Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Kartini-Kartini Kecil

RA Kartini

Hari ini banyak Kartini-Kartini Kecil lucu memakai baju kebaya. Dan yakin, dari kemarin musti sudah ribut mempersiapkan segalanya untuk tampil habis di sekolahnya. Ada yang pinjam sana, pinjam sini, sewa sana, sewa sini, dll …………. namun kalo di desa tentu ada juga yang cukup pake kebaya simboknya, mungkin sudah lusuh dan tua, namun yang penting bisa ikut berpartisipasi memperingati Hari Kartini.

Demikian luar biasa Ibu Kartini memperjuangkan hak-hak kaum wanita agar sejajar dengan pria, terutama dalam bidang pendidikan. Hingga sekarang hasil perjuangan beliau dapat dirasakan oleh kaum hawa khususnya di Indonesia, bukan saja dalam pendidikan, tapi juga dalam segala bidang kelanjutannya: termasuk bidang politik.

Bagaimana kalau waktu itu Ibu Kartini tidak mengenal surat menyurat untuk mencurahkan segenap uneg-uneg ketertindasan kaum perempuan di bumi Hindia Belanda ? Uneg-uneg ketertindasan kaum perempuan dalam bidang pendidikan, dalam bidang pergaulan, dan perannya untuk berkarir dan ber-apa saja. Sekarang belum tentu terlahir Kartini-Kartini kecil yang penuh harapan.

Kurang tau bagaimana sejarahnya, sejak Mendiknas siapa, atas usulan siapa sehingga tiap tanggal 21 April memperingati Hari Kartini siswa-siswa sekolah memakai baju kebaya. Tentu bukan hanya baju kebaya, sebab ada juga instruksi sekolah, pokoknya baju tradisionil. Hehe… apalagi yang laki-laki ya… Pokoknya semangat !!!

Hanya saja sedikit berpikir-pikir iseng. Kenapa juga peringatan memakai nama dengan sebutan Hari Kartini ? Apakah sebuah nama itu sudah demikian melekat menjadi semcam power, spirit, atau motivasi terhadap gerakan emansipasi wanita? Sehingga cukup dengan menyebutkan “Memperingati Hari [dengan nama] Kartini” sudah mencakup semuanya? Demikian saktinya nama Kartini…

Sekedar membandingkan dengan [pahlawan wanita juga] yang bernama Dewi Sartika. Untuk selanjutnya diperingati tiap tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu? Kenapa tidak Hari Sartika ? iconnya kan sama dengan nama Kartini…
Tidak tau lah bagaimana dulu mengatur hari-hari peringatan nasional, termasuk juga yang mengatur kepahlawanan-kepahlawanan nasional seperti Ibu Kartini dan Dewi Sartika.

Yang jelas dengan sukacita Kartini-Kartini Kecil melangkah, menghirup kebebasannya untuk sama hak dengan kaum pria. Keberuntungan kaum pria pada masa feodal mendapat porsi yang dominan untuk segala hal. Bukan hanya bidang pendidikan. Tapi juga bidang yang mengatur dan tidak bisa diatur [oleh kaum perempuan]. Hingga dapat diistilahkan kemudian bahwa kaum perempuan tak lebih dari “konco wingking”, yang artinya dalam bahasa Indonesia yalah “teman belakang”, alias hanya menjadi teman di belakang saja. Penuh aturan untuk konsekuensi “belakangnya” teman belakang. Yalah, kaum perempuan tidak boleh dan atau bahkan tidak layak untuk tampil ke depan. Dalam arti luas, tidak diperkenankan memegang apapun peranan. Istilah Jawa-nya agak kasar dikit sih… mudah-mudahan tidak apa-apa saya ungkapkan, yaitu peran atau tugas perempuan cukup M3 [baca: M tiga], yaitu masak, macak, manak  …. Hehe, perasaan kok kasar banget sih ungkapan citarasa bahasanya. Maaf ya..

M tiga tadi ya tak lebih dari konco wingking atau teman yang di belakang saja.
Masak: wanita cukup sebagai pemenuh kebutuhan makan keluarga. Melayani suami dan anak-anak. Memasak untuk keluarga adalah salah satu tugas utama.
Macak: demi untuk prestise dan kebanggaan suami, salah satu tugas wanita berdandan saja.
Hehe… tidak usah diteruskan. Namun inti yang ketiga tidak lepas dari meneruskan keturunan.

Nggak habis-habis nanti pembahasan mengenai hari emansipasi wanita ini… eh, hari Kartini ini. Tentu lari juga pada persamaan hak, kesetaraan gender, feminisme, dan lain lain semacamnya. Yang jelas, lucu-lucu melihat Kartini-Kartini Kecil memoles bedak dengan malu-malu, berlenggak lenggok kaku bergaya memakai kebaya, menikmati kebebasan dengan kesamaan hak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan pria. Habis Gelap Terbitlah Terang….!!!! Door Duistermis tox Licht…!!!!

Dari www.tokohindonesia.com saya kutipkan sejarah Raden Ajeng Kartini. Selengkapnya demikian:…………

Raden Ajeng Kartini (1879-1904)
Pejuang Kemajuan Wanita

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan.

21 April 2010 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , , , ,

41 Komentar »

  1. ijin mengamankn pertamax di hari kartini ini
    smngattt
    😀

    Komentar oleh darahbiroe | 21 April 2010 | Balas

    • selamat hari kartini ya sob dan juga buat semua
      ayoo kibarkan smngat dan kegigihan ibu kita kartini di tahun ini dan tahun2 yang akan datang

      Komentar oleh darahbiroe | 21 April 2010 | Balas

  2. hi hi hi hi….Hari ni banyak pawai anak-anak TK, hanya saja kegiatan Kartinian di Sekolah anak sa dimundurkan tanggal 30 April

    salam

    Komentar oleh Thomas | 21 April 2010 | Balas

  3. wah hari ini saya juga lupa kalo ini hari kartini. artikel yang mas tulis bagus sekali bahasanya. saya ingin belajar jadinya agar bisa menulis artikel yang bagus dan bermutu di blog. Oh iya mas link blog mas sudah terpasang rapi di blog saya mas. Silakan di cek mas. 😀

    Komentar oleh Antony 'hihia' Halim | 21 April 2010 | Balas

    • Trima kasih perkenan tukeran linknya

      Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

  4. dah lama gak liat pawai seperti itu.. 🙂

    selamat hari kartini 🙂

    Komentar oleh delia4ever | 21 April 2010 | Balas

    • Selamat hari wanita 🙂

      Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

      • wekekekek.. hari pria kapan ya mas ? 😀

        Komentar oleh delia4ever | 24 April 2010 | Balas

        • Nunggu ada hari kartono 🙂

          Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

  5. mm, saya malah baru tau klo ada pro kontra yg semakin mencuat

    Komentar oleh arif | 22 April 2010 | Balas

    • Ada yang lebih ekstrim lagi pro kontranya

      Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

  6. yang jelas, kemaren anakku juga dirias pakaian busana jawa..
    buat lomba baca mocopat di sekolahnya..
    hehhee… tetap semangat kartini muda..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

    Komentar oleh sedjatee | 22 April 2010 | Balas

    • Tetap semangat 🙂

      Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

  7. Assalamulaikum

    lama tak bersua kawan, hee

    posting baru : polemik UU penistan agama, ada yng bilang UU tsb malanggar HAM?

    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/2010/04/22/polemik-uu-penodaan-agama-ada-yang-bilang-melanggar-ham-waduh-waduh/

    Komentar oleh Tarbiyatul banin | 23 April 2010 | Balas

    • Wa alaikum salam

      Trima kasih…

      Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

  8. selamat hari kartini 🙂 salam kenal

    Komentar oleh Afif logicprobe10 | 23 April 2010 | Balas

    • Salam kenal juga untuk logic…
      Trima kasih….

      Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

  9. hari minggu mau nganterin ponakan yg sekolah di PAUD…. hehehehehhehe rencananya mau pakai kebaya naik kereta kelinci 😀

    Komentar oleh firdausfarisqi | 23 April 2010 | Balas

    • Serba kelinci 😀

      Komentar oleh 'Arief | 24 April 2010 | Balas

  10. ibu kita kartini putri sejati.. selmat hri artini

    Komentar oleh Gadget news | 25 April 2010 | Balas

  11. wanita tu lebih tinggi derajatnya dari lelaki lho

    Komentar oleh ngupingers | 25 April 2010 | Balas

  12. apa kabar mas arief,dah lama saya gak nongol disini.

    Komentar oleh sejutainfo | 6 Mei 2010 | Balas

  13. p cabarnya kawan
    semangat y
    salam hangat dari blue

    Komentar oleh bluethunderheart | 7 Mei 2010 | Balas

  14. semoga peringatan kartini tidak cuma sekedar selebritas saja,yang terpenting adalah semangatkartini tetap menyala dan terus bersemayam di hati parawanita indonesia.
    (thanks dah mampir di blogku di tunggu kunjungan berikutnya jangan lupa kasih komentar)

    Komentar oleh debodor | 9 Mei 2010 | Balas

  15. lama gak ngupdate tulisan Kang..
    mungkin sedang sibuk, semoga sehat selalu
    salam sukses Kang..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

    Komentar oleh sedjatee | 13 Mei 2010 | Balas

  16. Aslkm..
    Apakabar mas arief ?
    lagi banyak kerjaan ya…
    salam hangat selalu

    Komentar oleh delia4ever | 16 Mei 2010 | Balas

  17. wah klo ada tabahan gambarnya lebih bagus ;D

    Komentar oleh arifinfo | 16 Juni 2010 | Balas

  18. kartini, bukan cukup hanya dengan di kenang… kalau cuma diperingati terus jadinya cuma ingat saja…

    Komentar oleh Kadi | 20 Juni 2010 | Balas

  19. kartini, bukan cukup hanya dengan di kenang… kalau cuma diperingati terus jadinya cuma ingat saja…

    Komentar oleh brotoadmojo | 20 Juni 2010 | Balas

  20. mas, arif. masih mengingat aku? saya niki. saya mencarimu tapi syukur menemukan blogmu lagi.

    saya ada di facebook, namaku “…….” . saya pernah ke jogja tahun ini, bertemu dengan teman-teman.

    sekarang, saya banyak teman di jogja……

    Komentar oleh bali&bali | 1 Juli 2010 | Balas

  21. emansipasi wanita. dengan alasan itu wanita bisa menjadi pemimpin, apakah dengan alasan itu juga wanita yang menjadi pemimpin berani untuk berbuat korup atau menyalahgunakan kewenangannya..?

    Komentar oleh jabon | 8 Agustus 2010 | Balas

    • untuk sekarang bukan lagi soal laki-laki atau perempuan, tapi emansipasi iman…
      dengan modal itu setiap peran akan berbuat yang semestinya

      Komentar oleh jabon | 8 Agustus 2010 | Balas

  22. kartini kecil memang seorang yang tegas dan pintar

    watch vampire diaries online

    Komentar oleh gendowor | 25 September 2010 | Balas

  23. Isinya sangat bagus. Oh..ya sahabat silahkan berkunjung ke blog saya, ya…
    Saya sedang membagi hadiah gratis untuk semua sahabat Indonesia

    Komentar oleh sejutainfo | 21 Oktober 2010 | Balas

  24. dukung kartini-kartini kecil…

    Komentar oleh Watch Castle | 8 Februari 2011 | Balas

  25. Ayo bangkit para kartini2 kecil, lanjutkan perjuangan demi kemajuan bangsa

    Komentar oleh Watch Bones Online | 22 Februari 2011 | Balas

  26. semoga kartini2 kecil ini bisa menjadi tauladan dimasa depan 🙂

    Komentar oleh Short Sales | 9 Maret 2011 | Balas

  27. Bagus!

    Komentar oleh VIDEO SYUR | 31 Mei 2011 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: