Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Sistem Leasing Mungkinkah Diterapkan Pada Kemitraan Ternak Puyuh ?

Bagi yang bermodal, tentu bukan menjadi masalah untuk memulai beternak burung puyuh petelur. Demikian juga bagi yang bisa mencari pinjaman di perbankan juga tidak masalah dengan modal [ hanya saja untuk pinjaman bank ini next post akan saya bahas tersendiri ].
Namun bagaimana apabila ada peminat dan memang ingin sekali beternak puyuh yang tidak bisa menjalankan usaha karena terkendala modal ?

Pada pertemuan kelompok yang dihadiri bapak-bapak dari PT Peksi Gunaraharja beberapa saat lalu ( Pak Pramono, Pak Anang, Pak Wiwid, Pak Tomi ), sempat sedikit banyak menyinggung atau memberikan wacana kerjasama dengan pihak perbankan untuk permodalan bagi para peternak yang membutuhkan. Tentu saja dengan jaminan.
Reaksi yang muncul dari para peternak tentu saja menolaknya. Dengan pertimbangan pokok tentu saja karena ribet. Wacana yang ditawarkan salah satunya adalah pembayaran sistem transfer via rekening bank, dimana angsuran sekalian dipotongkan dari tabungan peternak yang merupakan pembayaran hasil peternak dari PT. Hal tersebut tentu saja menyusahkan. Sebab di sini berbicara dengan banyak kalangan yang tentu saja malas untuk antre berpanjang-panjang, padahal kebutuhan sangat mendesak (upamanya). Tidak perlu membicarakan ATM.

Pertimbangan lain dari peternak yang rata-rata menolak selain ribet, tentu saja ada bunga kalau pinjaman itu dari bank. Namun alasan yang ini kurang begitu kuat.

Akhirnya pembicaraan mengenai wacana tersebut tersimpulkan : peternak menolak.

Namun kemudian saya pikir-pikir lebih lanjut. Sebenarnya ide tersebut sangatlah penting untuk ditindaklanjuti. Hanya saja memang memerlukan pembahasan yang lebih jauh lagi dan lebih mendetil. Yang intinya agar terjadi keseimbangan.

Di lain pihak saya “agak” mencurigai jika ada sedikit beban yang disangga oleh PT Peksi Gunaraharja. Beban tersebut jelas berkaitan dengan piutang yang diberikan kepada peternak. Selain beban piutang yang disangga oleh PT, tentu saja beban lain adalah “resiko”. Akibat dari “resiko” tersebut, pada tahun 2009 saja (berdasar informasi PT Peksi Gunaraharja) ada bedeb sejumlah lebih dari Rp 1 Milyar.
Maksudnya bedeb adalah piutang yang dipinjamkan ke peternak berupa pinjaman pakan, namun peternak tersebut berhenti usahanya karena sebab dan lain hal. Tidak masalah apabila peternak tersebut berhenti dengan melunasi pinjamannya. Namun tidak sedikit dari peternak yang berhenti ternyata meninggalkan utang kepada PT PEksi Gunaraharja bahkan berjuta-juta per-peternak.
Tentu bukan lagi menjadi beban yang enteng untuk disangga PT.

Untuk itu demi keseimbangan, pada postingan kali ini saya ingin membahas hal tersebut. Maksudnya keseimbangan tentu saja diantaranya meminimalkan resiko piutang yang dibawa kabur peternak, dan pihak PT akan mendapatkan pembayaran dengan cara tunai.

Hanya pemikiran sederhana saja dari saya, bagaimana jika sistem leasing diterapkan pada kemitraan ?

Sistem leasing yang dikenal tentu saja leasing yang berkaitan dengan pembelian dengan cara kredit pada sepeda motor. Akan tetapi leasing tersebut diterapkan pada kemitraan budidaya burung petelur.

Penjabaran sistem leasing tersebut demikian :

  • Jaminannya berupa aset puyuh yang telah direkomendasi pihak PT.
  • Peternak mengangsur kepada leasing.
  • Seleksi ketat terhadap peternak yang mengajukan leasing dengan tanggung jawab penuh oleh kelompok dengan jaminan uang fee milik kelompok, baik fee telur maupun fee pakan.
  • Pemberian dana tidak berupa uang dari leasing, tapi pemakaian pakan yang dipakai peternak dibayar oleh leasing dan tercatat sebagai pinjaman.
  • Mulai pengangsuran disesuaikan dengan mulainya puyuh memberi hasil keuntungan ( di atas dua bulan ).

Keuntungan dari sistem leasing tersebut :

  1. Pihak PT mendapatkan pembayaran secara tunai, jadi tidak lagi menyebar piutang yang terbukti beresiko tinggi
  2. Pihak peternak yang kekurangan atau tidak punya modal bisa menjalankan usahanya
  3. Pihak leasing tentu saja bisa mengembangkan modalnya.

Tentu saja sistem leasing tersebut beresiko tinggi juga terhadap leasing yang bersangkutan. Ada resiko akibat dari disengaja dan resiko akibat tidak disengaja.

Resiko yang timbul dari kesengajaan tentu saja karena kenakalan peternak.

Dan resiko yang tidak disengaja adalah karena kendala penyakit pada puyuh yang mengakibatkan kematian massal atau berhenti totalnya produksi telur.

Resiko yang pertama bisa ditanggulangi dengan seleksi ketat baik dari kelompok ternak yang bertanggungjawab ditambah rekomendasi PT. Namun bagaimana bila yang terjadi adalah karena sebab di luar kesengajaan yang tentu saja puyuh milik peternak tidak bisa berproduksi dan otomatis tidak bisa mengangsur ?

Bisa jadi pemecahannya adalah apkir cepat. Dimana puyuh bermasalah yang diapkir tentu saja menjadi milik leasing. Yang artinya pembayaran dari PT untuk pembelian puyuh apkir dini tadi langsung diserahkan pada leasing. Untuk ini memang perlu pengawasan baik dari pihak PT,  pihak leasing, dan pihak kelompok peternak.

Masalah berat yang selanjutnya adalah : Adakah yang mau menjadi leasing ternak puyuh ? ? ?

[gambar diambil dari email FFO] 

Iklan

25 Juli 2011 - Posted by | Catatan Saya, Dunia Puyuh | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: