Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Ada IBLIS Dibalik Hujatan, Penghinaan, dan Pelecehan Terhadap Islam dan Nabi Muhammad [termasuk blog beritamuslim]

Kita tidak perlu terlalu kuatir terhadap hujatan-hujatan tersebut, karena itu hanya menunjukkan sifat paranoid dari musuh-musuh Islam.

Tidak ragu lagi bahwa muslimin dengan pemahaman benar, dengan pemahaman yang telah diwariskan oleh pendahulunya yakni Rasulullah shallallahu’alaihi wasalaam beserta sahabat Beliau, telah kenyang dengan berbagai tuduhan, fitnah, gelaran-gelaran yang jelek, dan lain sebagainya, yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam. Baca lebih lanjut

11 Januari 2010 Posted by | Unduh dari media online | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Komentar

Lelucon Besar Jadikan Ahmadiyah Agama Baru di Indonesia

KESRA– 29 MEI: Dialog tentang Ahmadiyah yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-Selandia Baru di Canberra pekan lalu memandang usul sementara pihak agar Ahmadiyah menjadi agama tersendiri di luar Islam sebagai “lelucon besar dalam sejarah bangsa Indonesia”. “Mengusulkan Ahmadiyah menjadi agama tersendiri di luar Islam, sebagaimana dilontarkan beberapa pihak di Indonesia, adalah lelucon besar dalam sejarah bangsa. Demikian benang merah yang bisa diambil dari diskusi publik ini,” kata Ketua Panitia Diskusi, Moh. Yasir Alimi, kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Rabu. Diskusi tentang Ahmadiyah yang berlangsung di kampus Universitas Nasional Australia (ANU) Canberra 23 Mei lalu itu merupakan puncak dari serangkaian acara yang diselenggarakan PCI-NU Australia-Selandia Baru untuk memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, katanya. Dalam dialog bertema “Our Mosque is Burned Down”: Constitution, Faith and One Hundred Years National Awakening” (Masjid Kami Dibakar: Konstitusi, Kepercayaan dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional” itu, muncul perbedaan pandangan di antara peserta Muslim yang hadir dalam menyikapi isu Ahmadiyah ini.

“Meski ada perbedaan pendapat di banyak tempat, para aktivis Islam yang hadir sepakat bahwa dalam penanganan kasus Ahmadiyah, pendidikan dan dialog diperlukan,” kata Yasir, yang juga ketua panitia peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional PCI-NU ini. Dialog interaktif yang berlangsung di ruang “Extension Building” ANU itu menghadirkan kalangan Ahmadiyah dan non-Ahmadiyah sebagai pembicara utama. Di antara pembicara utama tersebut adalah Kiai Syarif Usman Yahya (ulama senior dari Cirebon, Jawa Barat), Dr.Nadirsyah Hossen (dosen hukum Universitas Wollongong yang juga Syuriah PCI NU Australia-Selandia Baru), serta Bagus, Musa dan Helen Musa (Ahmadiah). Baca lebih lanjut

17 September 2008 Posted by | Unduh dari media online | , , , , , , , , , , | 2 Komentar