya di tengah persitegangan tadi. Karena merasa nyawanya terancam Soekarno terpaksa menandatangani diktum tersebut. Ini bisa disimak dari ucapan berikut ini; ”Jangan! Jangan! Ya, sudah kalau mandat ini harus kutandatangani, tetapi nanti kalau masyarakat sudah aman dan tertib, supaya mandat ini dikembalikan kepadaku.”

Pertanyaan yang muncul sekarang ini masihkah praktik tak terpuji tersebut masih dibudayakan. Jika intimidasi semacam itu masih dilakukan, mengapa kekuasaan selalu diperebutkan tiap tahunnya. Melihat kenyataan ini kita sepatutnya bertanya sudah dewasakah nalar ”berpolitik” yang dilaksanakan selama ini?

Judul : Mereka Menodong Bung Karno; Kesaksian Seorang Pengawal Presiden
Penulis : Soekardjo Wilardjito
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 354 halaman

(dikutip dari: Harian Surya)

Iklan

20 Februari 2010 - Posted by | Unduh dari media online | , , , , , , , , , ,

10 Komentar »

  1. Blog punya mas bagus.. salam kenal yah..

    Komentar oleh idisuwardi | 20 Februari 2010 | Balas

    • Salam kenal dan trima kasih juga untuk idi suwardi.

      Komentar oleh ariefmas | 20 Februari 2010 | Balas

  2. hiks ea yaw selama ini saya gak ngehh orang no 1 di negeri ini dulu juga pernah ter intimidasi yaw hehe

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya lagi makasih “:D

    Komentar oleh darahbiroe | 20 Februari 2010 | Balas

    • wah, maaf komentarnya baru tampil…. lama nggak nge-check spam, ternyata ada di spam… maaf bener ya

      juga untuk dua komentar yang lain, sudah saya klik “bukan spam” dan “setuju”

      Komentar oleh ariefmas | 22 Februari 2010 | Balas

  3. Selamat siang!
    Salam sejahtera selalu buat Anda!
    Hidup adalah perjuangan.
    Perjuangan harus disertai pengorbanan dan pengorbanan tdk hanya harta tetapi hal yg maya seperti waktu, kita juga harus meluangkan waktu untuk sekedar silaturahmi seperti ini. Jadi luangkanlah sedikit waktu untuk saling kunjung.
    Sebuah renungan dari BULENTIN
    Salam hangat untuk Anda dari
    “CARISSHA”
    selamat berakhir pekan bersama keluarga dan orang2 terkasih disekeling Anda!

    Komentar oleh Carissha | 20 Februari 2010 | Balas

    • Renungan yang manis 🙂

      Banyak keterbatasan yang belum memungkinkan untuk keliling-keliling silaturahmi.

      Selamat berakhir pekan untuk Carissha.

      Salam hangat.

      Komentar oleh ariefmas | 20 Februari 2010 | Balas

  4. wah bukunya kayanya seru tuh…. tetapi dalam menerima informasi kita juga harus hati-hati;… jangan asal langsung percaya…

    Komentar oleh sauskecap | 20 Februari 2010 | Balas

    • 100% setuju untuk tidak mudah percaya . .

      Komentar oleh ariefmas | 20 Februari 2010 | Balas

  5. apa kah ni sesuai dgn web titus yg benar kah???? atau gimana ni….

    Komentar oleh elly | 30 November 2010 | Balas

  6. salam…?? mohon maaf sebelumnya….kalo menurut saya pada saat di todong pistol, IR. SUKARNO tidak takut, dan penendatanganan itu bukan karena landasan ketakutan akan nyawanya sndiri…kita semua tau bgmn mental SANG PUTRA FAJAR, semasa penjajahan bagaimana BELIAU ditawan dan telah mengalami hal yang bahkan lebih tertekan daripada kondisi saat itu, jadi menurut sya ada pertimbangan lain, misalnya : IR.SUKARNO tau betul pengaruhnya terhadap bangsa, maksudku ketika terjadi apa-apa dengannya pasti respon masyarakat sangatlah besar, naah….DIA (SANG PUTRA FAJAR) SANGAAAAATTTTT MENYAYANGI NEGARA INI DAN MAYARAKAT INDONESIA yang tidak ingin ada pertumpahan darah antara sesama….maaf…itu secara umum..untk artikelnya,,,saya BANYAK-BANYAK BERTERIMAKASIH….
    semoga kita semua kelak menjadi orang INDONESIA SEBAGAIMANA MAKSUD OLEH BUNG KARNO SEBAGAI ANAK-ANAK SUKARNO….

    Komentar oleh AZIS SYAHBAN | 15 Desember 2012 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: