Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Kena…..!! [cerita mini]

“Sudah siap semuanya?” Suara berat seorang lelaki yang terhitung belum begitu tua, dari luar kamar terdengar.

“Sudah siap, Ki. Beres.” Jawab seorang muda di dalam kamar. Bersama dua pemuda lainnya hampir satu jam menyiapkan ubo rampe, syarat-syarat untuk suatu ritual. Sepertinya mereka sudah terbiasa.

Grendel pintu kamar bersuara, dibuka sendiri oleh laki-laki yang berwibawa dan terlihat angker. Melangkah masuk pelan-pelan, menghampiri perlengkapan ritual yang dipersiapkan sedari tadi.

Sejenak masih berdiri, laki-laki setengah baya itu berkomat kamit sebentar, setelah berdehem baru berujar: “Tutup pintunya!”.

Setelah pintu tertutup, lelaki setengah baya itu duduk bersila di depan ubo rampe ritual yang segera akan dimulai.

“Kalian bertiga kesini. Bakar kemenyan di tiga arah!” Ujar laki-laki setengah baya itu lagi.

Terlihat mereka sudah biasa melakukan ritual itu. Sudut timur, barat, selatan. Masing-masing duduk seperti menutup semua tiga arah mata angin. Semua membakar kemenyan. Walaupun seperti sudah hapal, namun ketegangan terlihat di raut wajah mereka.

Asap kemenyan mengepul dari tiga anglo yang sudah demikian menggunung. Sedikit gemetar, lelaki setengah baya mengeluarkan bungkusan kain putih dari saku bajunya. Dari saku yang satunya lagi dikeluarkan selembar foto. Tergambar seorang laki-laki yang masih terhitung muda, berdiri gagah di sebelah sepeda motor.

Foto itu diletakkan dahulu, disandarkan di bibir mangkuk berisi air. Bening.
Kemudian laki-laki setengah baya bermata tajam itu membuka bungkus kain putih.
Mengambil suatu benda dari bungkusan yang sudah terbuka.
Dipegang dengan hati-hati, dari kejauhan terlihat seperti sebentuk batu. Namun sebenarnya ada guratan-guratan yang menggambarkan wajah dengan mulut bertaring, rambut berumbai-rumbai seperti api. Itulah pusaka Mbah Bungkus, begitu biasa disebut.

Kemudian diletakan menghadap foto yang tadi tergambar seorang gagah di samping sepeda motor. Berbagai bunga dan syarat-syarat lain seperti candu juga, ditebar di sekitar mangkuk berisi air, foto, dan Mbah Bungkus.

Dalam posisi bersila, laki-laki setengah baya itu memejamkan mata, mengucap mantera yang entah apa bunyinya. Kedua telapak tangannya menengadah, kemudian bersedekap, berulang-ulang dengan pelan-pelan.
Gerak bibirnya semakin cepat dan semakin cepat. Keringat menetes di kening. Bajunya sudah basah. Udara bercampur dengan bau kemenyan memenuhi ruangan.

Sampai klimak gerakan tangan juga semakin cepat. Tiba-tiba kamar dengan eternit yang rapat, jendela juga tertutup, berhembus semilir angin dingin, entah dari mana arahnya. Hanya sekejap.

Laki-laki tua dengan keringat membasahi tubuhnya, membuka matanya. Kedua tangan memegang lutut masih bersila. Muka agak mendekat ke mangkok, ditiup pelan. Lantas kembali posisi semula, tangan bersedekap. Memejamkan mata lagi dan merapal mantera dengan cepat.
Tiga pemuda di tiga arah mata angin dengan tekun menjaga kemenyan jangan sampai padam.

Beberapa saat kemudian laki-laki setengah baya itu membuka matanya.
Menarik napas dalam-dalam, dan berucap hampir tak terdengar: “Kena….!”

Entah kapan kejadiannya. Yang jelas air bening di dalam mangkuk itu, sudah berubah berwarna merah… Darah.

– – – – – – – – – – – – – –

Dalam waktu hampir bersamaan, seseorang mengendarai sepeda motor, laki-laki dengan wajah yang ada dalam foto proses ritual tadi, melaju tidak begitu kencang di Jalan Patriot, pinggiran kota. Menyalip sebuah truk yang berjalan tidak begitu kencang juga. Entah terpeleset oli, atau pasir, tidak jelas penyebabnya, sepeda motor tiba-tiba terjatuh ketika tengah-tengahnya menyalip. Brakkk….!! Kecelakaan terjadi. Bersama sepeda motornya masuk kolong truk yang sedang melaju.

– – – – – – – – – – – – – –

Hari berikutnya di sebuah koran cetak lokal, di kolom peristiwa kota, memberitakan: “Kecelakaan maut terjadi di Jalan Patriot. Korban pengendara sepeda motor tewas seketika. ……..”

– – – – –
Cerita mini ini saya publish juga di Fiksiana Kompasiana.

3 Desember 2011 - Posted by | Catatan Saya | , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: