Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Membuat Blog Pribadi di KOMPASIANA, Mengapa Tidak…?

Terinspirasi pengumuman dari Admin Kompasiana yang berjudul “Mau Nokia N9? Ikuti Kompasiana Appwizard Competition“. Lantas saya ingin menuliskan mengenai membuat halaman blog pribadi di Kompasiana. Memang tidak ada kaitannya dengan pengumuman lomba bikin aplikasi tersebut. Karena inspirasinya muncul dari beberapa kalimat di dalam postingan.

Menyimak postingan pengumuman, saya malah tertarik dengan kalimat:

….sudah memiliki halaman blog pribadi di kompasiana…

Juga di penggalan kalimat ini:

….memiliki blog di kompasiana….

Penggalan kalimat yang menarik. Karena itu saya tertarik. Berasa seperti ada penekanan intonasi di situ. Walaupun juga memang menjadi prasyarat lomba. Kalau boleh saya satukan, makna syaratnya, harus punya halaman blog pribadi di Kompasiana.

Mengapa tidak?

Memiliki halaman blog pribadi di Kompasiana, berarti terdaftar sebagai Kompasianer. Seperti halnya pada kaskuser, facebooker, dll.

Cara mendaftar atau register di Kompasiana pun cukup mudah. Bahkan upama mau bikin 100 akun juga bisa. Ndaftarnya di sini. Semoga alamat link-nya bener.
Atau langsung saja klik REGISTER di home-nya KOMPASIANA.

Keuntungan mempunyai halaman blog pribadi di Kompasiana, secara otomatis juga menjadi keluarga besar Kompas. Bangga kan?

Atau mungkin bisa diartikan otomatis menjadi keluarga besar pembaca Kompas. Yang mana kita bisa langsung komentar di suatu pemberitaan Kompas.

Keuntungan lain yang saya alami. Berdasarkan asumsi bahwa menulis agar di baca, maka jangan khawatir jika mempunyai halaman blog pribadi di Kompasiana tidak ada yang membaca. Setelah login → masuk Dashboard → kemudian pilih Write New → isikan Judul → Nulis → pilih kolom mana → pilih lagi reportase atau opini → terus Publish. Terbit sudah satu postingan halaman blog pribadi di Kompasiana ini.
Setelah Terbit, lihatlah statistik di profile Anda. Ajaib… Langsung ada minimal 1 pembaca.
Satu hal keuntungan yang belum tentu bisa dicapai apabila bikin blog pribadi di luar sana. Dimana bisa terjadi berhari-hari belum ada satupun yang baca.
Di Kompasiana ini tidak begitu, sekali publish, akan ada 1 pembaca. Silahkan cek statistik blog di profil Anda. Begitu kan?

Keuntungan lain lagi adalah sering diadakan bagi-bagi rejeki dengan mengadakan berbagai lomba. Siapa tahu Anda pemenangnya?

Keuntungan dalam belajar menulis, jelas di Kompasiana tempat ngumpulnya pakar-pakar menulis, kita bisa belajar pada beliau-beliau yang terbukti murah hati bagi-bagi ilmu. Siapa tahu kita bisa menjadi penulis juga?
Begitulah, di Kompasiana tempat berbagi ilmu, mencari ilmu, juga mencuri ilmu. Mantap pokoknya.

Soal pertemanan jangan ditanya. Lebih mudah di sini daripada cari teman di luar sana. Ajukan permintaan pertemanan tanpa ragu-ragu. Tapi bila sering ditolak, ya menunggu ajakan saja tidak apa-apa. Toh Kompasianer jumlahnya puluhan ribu. Tenang saja. Saya pun beberapa kali ditolak.
Yang jelas di sini, bisa berteman dengan penulis tenar sekalipun, dan terbukti mau diajak berteman. Nekat saja ajukan.

Apalagi ya keuntungannya? Pokoknya banyak dan masih banyak lagi. Kenapa tidak mendaftar di Kompasiana sekarang? Menunggu apa?

– – – –
Artikel ini saya publish juga di Kompasiana.

Iklan

18 November 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

6 Komentar »

  1. memang benar statistik apa yang kita tulis di kompasiana sangat bagus, tapi sayangnya tidak dapat kita pasang link untuk jualan produk kita.
    salam kenal Distributor susu kambing higoat melayani penjualan partai maupun eceran seluruh indonesia.
    juga membuka peluang untuk menjadi agen atau distributor seluruh indonesia.
    selengkapnya http://grosirhigoat.blogspot.com

    Komentar oleh susu kambing higoat | 31 Oktober 2013 | Balas

  2. but I am still confused how to add friend. I cant see any botton to be pressed ??

    Komentar oleh @arghyand | 3 Mei 2014 | Balas

  3. dimana tempat ngedaftarnyaaaaaaaaaaa???moon di awab peisss

    Komentar oleh fatimah dan faishal | 9 Desember 2014 | Balas

  4. Bank Syariah Mandiri Di Ambang Kehancuran

    Tak terasa BSM sudah beroperasi hampir 16 tahun. Sejak hampir bangkrut di bawah kepemimpinan Nurdin Hasibuan pada 2006, kini hal yang serupa tapi tak sama terjadi lagi.
    Penyebab pada tahun 2006 adalah terlalu ambisiusnya Nurdin Hasibuan dalam menetapkan target laba pada 2005 yaitu 100 milyar. Angka yang sangat fantastis, namun tidak didukung dengan rencana kerja yang memadai dan SDM dalam hal ini analis marketing yang mumpuni. Akibatnya, meskipun target 100 milyar di 2005 tercapai (meskipun secara acrual basic), namun lonjakan kredit macet tak terhindarkan di 2006. Konsekuensinya jelas, Nurdin Hasibuan pun lengser dan diganti Yuslam Fauzi.
    Misi utama Yuslam Fauzi adalah memperkuat struktur BSM dan meminimalkan kredit macet yang terjadi. Dibawah kepemimpinannya BSM menjelma penguasa pangsa pasar syariah. Saingan terdekat hanyalah Muamalat yang dengan susah payah mengejar BSM.
    Namun roda berputar. Perubahan manajemen Bank Muamalat pada 2011 mulai membuahkan hasil dan mulai menggerus pasar BSM. Bahkan Muamalat mendahului BSM melantai di bursa. BSM kebakaran jenggot, demi ikut melantai di bursa menyusul Muamalat, target ambisius lagi lagi jadi solusi, yaitu pencapaian laba sebesar 1 Trilyun pada 2012 dan lebih besar lagi untuk tahun selanjutnya. Untuk mendukung pencapaian target laba tersebut, maka dibuatlah rencana pembukaan cabang atau unit baru sebanyak 400 unit. Dengan masing masing unit baru memiliki target hingga 40 milyar pembiayaan yang harus disalurkan.
    Namun yang disayangkan adalah pembukaan unit baru tidak didukung perekrutan dan pembinaan SDM yang mumpuni. Akibatnya bisa ditebak, terjadi banyak kredit macet di unit unit BSM yang baru dibuka. Jumlah kol 5/macet mencapai lebih dari 3 trilyun di 2013. Belum lagi kol 2 hingga kol 4 yang diperkirakan mencapai hampir 10 trilyun. Akibatnya banyak kepala unit BSM yang baru tersebut tersangkut masalah hukum dan harus dibui.
    Karena kesalahan fatal tersebut, pada 2014 manajemen BSM di rombak. Yuslam pun lengser dengan meninggalkan kekacauan yang parah, lebih parah dari Nurdin Hasibuan.
    Manajemen yang baru pun berbenah, hasilnya BSM berhasil membukukan laba sebesar 70 M di 2014. Namun terjadi kesalahan pembukuan yang sangat fatal, pada akhir tahun itu ditemukan kerugian sebesar 200 milyar.
    Dengan pertimbangan apabila dibukukan pada tutup buku 2014 akan menyebabkan rugi sebesar 130 milyar dan menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap BSM, maka manajen BSM memalsukan pembukuan atau window dressing dengan membukukan kerugian 200 milyar tersebut ke tahun buku 2015. Sehingga seolah olah BSM pada 2014 untung 70 milyar.
    BSM telah melakukan penipuan laporan pembukuan tahun 2014 ke Bank Indonesia dan terutama masyarakat dan nasabah BSM. Bank Indonesia harus segera mengambil tindakan tegas terhadap manajemen BSM dan Mandiri agar kepercayaan publik tidak hilang. Belum lagi terkait rencana pemerintah membentuk BUMN Bank Syariah dengan BSM sebagai intinya, masalah BSM ini haris dibereskan terlebih dahulu sebelum kejadian fatal terjadi.

    Penulis adalah Kepala KCP BSM

    Komentar oleh Anonim | 1 Juni 2015 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: