Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Wartawan Dikeroyok Pelajar? Ah… itu Ringan

Beberapa pemberitaan media online hari ini, yang menarik juga diperhatikan adalah tentang wartawan yang dikeroyok pelajar. Berita awalnya tiga hari yang lalu di detik.com (17/09/2011). Sampai hari ini baik di kompas.com maupun beberapa media yang lain memberitakan bahwa peristiwa pengeroyokan terhadap pelajar tersebut masih berbuntut.

Miris memang. Ketika anarkis masih menjadi trend di negeri ini. Bahkan oleh pelajar yang notabene generasi penerus bangsa.
Biarpun mungkin saja ada yang menganggap para pelajar yang mengeroyok setelah peliputan tawuran merupakan pelajar yang pemberani. Semoga saja mereka di masa depan bisa memakai keberanian itu untuk hal-hal yang positif. Berani membela negara, berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan, berani menjadi pemberantasan kejahatan.

Terlepas dari pengeroyokan pelajar atas wartawan, jika boleh menilai, kejadian itu masih tergolong ringan. Bukan menganggap ringan lho… Sebab jika saya yang menjadi wartawan dan dikeroyok dihajar para pelajar, tentu akan kesakitan. Bahkan ada juga yang masuk rumah sakit. Bisa dibayangkan rasanya seperti apa.
Jadi sekali lagi tidak menganggap ringan, tetapi masih saya anggap tergolong ringan.

Wartawan, salah satu profesi yang saya kagumi. Merupakan profesi yang banyak diberitakan penuh resiko ngeri. Jika dikeroyok dengan berakibat bukan luka-luka berat, masih tergolong ringan. Banyak cerita dan berita, bagaimana wartawan bahkan ada yang sampai menemui ajalnya oleh sebab pembunuhan. Iya kalau pengusutan bisa menemukan pembunuhnya ataupun otak pelaku pembunuhan. Jika tidak ditemukan? Hanya menjadi kasus dingin karena masuk peti es.
Dulu ada kasus wartawan Udin di Yogyakarta, apakah terungkap? Tentu masih ada lagi kasus serupa.

Yang terjadi itu adalah salah satu resiko dalam profesi jurnalistik. Pemberitaanlah yang rata-rata menjadi alasan untuk “membungkam” wartawan. Ketika borok-borok (apalagi) berkaitan dengan kekuasaan di ungkap, dibeberkan di media massa, maka yang punya borok tentu bereaksi. Bisa bereaksi berusaha menyumpalnya dengan uang, tapi bisa terjadi membungkamnya dengan cara menghabisi nyawa.

Hidup sudah pilihan. Wartawan juga menjadi pilihan yang penuh risiko menakutkan. Mampukah bertahan?

Selamat berjuang, wartawan. Berilah kami penduduk negeri ini berita-berita yang sepenuh kejujuran. Berani?

Iklan

19 September 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: