Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Kasus Makam Mbah Priok: Sebenarnya Biasa Saja Sih…

Sudah sepekan peristiwa Priok belum hilang begitu saja dari pemberitaan. Memang sudah bukan lagi berita aktual… tapi tidak apa-apa toh posting hal yang sudah tidak aktual ? Minimal bisa untuk catatan pribadi..

Melihat judul postingan ini sebenarnya nggak enak juga. Peristiwa kerusuhan Priok kok dianggap biasa. Coba berempati keluarga yang ditinggalkan oleh korban-korban kasus Priok? Membayangkan juga kepemilikan hak hidup yang hilang begitu saja? Demikian juga dengan status kepemilikan lahan area makamnya Mbah Priok yang rasanya masih perlu menjadi PR untuk hukum pertanahan Indonesia? Ah… tentu ahli-ahli hukum lebih tau hal itu bagaimana yang sebenarnya…

Nah, apakah masih menganggap kalau kasus Priok itu kejadian biasa?

Masih dengan rasa prihatin yang mendalam menyimak berbagai pemberitaan mengenai kasus Priok. Bisa jadi sebenarnya kasus itu memang kasus yang biasa saja. Biasa saja dalam arti sudah seringkali kita saksikan dan kita tetap menganggapnya biasa-biasa saja. [Buktinya, banyak yang peduli, tapi juga banyak yang tidak peduli… soalnya mau bagaimana lagi]

Okelah, meniru analogi kejaksaan pada waktu rame-ramenya pemberitaan kasus Bank Century beberapa abad yang lalu, mencoba ikut-ikutan ber-analogi juga untuk kasus Priok.
Dianalogikan dengan peristiwa kriminal penggunaan ganja umpamanya, atau kasus perselingkuhan saja lah… jika pelaku adalah orang biasa saja seperti orang desa ini, tentu tidak akan heboh yang sampai diliput berbagai pemberitaan, namun coba kalau penggunaan ganja atau selingkuh itu dilakukan oleh artis beken. Wow.. tentu lain lagi ceritanya. Berbagai media massa akan meliputnya menjadi berita yang sensasional. Tentu saja akan menaikkan oplah bagi media cetak, juga menaikkan traffic untuk media online.

Sama juga dengan kasus Priok. Kembali pada akar permasalahan yaitu penggusuran lahan. Sering toh pemberitaan penggusuran lahan yang berangkat dari eksekusi hasil putusan pengadilan. Sama saja kasus Priok juga berupa penggusuran lahan langsung atau tidak langsung dari dan oleh yang merasa berhak secara hukum [maaf, terlepas dari kemungkinan bahwa hukum bisa direkayasa demi kekuasaan dan kepentingan tertentu semata, terlepas juga dari keterangan bahwa bukan makamnya yang akan digusur].

Baru kemudian analogi itu berkembang, selingkuh oleh orang biasa berbeda hebohnya dengan selingkuh yang dilakukan artis beken : penggusuran lahan terhadap lahan biasa ternyata berbeda juga dengan penggusuran lahan yang berkaitan SARA.

Ya… entah siapa yang dulu pertama kali memunculkan istilah SARA. Sehingga bisa sedemikian sensitive menyusup dalam sendi-sendi pergaulan manusia. Suku, Agama, Ras, Adat. Dan kasus Priok ini telah menyinggung unsur Agama. Keyakinan. Religi. Yang telah diperlawankan dengan kepentingan materi. Materi versus religi. Sehingga masalah penggusuran lahan yang biasanya biasa-biasa saja kita menanggapinya (tidak seheboh ini), akhirnya menjadi masalah yang tidak lagi bisa disebut biasa.

Materi versus religi.
Kemanfaatan materi terhadap status kelayakan sebagai pelabuhan bertaraf internasional terganggu dengan adanya komplek makam Mbah Priok. Keberadaan komplek makam itu sama sekali tidak menguntungkan Pelindo. Bahkan merugikan. Pemberitaan kompas.com pada tgl 14 april kemarin menerangkan mengenai hal terganggunya Tanjung Priok untuk memenuhi syarat sebagai pelabuhan internasional karena sebab adanya komplek makam Mbah Priok. Unsur security katanya. [maf, link pemberitaan ini di search lagi kok gak nemu-nemu juga]
Karena itu wacana untuk menggusur makam Mbah Priok wajar-wajar saja melihat sedemikian pentingnya persyaratan untuk menjadi pelabuhan internsional

Perkembangan selanjutnya benar-benar menjadikan masalah biasa menjadi tidak biasa. Coba kalau lahan penggusuran itu tidak menyangkut SARA. Apakah kabarnya akan sampai ke presiden dan mendapat perhatian lebih seperti penggusuran (komplek) makam Mbah Priok ini?
(note: untunglah bukan religi versus religi, bisa jadi toh penggusuran makam Mbah Priok dengan alas an sebagai penggusuran sarana kemusyrikan? Wow, bisa lebih dan lebih heboh lagi.. media online yang meliput bisa berlipat-lipat trafiknya, media cetak bisa sampai bolak balik si penjaja Koran mengambil dagangannya saking laaaaris manisnya)

Perkembangan pemberitaan selanjutnya sudah semangkin tidak menentu. Menyimak dan secara implisit (apa artinya?) mencoba memahami, banyak dimungkinkan muncul pihak-pihak yang berusaha mengail di air keruh. Atau jangan-jangan memang ada yang telah memperkeruh suasana agar bisa mengail manfaat di dalamnya?

Hehe… Peristiwa biasa menjadi tidak biasa…
Dan orang desa ini masih setia menyorot [hiruk pikuk] kasus Mbah Priok yang berangkat dari sudut pandang analisa orang desa yang lugu dan sederhana…

Damai Indonesia !!!

[ditulis oleh: ‘Arief]

Iklan

19 April 2010 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , ,

5 Komentar »

  1. Materi vs religi… dua hal yang susah untuk bersatu… :((

    Komentar oleh delia4ever | 19 April 2010 | Balas

    • saling menghormati dan menghargai…
      jikapun harus salah satu menyingkir, dengan adab dan etika 🙂

      Komentar oleh 'Arief | 21 April 2010 | Balas

  2. sesekali bolehlah religi vs religi, biar terangkat ilmu, dan tersingkap kesyirikan yang dianggap ibadah…

    abu fahd
    http://singgahsejenak.wordpress.com

    Komentar oleh abu fahd | 28 April 2010 | Balas

  3. Kuat-kuatan…..

    Komentar oleh budi sulaksono | 15 Mei 2010 | Balas

  4. mbah priok mbah priok…………..

    Komentar oleh kaka | 27 Januari 2011 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: