Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Makmum Ikut Imam atau Imam Ikut Makmum… Demokratiskah Islam ?

Gambar diambil dari:

http://tuansufi.wordpress.com

Setelah mendengarkan ceramah Pak Ustadz mengenai sholat berjamaah, ada beberapa hal yang terus saja terngiang-ngiang menjadi pemikiran (atau lamunan ?). Salah satu diantaranya yalah bahwa makmum harus selalu mengikuti gerak imam. Imam sujud, makmum ikut sujud, imam ruku’ makmum juga ikut ruku’. Demikian sepenuhnya tata tertib dalam sholat berjamaah.

Yang menjadi lamunan kemudian, apakah tata tertib peraturan dalam sholat berjamaah merupakan ajaran semacam qiyas dari syar’i untuk demikian juga dalam kehidupan umat Islam menjalani kehidupan ? Dimana ada imam dan ada makmum. Ada umat dan ada pemimpin yang menjadi panutan umat..

Merupakan spontanitas tulisan tanpa editing disela sedikitnya kesempatan untuk sekedar mempertanyakan tata aturan kehidupan umat Islam…

Lanjut….

Tentu masalahnya kemudian akan sangat komplek. Apalagi pabila masuk dalam ranah kurnia perbedaan aliran-aliran dalam Islam di seluruh dunia ini yang bejibun banyaknya… tentu masing-masing aliran mengklaim paling pantas menjadi pemimpin bagi aliran yang lain. Barangkali begitu…

Namun terlepas dari hal yang demikian nampaknya bila ditekankan menerapkan aturan sholat jamaah dimana makmum ikut imam, rasanya berat. Apalagi di jaman seperti ini, selera umat menjadi tolok ukur untuk lakunya”

suatu paham. Bahkan ajaran pun bisa surut atau bahkan terjerumus menjual akidah, demi mencari muka pada umat. Khawatir tidak mempunyai pengikut, bahkan bisa saja terjadi tokoh seksi diajukan menjadi pemimpin agar mempunyai banyak pengikut. Mungkin saja toh ???

Atau….. Dai yang laku dan popular bukan lagi dai yang teguh memegang bara ajaran yang terkadang keras dan tegas. Oknum dai selera umat lah yang kemudian menjadi populer. Yang bisa mengelus-elus umat

“oh begitu tidak apa-apa, nah yang begitu boleh-boleh saja, ini haram, wah itu dilarang agama…”.

Yang intinya ngotak atik ajaran menjadi abu-abu, dimana semua demi selera umat. Mungkin suatu saat bisa jadi ada oknum dai seperti itu ya….

Kembali pada salah satu prinsip dakwah, menurut yang pernah saya dengar dari sebuah ceramah, bahwa salah satu asas dakwah adalah berusaha membuat yang tidak senang menjadi senang dan membuat yang senang menjadi tambah senang.

Merunut pada perjuangan Para Nabi di tengah-tengah gegap gempitanya umat di waktu itu, tentu memegang ajaran dengan teguh dan kuat menjadi prinsip membaja. Kisah Nabi Luth, Kisah Nabi Nuh, demikian juga Nabi akhir jaman Muhammad SAW yang mendapat warisan dari aneka warna perilaku buruk kaum-kaum sebeluimnya ngumpul semua di jaman Nabi Akhir ini. Tegasnya menegakkan ajaran dalam hempasan ombak dan arus perilaku umat harus menjadi inspirasi dan pedoman.

Kembali pada imam dan makmum. Tentu apabila imam kentut berarti imam itu sudah batal dan tidak diperbolehkan lagi memimpin sholat. Demikian juga ketika imam melakukan kesalahan baik dalam bacaan maupun hitungan raka’at, makmum bisa memberi peringatan bahkan membimbing bacaan suratnya. Dan pertanggungjawaban kepemimpinan yalah langsung pada Allah Ta’ala.. demikian sedikit yang saya pahami dari ceramah pak Ustadz.

Imam yang tau diri, akan mundur dengan sendirinya ketika si imam kentut atau batal wudlunya karena sebab lain. Jadi kalau ada imam yang diam-diam kentut tapi terus memimpin umat… berarti ????

Berkaitan dengan demokrasi. Yang perlu diingat bahwa demokrasi itu sendiri jelas bukanlah produk Islam dilihat dari sejarahnya. Namun lagi-lagi demi selera umat, mengukur “kebaikan” Islam harus dilihat dari ukuran kebaikan yang jelas bukan produk Islam. Bisa saja sekarang lebih bangga mencari rujukan dari Freud atau bahkan Snouck Hurgronye (hehehe…) daripada menggali rujukan dari AlKindi maupun ilmuwan-ilmuwan islam terdahulu.

[ditulis oleh: M. ‘ARIEF B]

5 April 2010 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , , ,

4 Komentar »

  1. nice posting mas arief 🙂

    Komentar oleh delia4ever | 5 April 2010 | Balas

  2. wah, mengandung novelty ! 🙂

    Komentar oleh Kang Bondan | 5 April 2010 | Balas

  3. islam telah disempurnakan Allah,ia sarat dgn hukum2 yg menyangkut hukum dunia hingga akhirat,tp mengapa manusia memilih hukum yg dibikin oleh manusia sendiri dan bukannya dari al kholiknya, makanya pantaslah dunia ini menjadi amburadul………..

    Komentar oleh firman | 25 Januari 2011 | Balas

  4. ingat ulama dibagi mnjadi beberapa bagian diantaranya ada ulama dunia n ada ulama akhirat n ada juga ulama dunia akhirat……………………

    Komentar oleh firman | 25 Januari 2011 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: