Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

George Aditjondro: Kraton = Kera Ditonton. Lho?

Pagi ini membaca koran cetak yang lebih beredar lokal, saya tertarik dengan HLnya. Aditjondro Menghina Kraton, demikian yang menjadi judul Head Line koran tersebut.

Gambar foto pemberitaan juga menampilkan George Aditjondro dengan tulisan:

“Kraton Yogyakarta jangan disamakan dengan Kerajaan Inggris, Kraton Yogyakarta hanya sekadar Kraton, Kraton itu ya kera ditonton.”

Ditambah keterangan:

“Diucapkan George saat menjadi pembicara diskusi publik Membedah Status Sultan Ground/Pakualaman Ground dalam Keistimewaan Yogyakarta Rabu (30/11) di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian UGM”

Tentu saja Forum Masyarakat Yogyakarta dalam pemberitaan menyebutkan, menggeruduk Mapolda melaporkan pernyataan George Aditjondro sebagai penghinaan.

Tidak begitu menyoal berita selanjutnya bagaimana Sri Sultan HB X sementara adhem ayem saja, namun pernyataan George memang serasa nylekit, atau menusuk perasaan. Utamanya terkait rasa kedaerahan dalam lingkup nasionalisme. Dimana rasa memiliki atas simbol daerah, jika kraton boleh disebut sebagai simbol daerah, dikatakan sebagai kera ditonton.

Menarik memang, namun jika mengingat bagaimana George Aditjondro dulu pada ramainya kasus Century lantas menyusun buku Gurita Cikeas. Perkataannya itu anggap saja angin lalu. Tidak berpengaruh dan tidak mempengaruhi apapun.

Memang ada tuntutan permintaan maaf. Hanya bagaimana jika dari George sendiri upama tidak ada sambutan. Berarti pernyataannya sendiripun bisa jadi dianggap sambil lalu, seperti ngomyang atau meracau. Begitu saja kok ditanggapi. Mungkin hanya guyon, walau dirasa kebablasen.

Lain lagi dengan yang kebakaran jenggot alias langsung keras bereaksi. Mungkin rasa terhina kedaerahannya menyulut kemarahan yang harus diungkapkan. Kraton dikatakan sebagai kera ditonton, memang menimbulkan banyak penafsiran. Menyamakan sebagai binatang kera, bisa ditafsirkan dari kata kraton baik bangunan sampai penghuni-penghuninya. Mulai dari raja sampai abdi dalem. Mulai kekuasaan di dalam kraton, sampai penguasaan atas tanah-tanah yang berstatus Sultan Ground. Seolah dianggap sebagai kera. Walaupun toh dalam istilah bahasa jawa ada ungkapan “kethek sepranggok” atau segerombolan kera. Yang tentu saja tidak ditujukan untuk kraton dan seluruh penghuninya.

Pernyataan George barangkali tidak akan begitu memancing reaksi apabila diungkapkan dalam forum terbatas. Hanya saja kali ini dalam forum publik yang bersifat umum juga. Dalam diskusi mengenai Sultan Ground, atau tanah-tanah yang dikuasai oleh kraton.

Terlepas dari pernyataan tersebut, seperti di depan rumah saya saja, hanya sekitar 100 meter persegi merupakan tanah SG. Ada lagi yang lebih luas, bahkan satu pedukuhan dengan ratusan KK menempati Sultan Ground. Sehingga hak kepemilikan atas tanah merupakan Hak Guna Usaha.

Sebenarnya jika menyoal pertanahan di wilayah DIY, kalau tidak salah ingat dari pelajaran yang dahulu pernah berkesempatan, pemberlakuan UUPA di DIY adalah yang terakhir bisa diterapkan. Mungkin karena perlu menyesuaikan dengan peraturan pertanahan oleh Kraton dan Pakualaman. Yang bahkan sepertinya sepanjang pantai yang membentang di wilayah selatan DIY, adalah Sultan Ground.
Mengapa didiskusikan?

Dalam pemberitaan tersebut hanya menekankan pada pernyataan George Aditjondro yang seolah menyengat. Lebih jauh tidak menyinggung tentang isi diskusi di Fakultas Teknologi Pertanian, bagaimana hasil diskusinya.
Jika ingin menyorot tanah kepemilikan kraton, saya juga mengharap dibedah juga di dekat saya saja ada tanah kepemilikan yang tidak jelas pengurusannya. Namun pengalihan hak kepemilikannya, berdasar cerita orang-orang tua yang masih ada, menyisakan sejarah kurang baik dalam prosesnya waktu itu.
Entahlah bagaimana… Rakyat kecil tahunya hanya mengabdi pada negara dan bangsa. Bersama-sama menjadi pelaku sejarah, untuk menjadi catatan di masa depan.
– – – –

Artikel ini saya publish juga di Kompasiana

Iklan

2 Desember 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , , ,

Belum ada komentar.

Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: