Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Mengapa Kita Bisa MENYESAL?? Ini Dia Penyebabnya . . .

Salah satu hiasan hidup, satu diantaranya adalah “sesal”. Dalam beberapa imbuhan kemudian bisa menjadi kata: penyesalan, menyesali, disesali, disesalkan, dan menyesal.
Kata yang terakhir, berarti diri kita yang aktif sebagai subyek atau pelaku “menyesal”. Salah satu kata kerja atau tindakan atau aktivitas, namun subyeknya dilakukan oleh perasaan, bukan oleh indera lahiriah seperti halnya mata melihat, hidung mencium, tangan memegang, dlsb. Menyesal merupakan tindakan perasaan yang secara umum memang kurang baik, sebab berkaitan dengan rasa sedih dan duka. Terungkap pada lahiriah terlihat murung, tidak ceria, dan lain-lain yang bahkan bisa menjadi tekanan atau stress.

Menyesal itu sendiri merupakan akibat. Dan akibat itu ada karena ada sebab. Maka, kalau khawatir atau takut pada akibat, berhati-hatilah dengan sebab.

Tentang “menyesal” sebagai AKIBAT ini, akan coba saya ulas, apa yang menjadi SEBAB dari menyesal itu sendiri.

1. Terlanjur.

Ada pepatah mengatakan: nasi telah menjadi bubur. Mana bisa bubur dirubah dikembalikan lagi menjadi nasi, atau bahkan menjadi beras. Hal yang secara umum tidaklah mungkin terjadi.
Nasi telah menjadi bubur alias sudah terlanjur. Sepertinya ini yang menjadi sebab utama penyesalan. Berhubungan erat dengan waktu. Waktu yang berjalan dengan pasti. Tidak bisa diulang. Tidak bisa di-rewind, di-restart, atau di-reset.

Karena itu layak berhati-hati memperhatikan “terlanjur” sebagai penyebab menyesal yang pertama. Intinya adalah menghargai waktu, detik demi detik. Sekali lagi, waktu tidak bisa diulang. Jangan sampai terlanjur.

2. Ternyata.

Ternyata. Adalah suatu ungkapan dari seolah tidak ada kesengajaan. Tidak mengira atas suatu keadaan. Sebagai penyebab yang kedua, “ternyata” adalah pada keadaan yang buruk. Seperti ungkapan berikut: “Oh, ternyata keadaannya menjadi seburuk ini.”

Maka, waspada pada penyebab yang kedua ini, yaitu “ternyata”, untuk bertindak hati-hati dan penuh perhitungan dalam melakukan suatu tindakan atau perbuatan setelah mengambil keputusan, agar tidak menyesal.
Intinya adalah memikirkan akibat dari suatu keputusan yang dilaksanakan perbuatan. Biarpun kadang memang ada hal yang terduga, namun apa salahnya toh memikirkan akibat dari tindakan sebelum bertindak.

Menimbang-nimbang itu perlu. Walaupun memang ada berpendapat untuk jangan terlalu banyak pertimbangan, karena akan menjadi orang yang peragu-ragu. Kemudian akan berkata: “aku tidak akan menyesal.”
Apa iya jika keadaan ternyata menjadi benar-benar buruk, lantas sama sekali tidak menyesal sedikitpun? Saya kok tidak yakin dengan komitmen tidak akan menyesal itu.

3. Terjadi.

Terlanjur ternyata terjadi. Setelah menghargai waktu, memperhitungkan atas suatu tindakan, selanjutnya adalah kejadian, sudah terjadi. Nyata. Dirasakan akibatnya.

Pentingnya berhati-hati pada penyebab menyesal yang ketiga ini, salah satunya adalah dari pengalaman yang sudah pernah mengalami. Mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Kadang tidak perlu mengalami sendiri untuk tahu. Agar tidak terjadi hal-hal yang ternyata akan terlanjur tidak baik.

4. Tidak Baik.

Tentu saja hal “tidak baik” menjadi penyebab menyesal yang ke-empat. Jika baik, mana mungkin menyesal?
Pentingnya berhati-hati pada penyebab yang ke-4 ini adalah agar berusaha menilai, suatu tindakan akan bagaimana terjadi. Agar tidak menyesal, atau bahkan menjadi penyesalan seumur hidup.

– – – – – – – – – – – – – –

Sebaiknya memang jangan menyesal. Walaupun menyesal itu manusiawi dan wajar, sebab kita bukan malaikat. Namun penyesalan yang terlalu dalam, bisa menjurus pada menyalahkan. Menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Tuhan (jika percaya ada-Nya).
Akibat dari penyesalan terlalu dalam adalah putus asa. Tegas dan jelas: jangan putus asa. Apa yang terjadi adalah yang terbaik, selama kita menjadi manusia taat.
Seperti judul sebuah lagu “Hadapi dengan Senyuman”. Ambil hikmahnya. Menyesal sebentar saja, setelah itu secepatnya bangkit. Hidupkan kreatifitas dan berpikir positif. Jadikan penyesalan sebagai pemicu, untuk terus bergerak maju, raih kegemilangan di masa yang ada di depan.

Ah, saya hanya menasehati diri saya sendiri.

– – – – – – – – – – – – – –

Lalu apa beda menyesal dengan kecewa? Barangkali ada yang bisa membantu?

Iklan

23 September 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

6 Komentar »

  1. Benar mas, sebaiknya kita fikir matang2 sebelum melangkah agar tidak terjadi penyesalan.

    Komentar oleh Irfan Handi | 25 September 2011 | Balas

    • Penyesalan itu menyakitkan, Mas Irfan. Sebab itu tidak baik berlama-lama menyesal.

      Trima kasih apresiasi dan kunjungannya..

      Komentar oleh M. Arief B. Ariefmas | 25 September 2011 | Balas

  2. smoga kt bukan termasuk orang2 yang menyesal kemudian…..
    salam kenal gan….linknya ditaro d blog ane gan……

    Komentar oleh bensdoing | 25 September 2011 | Balas

    • Terima kasih. Salam kenal juga Bung Bens. Segera saya pasang dan meluncur . .

      Komentar oleh M. Arief B. Ariefmas | 25 September 2011 | Balas

  3. Kesempatan emang gk dateng dua kali…..

    Komentar oleh Anonim | 24 Mei 2015 | Balas

  4. Kesempatan emang gk dateng dua kali….. Dan hal itu tlah membuat saya menyesal

    Komentar oleh Anonim | 24 Mei 2015 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: