Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Ini Sebab Poligami Diterima di Afrika Selatan

Di negara-negara Asia atau Afrika praktik poligami tentu sudah menjadi hal yang lumrah. Namun, hal itu biasanya dilakukan oleh warga yang bukan beragama Kristiani. Anehnya, hal ini tidak menjadi halangan di Afrika Selatan. Bahkan, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma kini memiliki tiga istri. Kok bisa?

Jacob Zuma kini tengah menjadi perbincangan hangat media Inggris. Tiga hari kunjungannya ke Inggris tentu hendak membicarakan hal-hal lain di luar urusan rumah tangganya. Negara itu, seperti dilansir BBC, ingin membicarakan masalah perdagangan dan posisinya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Namun, entah kenapa, rakyat Inggris justru lebih tertarik membicarakan Thobeka Mabhija, perempuan kelima yang dinikahinya beberapa bulan lalu.

Tentu saja karena di Inggris tradisi menikahi lebih dari satu perempuan adalah perbuatan pidana. Namun, di kalangan suku Zulu yang merupakan suku asal Zuma, poligami adalah tradisi. “Saat Inggris datang ke negara kami, mereka mengatakan semua yang kami lakukan biadab, salah, tak bermartabat, dan sebagainya,” kata Zuma, di Johannesburg akhir pekan ini.

Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik balik Zuma atas masyarakat Barat yang kerap merendahkan bangsa Afrika. “Saya tidak tahu mengapa mereka masih saja menganggap kebudayaan mereka lebih tinggi dari peradaban orang lain,” ujarnya.

Kecanduan seks
Namun, tak hanya negara Barat yang mengkritik praktik itu. Di dalam negeri, Zuma juga menghadapi derasnya kecaman, terutama dari lawan politiknya. Seorang anggota parlemen Afrika Selatan mendesak Zuma untuk mendapatkan terapi seks dari seorang profesional.

Dia dituding mengalami kecanduan seksual karena melakukan praktik poligami. Apalagi, Zuma juga memiliki seorang anak di luar nikah dengan Sonono Khoza, 39, putri dari salah seorang ketua panitia Piala Dunia, Irvin Khoza. Kenneth Meshoe, anggota parlemen tersebut, mengatakan Zuma perlu melakukan konsultasi seperti yang dilakukan Tiger Woods. Dia juga menuduh tingkah laku presiden bertentangan dengan kebijakan pemerintah mengenai HIV/AIDS.

Partai Zuma, ANC sendiri sudah mengukuhkan bahwa Zuma membayar kompensasi bagi kehamilan Khoza. Dalam beberapa budaya Afrika Selatan, ayah dari anak yang dilahirkan di luar pernikahan harus membayar ganti rugi yang disebut Inhlawulo bagi keluarga perempuan. Pembayaran yang dilakukan Zuma menunjukkan bahwa dia tidak menyangkal sebagai bapak dari anak yang dikandung Khoza.

Ketua Partai Kristen Demokrat Afrika (ACDP) Pendeta Mesheo mengatakan anak di luar nikah tersebut menunjukkan bahwa Zuma tidak menggunakan kondom. “Dia melanggar kebijakan seks yang aman yang dianjurkan oleh pemerintah,” ujarnya.

Penyetaraan gender
Permasalahan poligami sendiri memang sudah lama menjadi perbincangan warga Afrika Selatan. Bahkan, kalangan muda menganggap praktik poligami sudah tidak pantas lagi diterapkan di era modern.

Kini, praktik poligami di perkotaan memang sudah berkurang karena mengalami kesulitan untuk mengikutinya. Namun di kawasan pedesaan tradisi itu tetap bertahan. Warga Muslim dan kelompok-kelompok kultural lainnya di Afrika Selatan juga mempraktikkan poligami.

Benturan budaya dan agama sering menjadi permasalahan. Bahkan, benturan telah terjadi sejak abad ke-19. Yakni, ketika misionaris kulit putih menetapkan bahwa ketika seseorang memeluk agama Kristen, harus diikuti dengan menceraikan istri mereka yang kedua dan seterusnya.

“Saat Inggris menjajah, mereka mempersulit poligami bagi warga kulit hitam dengan cara mengenakan pajak atas setiap istri,” jelas Ndela Ntshangase, dosen kajian Zulu di Universitas Kwazulu-Natal.

Adakah alasan lain di luar masalah tradisi? Ntshangase beralasan di Afrika bagian selatan, populasi perempuan sedikit lebih banyak dibandingkan pria. Populasi pria menyusut karena kematian tak alami, yakni akibat peperangan dan kegiatan berbahaya lainnya.

“Kalau kita katakan harus satu pria untuk satu perempuan, maka kita akan melihat sejumlah besar perempuan yang tidak akan bersuami. Lalu, mau kita apakan mereka?” ujarnya.

Kalangan tua, kata dia, juga menggunakan poligami untuk memeringatkan kalangan muda bahwa mereka bisa tidak mungkin mendapatkan kekasih jika bertingkah buruk. “Untuk mendapatkan seorang gadis, kamu harus menjadi anak baik. Pemuda yang bertanggung jawab akan menjadi suami yang bertanggung jawab,” demikian ungkapan orang tua setempat.

Namun, alasan ini ditolak pengamat sosial Protas Madlala. Menurut dia, alasan poligami lebih karena dapat meningkatkan status dan pemasukan keluarga. Sebab, menambah jumlah istri dimungkinkan sangat menguntungkan bagi masyarakat pertanian.

Menurut dia, poligami akan mengangkat derajat kesejahteraan ekonomi perempuan. “Poligami cocok dengan kualitas sosial-ekonomi yang kami miliki. Kesejahteraan para istri akan terjamin,” kata dia.

Sementara periset di Universitas Pretoria, Leslie Mxolisi Dikeni, mengatakan praktik poligami tidak akan menyelesaikan permasalahan ketidakseimbangan gender. “Di atas kertas memang akan ada emansipasi penuh bagi perempuan. Namun bentuk poligami yang ada selama ini tidak seperti itu,” ucapnya.

Baik atau buruknya nilai tradisi itu tentu akan berbeda jika melihat dari sudut pandang budaya dan sosial. Sebab, suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Sehingga, hal ini cenderung akan membentuk gagasan pemisahan antara ‘berkebudayaan’ dengan ‘tidak berkebudayaan’, atau ‘primitif’.

Apalagi jika Barat selalu memandang sudut pandang mereka adalah yang terbaik. Sehingga, jika meminjam teori stratifikasi sosial Georges Balandier, boleh saja semua menilai posisi masing-masing negara sejajar. Namun pada kenyataannya sungguh bertolak belakang. Akibatnya, Barat seolah memberi nilai bahwa untuk mencapai kesejajaran dengan mereka, maka dunia lain harus mengikuti cara dan sudut pandang mereka.

Kembali ke masalah praktik poligami yang dilakukan Zuma, semua tentu tergantung bagaimana niatnya melakukan pernikahan lebih dari satu istri. Bisa karena tradisi, bisa juga karena nafsu.
(sumber: NonBlok)

Iklan

7 Maret 2010 - Posted by | Unduh dari media online | , , ,

5 Komentar »

  1. wah..wah…wah..jangan sampe di Indo poligami dibolehin dech..hehe berabeee… 🙂

    kalo lg gak sibuk mohon JJS n komat-kamit @ myblog lovenroll.wordpress.com hehe trims, salam kenal 😀

    ————————————————–
    Arief: semoga diberi banyak kesempatan untuk blog walking… pengennya sih… 🙂

    Komentar oleh joni prayoga | 7 Maret 2010 | Balas

  2. Info bgs,jika tidak keberatan bergabunglah di aggregasi web kami,cukup memasang banner kami insya Allah setiap kali sahabat posting terbaru akan muncul di web kami

    —————————————————
    Arief: sudah saya pasang dan mduah-mudahan tidak membatasi kebebasan berekspresi 🙂

    Komentar oleh Pesona Muslim | 8 Maret 2010 | Balas

  3. Asik tuh mas diajak bergabung! Pasti blog sampeyan tambah rame mas?

    ———————————————————
    Arief: tapi bisa jadi kalau tambah rame malah tambah gak bebas ya mau posting:)
    musti hati-hati…..

    Komentar oleh BULENTIN | 8 Maret 2010 | Balas

  4. Oya mas ada undangan kopdar alias kopi darat di Gunung Kidul tp aku lupa tempatnya! Aku pingin ikut tp liat ntar kondisi keuangannya! Oya mau tahu silahkan kunjungi blognya Mas Taufik, ada postingan ttg itu!

    ———————————-
    Arief: coba nati dilihat….. tapi untuk waktu-waktu ini sepertinya belum meungkinkan aktifitas lain.. mudah-mudahan terakses 🙂

    Komentar oleh BULENTIN | 8 Maret 2010 | Balas

  5. wah stok perawan bisa abis disikat sama orang afrika

    —————————————————
    Arief: di tempat kita masih banyak 🙂

    Komentar oleh sqa indonesia | 8 Maret 2010 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: