Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Ketika Lahan Pertanian sudah Ditinggalkan Generasi Muda di Desa

“Begini repotnya kalau punya anak masih bayi”

Begitu yang sering dikatakan oleh tetangga saya. Biasa kami panggil dengan sebutan Mbah War. Bukan Mbah Wo. Kalau Mbah Wo itu yang tetangga RT.
Mbah War ini umurnya hampir 70 tahun. Tiap hari minggu, selalu datang ke kandang puyuh saya. Membawa beberapa bagor / karung plastik, ikut mengambil kotoran puyuh untuk pupuk di lahan tegalan milik Mbah War. Biasa memang hari minggu menjadi hari jadwal pembersihan kotoran puyuh.

Tiap-tiap kali Mbah War mengangkut kotoran puyuh, dan kemudian langsung dibawa ke lahan tegalan yang lumayan jauh. Kondisi jalan juga terjal setapak. Dengan badannya yang mulai renta, tiap mengangkut pupuk kotoran puyuh itu juga Mbah War nyebut / berkata: “Begini kalau punya anak masih bayi.

Kadang kami ikut tertawa. Bukan menertawakan. Tapi ikut tertawa kecut. Sebab kami tahu, anaknya Mbah War paling kecil saja sudah kelas 3 SMK. Masa masih dibilang bayi?

Tentu saja bukan bayi lagi dalam arti yang sebenarnya. Tapi sindiran, yang jika didengar anaknya. Harusnya merasa. Sengkring sengkring… Begitu. Sudah dewasa kok dibilang bayi.

Begitulah kenyataan atau fenomena yang terjadi pada masyarakat pertanian di desa saya. Mbah War hanyalah salah satu contoh dari hampir semua warga desa yang mencari hasil dari tanah tegalan untuk bercocok tanam. Generasi muda sudah banyak yang meninggalkan lahan pertanian. Jangankan ikut menggarap. Membantu orang tuanya pun tidak mau. Sehingga dibilang oleh orang tuanya: “Masih bayi.

Fenomena yang musti diterima. Manakala lahan pertanian. Terutama di desa saya, oleh generasi muda sudah dianggap tidak bisa menjadi lahan penghasilan yang praktis dan mencukupi. Walaupun memang jika dihitung-hitung dengan analisa usaha. Seperti sekedar “njejer upo dowo.” Menanam, untuk kemudian diambil hasilnya agar mencukupi di waktu yang lebih panjang. Alias impas. Bahkan kalau boleh saya bilang tombok. Jika dihitung dengan tenaga dan waktu yang terpakai.
Maklum saja, lahan tegalan di desa saya adalah lahan tadah hujan. Padi hanya sekali. Setelah itu palawija, seperti singkong, kedelai, atau umbi-umbian yang lain. Seberapa hasilnya, bisa dikira-kira. Setelah hasil panen, diperhitungkan dengan beli bibit, pupuk, tenaga garap, membersihkan rumput yang ikut tumbuh, tenaga panen, dll. Belum lagi jika terserang hama.
Karena itu wajar juga jika generasi muda selanjutnya dengan kebutuhan yang semakin beraneka, lebih memilih disebut bayi, dan meninggalkan lahan pertanian, yang memang terhitung tandus, kritis, dan kering. Tinggal orang-orang tua yang hampir renta, masih lanjut didorong semangat sudah tradisi, menggarapnya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Ya benar masih ada satu dua generasi muda yang mempeng terjun ke lahan pertanian seperti itu. Tapi di sekitar saya, bisa dihitung dengan jari.

Kebanyakan generasi muda terus larinya ke kota, kerja apa saja, yang penting langsung ada hasilnya. Ada keringat, ada uang. Tidak perlu menunggu berlama-lama sampai musim panen, yang kadang panennya didahului hama. Mulai dari wereng, uret, sampai kera ekor panjang. Begitulah kondisi alam desa, di sekitar saya.

Bagi generasi muda yang tidak merantau ke kota, lantas bikin usaha. Jual sapi, jual tanah, jual kayu. Lantas ada yang minta dibelikan truk, ada yang minta disewakan tempat untuk buka konter hape, ada yang milih menggelar dagangan pakaian dari pasar ke pasar, dan masih banyak lagi hal serupa. Intinya memilih meninggalkan lahan pertanian yang kian tipis menjadi harapan memenuhi kebutuhan.
Apakah memang demikian yang disebut dengan kemajuan? Bisa jadi iya. Ketika pola pikir sudah berubah, yang dulu cukup dengan menumpuk padi di lumbung, sekarang lebih memilih menumpuk tabungan di rekening bank. Itu jika sempat menabung. Tidak keduluan habis untuk sumbangan.

Begitulah. Sekarang banyak generasi mudai pilih menjadi bayi, daripada keringatan mencangkul di tengah tegalan diterpa sinar matahari yang garang.

– – – – – – – – – – – –
Artikel ini saya publish juga di kompasiana dengan judul yang berbeda.

25 November 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: