Ariefmas's Weblog

Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya

Menggugat “35 Penulis Paling Cerdas”

Sebenarnya kurang tepat pada judul postingan ini memakai kata “menggugat”. Secara tersirat, ada kesan saya tidak terima dengan daftar 35 penulis paling cerdas di Kompasiana itu. Walaupun barangkali memang tidak terima, namun lebih menjurus pada “menganalisa” atau membahas saja.

Menganalisa bisa berarti pula seakan-akan mencoba memahami. Dan untuk memahami maksud kenapa, apa, dan bagaimana latar belakang membikin daftar 35 penulis cerdas, ternyata tidak diperkenankan oleh penulisnya. Dinikmati saja, katanya.

Postingan ini memang membicarakan sebuah tulisan di blog kroyokan, yang dinamakan Kompasiana.
Sebagai anak asuhnya Kompas.Com, memang Kompasiana cukup berhasil menjadi ajang sosmed, sosial media jurnalisme warga. Bahasa kerennya Citizen Journalism.
Saya sarankan untuk anda yang belum menulis di Kompasiana, jangan coba-coba menulis di sana. Konon menurut isu, admin Kompasiana memakai ilmu pelet dari Nyi Pelet. Sehingga siapapun yang coba-coba masuk ke Kompasiana, susah mau keluar lagi. Apalagi senyumnya admin di PP, bikin gerah kalo nggak nulis. (it’s joke). Hehehehe….

Kenapa saya seolah tidak terima, kemudian menggugat dan membahasnya di sini. Kenapa juga tidak di forum blog kroyokan Kompasiana.
Tentu saja akan saya sampaikan nanti. Yang jelas tulisan tersebut lumayan bikin heboh juga. Berbagai tanggapan bermunculan, rata-rata juga tidak terima dengan daftar yang telah beliau buat atas 35 penulis paling cerdas di Kompasiana. Bahkan banyak yang telah berpengalaman menulis buku dengan penerbit-penerbit terkemuka, tidak masuk daftar. Atau, yang tulisan-tulisannya sering masuk menjadi headline dengan pengunjung harian sampai ribuan, atau malah ratusan ribu, juga tidak dimasukkan dalam daftar 35 penulis cerdas. Bahkan saya kira banyak juga profesi-profesi elit dan atau tingkat akademisi doktoral, mungkin juga profesor, tidak dicantumkan dalam 35 penulis paling cerdas.
Tentu saja banyak yang kebakaran jenggot. Biarpun tidak punya jenggot. Hehehehe….
Admin Kompasiana pun sepertinya juga tidak suka. Dibuktikan antara lain dengan tidak di-share di twitter. Kalo yang pembaca paling cerdas, malah di-twit.
Memang fenomenal.

Sebelum pembahasan berlanjut, jelas level kecerdasan saya di bawah sang penulis. Dibuktikan salah satunya dengan bagaimana saya tidak bisa memahami maksud penulisan. Ada apa ini?
Oh iya, penulis tersebut memakai nama Ma Sang Ji, dan tulisan yang saya ‘rasani’ di sini adalah, silahkan klik ini: inilah 35 penulis paling cerdas. Jika penasaran lho..

Sebenarnya agak segan mau lanjut membahas. Tapi tidak apalah, didasari pada kedangkalan pemikiran saya saja.

Yang pertama, tulisan tersebut tidak disertai latar belakang pemikiran. Istilah ilmiahnya tanpa ada riset yang lazim untuk suatu konklusi.

Yang kedua, penulis cerdas bisa dimungkinkan menjadi tag pencarian di search engine. Dengan kekuatan alexa Kompasiana yang 3 ribuan dan pagerank-nya 6, cukup memperkuat tag pencarian “penulis cerdas”.

Walaupun tidak menjamin nangkring di urutan 1 halaman 1 Google, tapi bagi pencari yang membutuhkan informasi, bisa menganggap daftar 35 penulis paling cerdas adalah kebenaran.

Yang ketiga, bisa bikin nggak enak hati bagi satu atau sebagian yang masuk daftar 35 penulis cerdas. Apalagi buat yang status akademis, pengalaman kepenulisan, maupun kualitas tulisannya berbanding jauh dengan master-master penulis di Kompasiana yang tidak dimasukkan daftar.

Yang keempat, parameter cerdas menurut selera penulis tidak dicantumkan. Biarpun upama tidak dengan latar belakang riset ilmiah, namun apabila dicantumkan, saya kira tidak akan begitu heboh. Istilahnya, memaklumi sebagai selera pribadi.

Yang kelima, penulisan judul sedemikian meng-klaim bersifat umum, tanpa diberi lanjutan “menurut saya”.

Lalu kenapa ini saya tulis di luar forum blog kroyokan Kompasiana?
Salah satu sebabnya adalah nggak enak hati. Penulis ndeso dengan status peternak, tanpa pengalaman menulis di surat kabar maupun menyusun buku pengetahuan atau fiksi, apalagi dilihat dari segi akademisi, kok dimasukkan dalam 35 penulis paling cerdas. Aneh, super aneh. Semoga tidak karena error.

Tapi salut dan saya semakin mengagumi beliau Ma Sang Ji dengan tulisan-tulisannya yang cantik. Coba kalau saya yang menulis 35 penulis paling cerdas, boro-boro ditanggapi, paling pada HL, alias Hanya Lewat.

Ditunggu perkembangannya mau ada apa lagi.

Salam semangat menulis.

ARTIKEL TERKAIT: Bagaimana Cara Menjadi Penulis Cerdas.

10 September 2011 - Posted by | Catatan Saya | , , , , , , , , ,

2 Komentar »

  1. he..he..
    Mas Arief jadi number one saat googling dengan kata kunci “penulis cerdas”,
    Bisssssssssaaaaaaaa ajjjaaaa !

    salam bahagia dan terus menulis

    Komentar oleh aridhaprassetya | 11 September 2011 | Balas

    • Wah, iya. Tapi di urutan 3 😀
      Trima kasih kunjungan dan komentarnya, Mbak.

      Mohon maaf untuk Mbak Ma, saya nulisnya di luar forum Kompasiana. Semoga beliau berkenan.

      Salam bahagia
      Salam menulis.
      Ini semua karena Kompasiana.

      Komentar oleh M. Arief B. Ariefmas | 11 September 2011 | Balas


Dipersilakan mohon Komentar di SiNi [trima kasih]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: