Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Kenapa Peternak Burung Puyuh Menjerit Ketika Harga Telur Menggigit?

Setelah minggu kemarin pengumuman penurunan harga, baru tadi (minggu ini) merasakan hasilnya. Ternyata memang turun Rp 14 per-butir. Bukan penurunan yang sedikit memang. Namun sebagai peternak plasma kemitraan, harusnya bisa memaklumi kondisi pasar dan menerima keadaan. Yang mana peternak puyuh sudah tidak perlu memikirkan pemasarannya.

Penurunan harga telur puyuh, yang saya sebut dengan “menggigit” kali ini, sebenarnya masih dalam batas peternak masih untung. Istilahnya masih ada selisih keuntungan / surplus, setelah jumlah harga setoran telur dikurangi pengambilan pakan.
Lantas kenapa ada bahkan banyak peternak yang menjerit?

Sebenarnya tidak perlu menjerit. Selama beberapa tahun beternak puyuh, serendahnya harga yang diberikan oleh PT Peksi Gunaraharja terhadap peternaknya, menurut saya, masih terhitung aman. Aman dalam artian, biarpun harga sampai titik terendah yang dipertahankan pihak PT, tidak sampai merugikan peternak yang bahkan membikin peternak plasma tidak mampu membeli pakan puyuh. Belum pernah itu selama saya menjadi peternak plasma.

Oiya, kata peternak lama, pernah sekali seperti itu. Membikin banyak sekali peternak plasma gulung tikar. Akan tetapi waktu itu memang terjadi krisis ekonomi secara umum yang parah. Harga pakan naik terus, harga telur turun terus. Entah tahun berapa, mungkin sebelum gempa Jogja. Malahan konon, PT sendiri sempat goncang. Hehe, untunglah saya belum ikut waktu itu. Bisa-bisa saya termasuk kapok beternak puyuh, dan menganggap usaha burung puyuh itu tidak menguntungkan.

Setelah tahun itu sampai sekarang, serendah-rendahnya harga telur puyuh, terhitung masih berpihak pada keuntungan peternak. Menurut penilaian saya pribadi, bisa jadi karena masih ada unsur mempertahankan peternak plasma. Atau juga memang ada sifat kekeluargaan, terbukti beberapa kali membeli telur puyuh dari peternak di atas harga penjualan, terutama pada saat harga telur puyuh di pasaran sedang jatuh.

Namun sifat kekeluargaan itu kemungkinan kecil. Bagaimanapun PT Peksi Gunaraharja adalah perusahaan yang mengejar profit, profit oriented. Mungkin pihak PT sudah memperhitungkan dengan pemberian subsidi yang diambil dari keuntungan penjualan pakan, bibit, egg tray, dll.

Jika keadaan hubungan kemitraan antara PT Peksi dengan peternak plasma seperti tersebut di atas, yang mana PT tetap menjaga komitmen memperhatikan keuntungan peternak biarpun di waktu pasaran telur puyuh sedang jatuh, kok peternak plasma masih banyak yang menjerit?

Mungkin… Hanya mungkin ya… Mungkin pihak PT sendiri juga ada sedikit kebingungan. Biarpun pasaran sepi, harga jatuh, tapi serendah-rendahnya harga pembelian telur puyuh dari peternak plasma, diperhitungkan masih menguntungkan peternak, kok peternak plasma masih menjerit? Aneh kan . .

Sebenarnya tidak aneh. Penyebabnya bisa karena peternak merasa mendapat keuntungan yang tidak biasanya. Penurunan keuntungan kadang ada yang menganggap sebagai kerugian.
Itu bisa. Tapi bukan penyebab pokok untuk “menjerit”.

Penyebab lain lagi, mungkin pihak peternak memperhitungkan belum kembali modal. Ini bisa juga. Akan tetapi jika menganalisanya dari awal sampai akhir satu putaran periode, harga bagus akan menutup harga rendah. Sehingga ketemu rata-rata. Pengembalian modal tetap aman jika dihitung secara global. Jadi masih belum layak sebenarnya untuk menjerit.

Setelah beberapa lama beternak, dan kenal sampai paham jeroan-jeroannya teman peternak. Mulai dari sedikit populasi, sampai yang puluhan ribu. Ternyata ada satu hal pokok yang bikin peternak menjerit, tiap kali terjadi penurunan harga. Yaitu terkait dengan permodalan.

Hampir semua peternak plasma yang saya kenal dekat, sama saja tentang permodalan. Berasal dari pinjaman bank atau yang sejenisnya. Dengan bunga serendah mungkin pun, jika saya hitung-hitung, tetap berat untuk mengangkat usaha ternak puyuh. Secara murni tentunya, atau modal total sejak awal dari pinjaman bank. Bukan pengembangan atau tambah modal.

Bisa jadi dengan harga biasa pun sudah mepet untuk angsuran pengembalian pinjaman per-bulan, apalagi jika harganya turun. Karena itu menjerit adalah wajar.

Lantas kenapa pinjam bank untuk modal ternak puyuh?

Silahkan dijawab sendiri-sendiri bagi yang mengetahui, atau mungkin mengalami.

4 Oktober 2011 - Posted by | Dunia Puyuh | , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: