Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Pentingnya Memakai Kata “Diduga” dalam Judul Berita

Melihat judul tersebut, pembuat berita seolah menjadi seperti hakim. Memvonis. Bahwa gosongnya pisang goreng, diakibatkan karena keasyikan membuka Kompasiana.
Bisa jadi memang iya. Namun bagaimana jika gosongnya pisang goreng sedang dalam proses hukum? Belum ada putusan hakim bahwa penyebab gosongnya pisang goreng karena asyik membuka Kompasiana? Mengapa pembuat berita melangkahi hak hakim, sehingga dari temuan-temuannya sudah berani memastikan?
Siapa tahu masih ditemukan lagi bukti-bukti maupun saksi yang meringankan, sehingga peristiwa gosongnya pisang goreng bisa juga karena apinya kegedean.

Hanya sebagai gambaran saja. Bahwa pembuat berita kadang mendahului proses hukum. Di sini saya bilang pembuat berita. Bukan wartawan. Karena sekarang pembuat berita bisa berarti luas. Malah bisa jadi wartawan tinggal duduk-duduk di depan layar laptop / PC, menggali berita yang ditulis pembuat berita non wartawan, seperti dari jurnalis warga. Setelah nemu, baru menggunakan kode etik jurnalistik untuk menggali berita lagi lebih dalam. Tidak asal mencomot dari jurnalis warga.

Kembali pada penghakiman oleh pembuat berita. Kalau tidak salah dulu pernah ada istilah trial by the press. Tapi media yang mana? Apakah media warga juga masuk di dalamnya?

Entahlah. Namun proses hukum tetaplah harusnya dihormati. Begitulah hidup di negara hukum. Membuat berita pun juga seyogyanya memperhatikan hal tersebut. Karena itu selama masih dalam pengusutan, penyelidikan, penyidikan, sampai penuntutan dan proses peradilan, penting sekali dalam judul berita menggunakan kata “diduga”.

Akan lain rasanya jika judul di atas ditambah kata “diduga”, menjadi demikian judulnya “Diduga Karena Keasyikan Ber-kompasiana, Pisang Goreng Gosong Semua.” Aman. Tidak mendahului putusan hakim.
Memang judulnya jadi kurang menggigit ya? Tapi sebelum ada pembuktian yang absah baik itu mengotopsi pisang gorengnya, atau menyelidiki minyak, kompor, keterangan saksi-saksi, kurang sreg jika pembuat berita memutuskan terlebih dahulu sebuah peristiwa hukum, yang sedang dalam proses. Atau malah bisa jadi belum tersentuh oleh penegak hukum.

Bila ada sebuah peristiwa, apalagi menyangkut hilangnya nyawa, dimana ini terkait erat hak hidup manusia. Kemudian peristiwa tersebut belum tersentuh oleh hukum, dan pembuat berita telah mempublikasikan. Dalam hal ini, saya kira pembuat berita sudah otomatis memposisikan diri sebagai saksi. Bagaimana jika berita tersebut sampai terendus penegak hukum? Tentu harusnya diusut. Pasal yang berbicara terlebih dahulu, tidak peduli hubungan suami isteri, ibu anak, dll. Tentang kasihan, iba, kejam, dll. Itu nanti menjadi pertimbangan hakim. Yang penting biarpun rakyat ngamuk, hukum harus ditegakkan. Karena ada hukum positif yang berlaku di negeri ini, dan harus diberlakukan.

Maka hati-hati membuat berita. Apalagi jika menyangkut peristiwa hukum.

Saya tidak menyalahkan. Hanya celotehan seorang peternak puyuh di desa, sebagai satu diantara jutaan subyek hukum di negeri ini. Siapa tahu ada ahli hukum atau praktisi hukum yang berkenan memberikan pencerahan.

Terima kasih.

– – – – – – – – – – – –
Artikel ini saya publish juga di Kompasiana.

Iklan

24 November 2011 - Posted by | Catatan Saya | , ,

2 Komentar »

  1. gimana kalo di tabloid2 gosip? kan biasanya kalo bisa dilebay2in biar kontroversial dan menarik perhatian? :mrgreen: apakah bisa diproses secara hukum?

    Komentar oleh Chandra B. | 24 November 2011 | Balas

    • Saya kira tergantung peristiwanya, Mas.
      Kalo menceritakan peristiwa proses perceraian, biasanya sebatas reportase, deskriptif.
      Di sini penekanan pada penghakiman. Nah, kadang judul-judul lebay biar menarik pembaca, kurang mengindahkan trial by the press.

      Terima kasih menyempatkan berkomentar. Salam berkarya. 🙂

      Komentar oleh M. Arief B. Ariefmas | 24 November 2011 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: