Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Menulis sebagai Tokoh Imajiner

Beberapa hari di Kompasiana, ada satu hal yang juga menarik perhatian. Yaitu apa yang selanjutnya kalau boleh saya sebut sebagai tokoh imajiner. Tokoh atau sosok ciptaan penulis, dimana menjadi corong si penulis.
Untuk itu, seolah-olah penulis bilang ke pembaca: Tidak perlu tahu siapa saya, saya ya ini yang sedang Anda hadapi, yang tulisan-tulisannya sedang anda baca.

Tidak perlu kiranya menelaah lebih jauh, kenapa perlu memakai tokoh imajiner untuk menutupi jati diri penulis yang sesungguhnya.

Yang mana hal itu ndak perlu dibahas. Oleh karena itu suka-suka kakek. Ndak ada gunanya nanya-nanya siapa kakek. Yang mana baca saja tulisan kakek.

Bisa jadi seperti itu maksud penulisnya. Sehingga kita dalam membacanyapun, berdialognya dengan si tokoh imajiner.
Bisa jadi lagi penulisnya tidak bermaksud sembunyi dibalik tokoh yang diciptakan. Sebab lagi-lagi bisa jadi, penulisnya merasuk sebagai tokoh imajinernya. Tentu harus menjiwai dan menghilangkan karakter asli si penulis, cliing…. Berubah wujud dalam menulisnya sebagai tokoh imajiner yang diciptakan.

Hahahahahahahahahahahahahahahaha……………….
Secara politis, tidak ada yang perlu diperdebatkan dan dianalisa. Praktis saja. Tapi jika mau tahu. Wani piro…..
Hahahahahahahahahahahahahahahaha……………….

Bagaimana? Sadar tidak sadar, kita juga ikut terseret berhadapan dengan tokoh imajiner itu. Ikut menjiwai, bahwa tulisan yang kita baca adalah tulisan dari tokoh imajiner, bukan hasil karya penulis dibalik tokoh tersebut.

Di situlah yang menarik perhatian saya. Kita, yang menulis, bahkan bisa terlupa sebagai diri sendiri. Setelah merelakan diri diseret oleh arus tokoh hasil imajinasi sendiri.

Bolehlah sebagai tokoh yang lain, fenomena akun @poconggg di Twitter. Coba jika foto profilnya diganti dengan foto asli si penulis. Bisa-bisa serasa garing. Mungkin juga basi.
Atau pakaian badut tanpa memakai kepala badut. Tentu tidak lucu lagi, walaupun sudah berusaha tertawa dengan gerakan melucu, saya kira tetap akan garing dan mungkin juga basi.

Tentu yang menjadi pokok dari penciptaan tokoh imajinasi adalah penjiwaan. Sejauh mana diri yang asli bisa menjiwai tokoh yang diciptakan. Dalam hal tulis menulis, saya kira karakter penulisan yang berangkat dari kepribadian penulis sudah luntur. Diganti dengan karakter kepribadian tokoh imajiner yang diciptakan untuk kemudian bertutur tulis (kata ganti bertutur kata).

Sayapun ingin mencoba berlatih membuat tokoh imajiner itu. Walaupun mungkin kalau saya belum bisa menghilangkan model atau bentuk tulisan berganti menjadi model hasil tulisan tokoh imajiner. Mungkin karena tulisan saya belum berbentuk ya? Alias belum menemukan jati diri karakter penulisan.

Eksperimen saya ini otomatis juga bikin akun kloningan. Sebab dimungkinkan juga siapa tahu tokoh-tokoh imajiner yang saya amati, ternyata punya akun asli. Mungkin.

*mikir tokoh imajinernya pakai nama apa ya 🙂
*terus biar terverifikasi, scan id card pake yang akun asli, diterima admin tidak ya.
*coba ah…

– – – – – – – – – –
Tulisan ini sudah saya publish di kompasiana

6 Desember 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: