Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Ayo Menulis dan Berbagi

Ketika berbagai perasaan mendera. Ketika banyak permasalahan pribadi mengerubuti seperti lalat yang tak tahu diri. Haruskah berhenti menulis ?

Memang saya akui, menulis dalam kondisi nyaman, tanpa beban, apa-apa serba tercukupi : sepertinya nikmat sekali. Akan tetapi jika kondisi sedang sama sekali tidak menguntungkan dengan perasaan yang jauh dari rasa nyaman ? Bagaimana mau menulis ?

Yang dikuatirkan jika emosi, kesedihan, rasa tertekan dan sumpeg tertuang dalam tulisan. Okelah tidak mengapa jika tema tulisan memang dalam rangka curhat kondisi pribadi. Mengeluh ke khalayak publik ya sah-sah saja.
Hanya saja kok rasanya kurang sreg kalau saya.

Menulis dalam berbagai kondisi saya akui sangat sulit. Ketika untuk tersenyum saja susah, ide-ide yang biasanya berkelebatan seolah terkubur dalam-dalam. Walaupun sangat terbuka kemungkinan kondisi sedang terhimpit dan jauh dari sebutan mapan baik status maupun finansiil bisa memunculkan karya-karya yang luar biasa. Sebutlah tokoh-tokoh penulis maupun seniman berderet-deret dengan karya-karya hebatnya muncul dari kondisi keprihatinan dengan sangat terbatasnya sarana untuk berkarya.

Bagaimana beliau-beliau bisa dan mampu seperti itu ?
Lebih-lebih lagi dengan pelawak. Konon katanya banyak pelawak yang sebenarnya sedang menangis di dalam hati, namun harus tetap menjaga agar tampil ceria dan menghibur. Kok bisa ya ?

Bisa jadi karena beliau-beliau bisa mengapung dari permasalahan yang sedang mendera. Atau karena dorongan menulis untuk menuangkan inspirasi dan imajinasi sedemikian kuat, sehingga menjadi ndableg atau bisa lepas dari rasa yang mengganggu proses munculnya sebuah tulisan. Entahlah. Tapi juga mungkin kegiatan menulis dipakai untuk melepas penatnya beban hidup. Tidak tau.

Bagaimana berusaha untuk bisa terus menulis, ketika masih ada ingatan besok harus begini harus begitu, belum lagi tanggung jawab ini itu, ketika masih ditambah lagi dengan tekanan-tekanan sehari-hari yang menghimpit. Walaupun semuanya ya bisa jadi karena akibat ulah sendiri.

Menulis dalam berbagai kondisi. Tentunya itu menjadi tantangan. Dan saya sedang belajar untuk bisa seperti itu, untuk terus menulis dan berbagi. Memang sama sekali tidak memimpikan karya-karya yang luar biasa seperti halnya penulis- penulis ternama. Paling tidak, bisa membuka dunia baru, untuk sejenak lepas dari dunia sendiri yang berwarna-warni dalam kejadian dan kondisi.

Menulis dalam berbagai kondisi, tentu sulit sekali jika larut dalam kondisi perasaan dan pikiran sama sekali tidak nyaman untuk menulis. Tapi jika sudah menjadi hobi, menjadi kebutuhan, atau bahkan menjadi candu : tetap terus menulis tanpa kenal berbagai rintangan perasaan dan pikiran.
Bagaimana dengan anda ?

artikel ini saya terbitkan juga di Kompasiana.

[gambar diambil dari e-rosie.com]

9 Agustus 2011 - Posted by | Catatan Saya | , ,

2 Komentar »

  1. Hahaha… tersentak dengan kata-kata “menulis…nikmat sekali”. Saya jadi sadar untuk mampu menikmati hal-hal yang selama ini dianggap biasa bahkan membosankan atau menyulitkan, karena ada juga orang di luar sana yang dengan mata berbinar mau “menikmati” hal-hal tersebut, walaupun belum diberi kesempatan untuk menikmatinya.

    Cherioo… RightDeve

    Komentar oleh RightDeve | 16 Agustus 2011 | Balas

    • Benar benar. Kadang kita tidak perhatian, betapa istimewanya rutinitas 🙂

      Komentar oleh 'Ariefmas | 27 Agustus 2011 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: