Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Kisah Telaga Buatan : Wujud Kepedulian Kepala Desa Terhadap Kebutuhan Warganya

Telaga buatan, adalah telaga yang sengaja dibuat. Tentu bukan telaga alami atau telaga tiban. Sekedar prolog dari postingan ini saja mengenai pengertian telaga.

Gunung Kidul, sebut saja South Mountain adalah termasuk wilayah Indonesia bagian selatan yang berbatasan dengan samudera (Samudera Hindia ya ? buka peta saja…). Berada dalam lingkup Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Hadiningrat). Ke selatan terus menyeberangi laut, akan sampai di Kutub Selatan, kalau tidak salah itu Benua Arktik ya (liat peta lagi aja…).

Sebagai wilayah Indonesia bagian selatan, pertahanan militer keliatannya tidak begitu diperhatikan, lha tidak pernah ada patroli, entah kalau ternyata banyak Polairud yang bersliweran di Samudera sana, kan gak keliatan kalau dari daratan. Tapi dengan pertahanan alami (bukan mengandalkan dijaga Kanjeng Ratu Kidul), infiltrasi militer asing lewat wilayah selatan dimungkinkan tidak akan mampu masuk Indonesia. Wah, kenapa malah mbahas itu, kan sudah menjadi kewajiban militer mempertahankan negara. Dan hari gini ya gak mungkin ada infiltrasi fisik yang mau menjajah negara to 🙂

Kembali ke Gunung Kidul…. Daerah yang sebenarnya sangat kaya air dengan sungai bawah tanah, telaga bawah tanah, atau mungkin danau bawah tanah: karena merupakan pegunungan karst yang bawahnya berongga-rongga, namun….. kenyataannya Gunung Kidul secara umum merupakan dataran yang termasuk kategori gersang dan tandus (kecuali beberapa wilayah). Nah… desa saya termasuk wilayah kabupaten Gunung Kidul.

Air.. Air menjadi barang yang mahal di sini. Dengan mayoritas penduduk ber-profesi sebagai petani, mulai dari bercocok tanam sampai memandikan sapi, semuanya membutuhkan air. Tidak masalah kalau sedang musim penghujan. Lha kalau sedang musim kemarau ? Apakah sapi-sapi kesayangan akan dibiarkan bulukan ? Tentu tidak. Apakah menanam tembakau tidak disiram air ? Tentu memakai air. Barangkali mandi juga pakai air ? Tentu saja.

Cerita jaman dulu era tahun 1970-an dan 1980-an, para orang tua- tua di sini: “daerah kita ini kaya akan telaga”. Lho? Pada kemana telaga-telaga yang dulu katanya banyak?
Entahlah bagaimana para ahli akan menerangkan, tapi kenyataannya telaga-telaga itu beberapa diantaranya sudah hilang. Mungkin karena pendangkalan, mungkin karena di sekitarnya sudah tidak ada pohon-pohon besar yang menghambat pengikisan air, atau mungkin penunggu telaga yang gaib-gaib itu sudah hengkang ?? 🙂 Entahlah.
Intinya, telaga menjadi hal penting untuk aktivitas warga yang mayoritas adalah petani. Yang bukan petani pun juga memanfaatkan untuk pemancingan, atau sekedar bersantai-santai di pinggir telaga.

Untunglah kami mempunyai Kepala Desa yang untuk masa-masa sekarang sangatlah dibutuhkan: pengertian dan pemahamannya serta kepeduliannya terhadap apa yang dibutuhkan warganya.

Entah bagaimana perjuangan beliau hingga terwujud sebuah telaga buatan yang banyak sekali membawa manfaat untuk warga, semoga mendapatkan berkah dan doa tulus yang berkesinambungan tak putus-putus.
Kini para warga bisa memandikan sapi dengan leluasa, menanam tembakau juga tidak kawatir lagi perlu mengangkut air dari rumah. Terima kasih Pak Lurah 🙂

Iklan

14 Juli 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: