Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Reshufle Kabinet, Pencaplokan Wilayah Indonesia oleh Malaysia, Pemindahan Patok Batas Negara, sampai Impor Kentang

Sebagai penikmat berita, beberapa hal pada judul postingan, menjadi topik yang menarik perhatian, disamping ramainya permasalahan Content Provider penyedot pulsa. Topik yang hangat dibicarakan, aktual, dan juga menyedot pembicaraan akhir-akhir ini antara lain: reshufle kabinet, pencaplokan wilayah Indonesia oleh malaysia, pemindahan patok batas negara, sampai impor kentang. Hampir semuanya bidang politik dan hukum. Hehe… Topik berat ya . .

Bukan tidak mungkin untuk ikut membicarakan juga. Tapi jika dipikir-pikir, buat apa? Mau membahas, menganalisa, menilai isu reshufle kabinet yang sampai ada hal baru, yaitu wakil menteri: apa ada manfaatnya? Ada disebut itu hak prerogratif presiden. Tapi sampai seberapa hak prerogratif itu mempunyai kekuatan ketika dilawankan dengan politik dagang sapi, dengan jabatan menteri sebagai bagian dari “bagi-bagi”. Entahlah, sudah memeng bicara politik. Keadaannya semrawut, bisa-bisa bikin ruwet pikiran yang tidak menguntungkan.

Boleh jadi sekedar menikmati berita saja. Ada apa di atas sana. Apa yang sedang terjadi. Sebagai bentuk kepedulian sebagai warga negara, rakyat yang biarpun jelata, mempunyai hak juga untuk berpolitik. Toh, utamanya hanya sebatas menjadi pemberi suara ketika pemilu maupun pilkada ya… Selain itu, sepertinya tidak ada lagi. Hanya seolah menjadi obyek, yang menjadi bahan untuk turut mengangkat sebuah kedudukan maupun jabatan.
Coba kalau rakyat jelata tidak ada yang datang memilih waktu pemilu presiden, pemilu partai, maupun pilkada…

Memangnya mau nyoblos diri sendiri? Saya kira kalau rakyat sudah muak dengan berbagai kondisi, mulai dari korupsi yang bertaburan, sampai isu-isu politik yang menyebalkan, lantas tidak ada yang mau datang saat pencoblosan? Terus pemerintah mau apa?

Malas mikir seperti itu. Apalagi keadaan ekonomi sedang megap-megap seperti ikan kehausan, mana sempat ikut mikir politik. Buang-buang waktu saja…

Malah ada lagi topik lain yang juga menarik, apalagi kalau bukan masalah dengan Negeri Jiran Malaysia. Kok pada ribut nyalahin Malaysia. Kenapa tidak berkaca saja pada keadaan diri sendiri. Lihat bagaimana pemerintah menangani. Bagaimana pertahanan dalam menjaga perbatasan. Itu dulu yang dilihat sebelum melihat negara lain. Percuma juga bicara tentang hal ini. Pemerintah dan pertahanan saja seolah-olah tidak ada apa-apa, kenapa sebagai rakyat malah sibuk bicara. Mungkin didorong rasa nasionalisme dan cinta tanah air, sehingga pada peduli pada masalah Malaysia yang dianggap menggerogoti wilayah Indonesia. Kenapa juga sibuk? Pemerintah saja adem ayem. Bahkan sudah diterangkan kalau tidak ada pencaplokan wilayah.
Malas juga mau bicara tentang topik penggerogotan wilayah itu. Bikin ribut sendiri.

Wah, malah baru saja nonton TV, diduga ada pemindahan patok batas negara Indonesia-Malaysia. Memangnya kenapa? Apakah penduduk yang memindahkan itu salah? Jika kesejahteraannya lebih terjamin berada di wilayah Malaysia, lantas memindahkan patok batas negara agar menjadi warga Malaysia, ya mau bagaimana lagi. Mau disalahkan?

Siapa yang akan dikambinghitamkan. Hobi kok mencari kambing hitam. Tidak perlu membicarakan ini, urusannya pemerintah, pertahanan, dan keamanan nasional. Ya minimalnya akan ada proyek lagi untuk membuat patok yang canggih di Camar Bulan. Dana lagi… Tidak perlu kan membicarakan urusan negara?

Ealah, malah ada lagi impor kentang, setelah impor-impor yang lain semacam impor daging sapi, garam, bahkan impor ketela pohon. Topik yang terakhir ini malah lebih menarik. Memangnya petani kita sudah kewalahan dalam budidaya kentang? Sampai-sampainya harus impor.
Mungkin bisa saja, kalau semua petani sepakat untuk tidak menjual hasil panen. Mending dimakan sendiri saja.
Tapi sudahlah, siapa sangka bisa saja terjadi adanya impor malah menguntungkan. Menguntungkan komisi-nya untuk yang men-jalur-kan. Mungkin saja. Namanya juga berkaitan dengan perdagangan. Fee, komisi, bonus: sudah biasa.

Terus bagaimana jika malas membicarakan itu semua? Ya tidak usah membaca berita, mengikuti pemberitaan. Mudah kan?

14 Oktober 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: