Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Penting Mana: Atasan atau Bawahan?

Bicara tentang atasan dan bawahan, bisa berarti membicarakan tentang pakaian. Atasan atau bagian atas dari pakaian, antara lain kemeja, kaos, singlet, tank top, jaket, dll. Sedangkan yang bawahan antara lain; celana panjang, celana pendek, rok, dll.

Keduanya saling melengkapi. Jika tidak memakai atasan, bisa beberapa risiko mengancam, antara lain: masuk angin, luka kelemparan batu, dll.
Sama juga apabila tidak memakai bawahan. Bisa dibayangkan. Atau tidak usah dibayangkan. Kemana-mana tanpa bawahan. Risikonya juga banyak, diantaranya dipatuk ayam. Apanya?

Kedua hal tersebut baik yang tidak memakai bawahan maupun yang tidak memakai atasan, secara etika dan estetika saya kira bersifat relatif. Jadi tentang kesopanan, keindahan, atau kesehatan, masing-masing daerah bisa berbeda-beda sudut pandangnya.

Demikian juga pada dunia kerja. Walaupun tidak bisa 100% diqiyaskan dengan berpakaian. Namun sifat melengkapi antara atasan dan bawahan kurang lebih sama. Salah satu yang membedakan adalah ada atasan yang bisa mencopot bawahan.
Yang jelas keduanya sama pentingnya. Ada atasan, karena ada bawahan. Ada bawahan karena ada atasan.

Saling menghargai antara keduanya menjadi penting dalam gerak aktivitas kerja. Dalam kerangka saling melengkapi, sebaiknyalah atasan menghargai bawahan. Demikian juga sebaliknya. Sehingga bisa menjadi satu kerjasama yang erat demi untuk tercapainya tujuan.

Hanya saja ada satu hal yang pokok dan tajam membedakan antara atasan dan bawahan. Yaitu kekuasaan. Seorang atasan bisa mempunyai kekuasaan untuk mengorganisir, mengatur, memimpin atas banyak bawahan. Kekuasaan tersebut selanjutnya bisa menjadi kewenangan untuk memasang atau bahkan melepas bawahan. Dikeluarkan. Di-PHK. Sehingga karena itu bisa muncul istilah sewenang-wenang maupun penyalahgunaan wewenang. Dua hal yang negatif terkait kekuasaan atasan. Hal negatif tersebut jika diterapkan pada dunia pekerja kerap memunculkan prinsip “bawahan yang butuh pekerjaan“. Apalagi didasari juga pada like and dislike atau “tidak suka dengan kebijaksanaan saya ya keluar saja, masih banyak yang antri cari kerja“. Nah, jika begitu, kekuasaan yang cenderung penyalahgunaan wewenang juga sewenang-wenang bisa terjadi.

Intinya adalah saling menghargai antara atasan dan bawahan. Sama-sama pentingnya. Penting untuk dijaga saling menghargai. Lantas menghargainya bagaimana? Silahkan dijawab sendiri. Saya kurang paham. Atau mau menambah? Silahkan.

Lho? Apakah saya juga berada dalam lingkungan kerja? Kok menulis tentang dunia kerja atasan dan bawahan?
Ya memang tidak. Terinspirasi saja setelah mengamati pakaian yang terdiri dari atasan dan bawahan.
Sebenarnya tadi ingin saya terapkan pada usaha puyuh antara peternak plasma dengan inti plasma atau perusahaan kemitraan. Tapi sepertinya itu tidak berhubungan sebagai atasan dan bawahan. Jadi ya berlanjut menulis berdasar imajinasi saja. Namanya juga belajar menulis.
Maaf ya . . Harap maklum kalau nulisnya tidak sesuai dengan profesi.

– – – – – – – – – – – – –
Artikel ini saya publish juga di Kompasiana.

Iklan

20 November 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: