Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Efektifkah Pemangkasan Populasi Menjadi Solusi PT Peksi Menghadapi Pasaran Telur Puyuh yang Sepi..??

Sudah menjadi rutinitas tahunan, jika harga telur puyuh jatuh, omset penjualan turun, PT Peksi Gunaraharja menjalankan program pemangkasan populasi. Peternak-peternak yang mempunyai puyuh mulai dari umur 10 bulan ke atas, siap-siap saja terkena apkir paksa. Tidak peduli biarpun produksi puyuhnya masih bagus, tetap terkena program tersebut.


Pelaksanaan pemangkasan populasi dengan apkir paksa tersebut, menurut pengamatan saya, dengan cara bertahap. Dimulai dari yang paling tua dulu. Jika omset masih melampau kemampuan jual PT Peksi, lantas turun ke umur yang lebih muda selanjutnya.
Teorinya memang mulai dari umur 10 bulan, akan tetapi pada prakteknya selama ini, paling cuma sampai puyuh umuran 12 bulan, apkir paksa sudah berhenti.

Efektifkah cara tersebut?

Saya hanya peternak kemitraan, dimana hal-hal seperti itu jelas di luar jangkauan. Namun apa salahnya sekedar mengetahui sistem yang diberlakukan pihak PT. Paling bisanya cuma mengeluh, puyuh masih bagus produksinya, kok harus diapkir. Tapi mau bagaimana lagi. Keluar dari PT, bisa-bisa malah repot sendiri. Apalagi yang pemasarannya tidak punya pandangan luas. Bisa berhenti ternak, gara-gara tidak bisa menjual telur.

Apkir paksa yang diterapkan PT Peksi menggunakan sistem pemberian harga yang sangat buruk untuk telur puyuh yang masuk target pemangkasan. Selisih harganya sangat jauh. Sehingga mau tidak mau, ya harus apkir.

Tentu saja keadaan tersebut harus disadari oleh peternak plasma sebagai solusi terbaik diantara yang terpaksa.

Apabila tidak ada pemangkasan, tentu produksi masih akan tetap seperti biasanya saat telur puyuh sedang laku. Padahal pada saat harga buruk, omset penjualan telur puyuh benar-benar turun drastis. Memaksakan tetap pada produksi biasanya, bisa berakibat harga semakin parah. Yang mana dengan menumpuknya stok telur puyuh di gudang, bisa terjadi panic selling. Dijual asal. Bisa-bisa malah mengorbankan peternak.

Jadi menurut saya, sampai saat ini, program pemangkasan populasi, memang paling efektif menjadi solusi saat penjualan telur puyuh sedang sepi.
Dengan adanya apkir paksa, otomatis produksi menurun, dan tidak ada beban menjual barang dipaksa di atas omset kemampuan di bulan-bulan buruk.

Bagi peternak lama yang pernah mengalami sebelum ada apkir paksa, bahkan pernah terjadi penjualan telur hanya pas untuk beli pakan. Dan itu berlaku untuk segala umur puyuh piaraan.

Program dari PT tentu juga memperhatikan nasib peternak. Selain dengan tujuan bisa mempertahankan harga yang tetap menguntungkan peternak, juga fasilitas khusus jatah DOQ bibit puyuh untuk puyuh yang kena apkir paksa. Pada tahun yang lalu, satu ekor puyuh apkir paksa, diganti dengan dua ekor DOQ bibit puyuh. Tentu saja bibitnya menjadi jauh lebih murah dibanding jika beli dalam keadaan biasa.
Jadi menurut saya, program pemangkasan populasi dengan cara apkir paksa, memang efektif. Solusi terbaik diantara cara lain yang lebih bisa-bisa malah merugikan peternak.

Semoga saja, harga buruk dengan omset rendah tahun ini tidak akan berlangsung lama.

Iklan

28 September 2011 - Posted by | Catatan Saya, Dunia Puyuh | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: