Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Antara Hisab, Rukyah, dan Negara Islam (Indonesia)

Perbedaan Lebaran saja masih ada yang meributkan. Bukan ribut dalam arti mencari titik temu, tapi ribut debat kusir yang berkepanjangan. Seperti dua sisi rel kereta api tanpa ujung.

Selanjutnya ada yang berpendapat, begitu kok ada yang mau menjadikan negara ini negara Islam. Wacana yang jika terlaksana, bisa-bisa mungkin hanya akan terjadi perang saudara. Siapa yang akan menjadi presiden? Dari yang aliran rukyah atau yang aliran hisab? Lalu antar masjid bisa saling baku hantam, karena tidak ada kerukunan.

Atau..

Jika jadi negara Islam mungkin malah bisa damai ya? Siapa yang memegang kekuasaan, dia yang menentukan. Tidak boleh ada yang membangkang. Apabila dipegang hisab, yang rukyah harus mengalah, begitu juga sebaliknya. Lalu tercipta kedamaian. Biarpun mungkin ada ketertekanan. Demi rohmatan lil alamiin, baldatun thoyibatun wa robbun ghofur katanya.

Masih mau jadi negara Islam?

Cuplikan pidato (bukan) saya ini mungkin ada hikmahnya :

Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam.

Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin- pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini.

Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60 , 70 , 80 , 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.

Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60 persen, 70 persen, 80 persen, 90 persen utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam.

Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan hanya Islam yang hanya di atas bibir saja.

Kita berkata, 90 persen daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam?

Maaf beribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat.”

Berdasar dari cuplikan pidato (bukan) saya itu, berpuluh-puluh tahun yang lalu beliau sudah menyatakan: Islam hanya di atas bibir saja.

Yap, betul. Itu adalah cuplikan pidato dari Ir. Soekarno, atau Bung Karno, pada 1 Juni 1945. Dengan momen perbedaan hari raya Idulfitri ini, harusnya dipakai untuk berkaca. Dan agar jangan menjadi pengalih isu dari kepedulian terhadap kemiskinan, ketidakadilan, dan kondisi korupsi di negeri ini.

Perbedaan harusnya menjadi hikmah, untuk introspeksi diri. Apa tidak malu jika ditertawakan oleh yang di luar sana, tuh lihat pada gontok-gontokaan, lucu ya.
Sekali lagi, apa tidak malu?

Melihat juga pada sidang itsbat tadi, sama saja. Rata-rata keukeuh dengan pendapatnya sendiri-sendiri. Jelas tidak berlaku demokrasi voting untuk menentukan 1 syawal. Karena tidak ada gunanya. Bisa diperkirakan, tetap akan menjalankan pendapatnya sendiri. Siapapun atau golongan manapun itu. (Atau jangan-jangan ada anasir politik ikut mempengaruhi? Siapa tau.)

Lalu bagaimana jika masih ada yang berwacana menjadikan Indonesia ini negara Islam?
Serahkan saja pada kebebasan berpendapat. Yang penting jangan merongrong kewibawaan negara, karena itu akan berhadapan dengan yang mempertahankan keutuhan negara dan bangsa.

Sama saja mungkin postingan ini juga ngawur. Boleh dianggap cari sensasi. Silahkan.
Sekarang kan mengobati sakit gigi tidak harus ke luar negeri, karena di dalam negeri sudah bebas buka mulut.
Walaupun sesudah mulutnya terbuka; ada yang bau jengkol, bau pete, bau jigong atau apapun yang bikin sekitarnya marah-marah nggak karuan.
Itu risiko membolehkan bebas buka mulut.
Pencemaran bau, ya dinikmati saja.

[cuplikan pidato Bung Karno dari berbagai sumber.]

Iklan

30 Agustus 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

2 Komentar »

  1. mantap…
    cuman mau share video bayi yg senyumnya cute bgt. sapa tahu jadi terhibur ngelihatnya

    Komentar oleh shendy | 3 September 2011 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: