Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Dari Tiga Kesulitan Ekonomi ini, Mana yang Paling Berat?

Membahas mengenai kesulitan ekonomi atau kesulitan keuangan ini, saya bukan ekonom, ahli ekonomi ataupun analis keuangan. Hanya berdasar pada berbagai permasalahan hidup sehari-hari, baik orang lain, mungkin juga dari diri sendiri.

Keadaan kesulitan ekonomi yang saya maksud adalah tekanan berat terhadap keuangan atau ekonomi pada pribadi / keluarga / rumah tangga. Bukan lagi krisis, malah bisa terhitung kritis.
Ketiga macam ini saya pilih, dilihat dari persamaan aktivitas atau tindakan yang diakibatkan. Efeknya dimungkinkan sama.

Persamaan ketiga macam kesulitan ekonomi keuangan pribadi / rumah tangga ini ialah pada latar belakang aktivitasnya. Bisa berupa KETERPAKSAAN, atau pun TUNTUTAN.

Jika tertimpa salah satu saja dari antara ketiganya, apapun mungkin dilakukan, baik aktivitas rutin, maupun tindakan insidentil. Bahkan ujung-ujungnya, bisa-bisa menjadi NEKAT: nekat positif, tapi juga bisa nekat negatif (relatif).

Apa saja ketiga macam kesulitan ekonomi itu?

1. Kesulitan ekonomi kemiskinan.

Ini adalah masalah umum. Ukuran kemiskinan juga berbeda-beda. Anggap saja, ukuran paling sederhana, adalah kemiskinan bila pendapatan tidak bisa atau bahkan sulit memenuhi kebutuhan pokok (primer), terutama kebutuhan sandang dan pangan.

Lapar merupakan kesulitan ekonomi yang berat. Apalagi ditambah dengan sulitnya mencari pekerjaan. Maka pekerjaan apa saja asal bisa makan, akan dilakoni juga. Atau bahkan tindakan apapun mungkin dilakukan, demi untuk mengisi perut.

2. Kesulitan ekonomi demi gengsi.

Kesulitan ekonomi demi gengsi juga termasuk berat. Sudah lepas dari pemenuhan kebutuhan primer: makan cukup, rumah layak, pakaian punya banyak. Tetapi karena komunitas, apalagi pada pemenuhan kebutuhan tersier, yang mewah-mewah. Akan menjadi himpitan ekonomi tersendiri yang berat.

Mulai dari kebutuhan gadget karena gengsi gaya hidup up to date, persaingan kelengkapan rumah antar tetangga, mungkin juga mobil, sepeda motor. Gaya hidup karena komunitas yang bisa menyiksa. Ujung-ujungnya, menjadi tekanan ekonomi yang berat.

3. Kesulitan ekonomi terbelit hutang.

Kejadian yang bisa dianggap biasa terjadi, ialah hutang atau mencari pinjaman untuk modal usaha. Namun ternyata, usahanya terpuruk. Tidak untung, mungkin malah merugi. Padahal angsuran pinjaman tidak mau tahu dengan keadaan. Harus dibayarkan.

Pemecahannya hanya pasrah ketika barang jaminan terancam dilelang. Padahal hanya tinggal itu satu-satunya milik yang berharga, upamanya tanah dan rumah tinggal. Tentu sakit sekali dan menyesakkan rasanya. Jika sampai dilelang, segala malu dan sedih, banyak dimungkinkan menimpa.
Suatu keadaan yang menjadi kesulitan ekonomi termasuk berat juga.

Diantara 3 kesulitan ekonomi yang berat itu, manakah yang bisa dianggap paling berat menurut anda?

Iklan

6 Oktober 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: